Penyair Nusantara Warnai Pekan Kebudayaan Aceh Barat 2016

Para penyair berfoto bersama Prof. Dr. Abdul Jadi WM dan R. Ace Sumanta di acara Pekan Kebudayaan Aceh Barat 2016 (dok. KM)
Para penyair berfoto bersama Prof. Dr. Abdul Jadi WM dan R. Ace Sumanta di acara Pekan Kebudayaan Aceh Barat 2016 (dok. KM)

ACEH BARAT (KM) – Bupati Aceh Barat Dr. HT. Alaidinsyah mengundang para penyair Nusantara dalam rangka merayakan Pekan Kebudayaan Aceh Barat 2016. Acara tersebut telah dibuka pada tanggal 27 Agustus lalu dan berlangsung sampai dengan 31 Agustus 2016.

Acara tersebut juga merupakan launching buku antologi puisi Nusantara berjudul “Pasi Karam”. Sebanyak 163 penyair yang di undang dari dalam maupun luar negeri hadir di Meulaboh, Aceh Barat, seperti penyair Singapura Anie Dien, dari Malaysia Nelson Dino, dan penyair dari Rusia Victor Pogadaev. Hadir pula sastrawan dan budayawan Bogor R. Ace Sumanta yang diundang dan puisinya masuk dalam buku antologi Pasi Karam. Ia membacakan 3 puisi berjudul “Gerimis Tiba”, “Tertidur”, dan “Perahu Berlayar”. Hadir juga penyair dari Propinsi Banten, Jakarta, Depok, Lampung, Medan, Kepulauan Riau, hingga Jawa Tengah, Jawa Timur, dan dari Banda Aceh tidak kurang dari 80-an penyair datang dari keseluruhan 163 penyair yang diundang.

“Aceh Barat kaya dengan ragam budaya khazanah bangsa, kini telah redup oleh pengaruh global. Atas nama pemerintah, kami menganggap masalah ini bagian yang sangat penting diperhatikan, maka dengan dukungan elemen masyarakat, melalui kegiatan ini, kami berupaya agar generasi kita ke depan, benar-benar merasa bangga dengan budaya sendiri, dan mencintai ke-Acehannya,” papar Alaidinsyah.

Advertisement

Kesuksesan acara digelar berkat kerjasama BAPPEDA, DiSBUDPAR, Dewan Kesenian di dukung penuh Bupati Aceh Barat. Menurut Teuku Dadek selaku pemrakarsa dan Ketua DKAB Antologi, tema umum tidak selalu fokus pada peristiwa tsunami tanggal 26 Desember 2004 silam. Peristiwa tersebut menandai sekaligus menggugah rasa simpati dan solidaritas tinggi masyarakat dunia. Ternyata Teuku Dadek adalah salah satu korban selamat karena berada di mesjid Nurul Huda, sedangkan ibunya hilang.

Menyusul bencana tersebut, Meulaboh terhitung sangat cepat dalam pembangunan insfrastruktur, mentalitas, pendidikan dan rumah dan tempat usaha yang telah luluh lantak dihantam ombak, dengan bantuan lembaga kemanusiaan dan NGO (non-governmental organisation) dalam dan luar negeri. “Begitu juga bantuan negara-negara dunia, juga pemerintah daerah yang ada di Indonesia mendukung moral, mental, dan lain-lain,” tambah Bupati Aceh Barat.

“Saya sangat bangga, karya saya  bisa lolos dan datang ke Aceh Barat dalam acara temu penyair nusantara di dalam acara Pekan Kebudayaan Aceh Barat,” ujar Ace kepada KM. (Dian Pribadi)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: