IBF 2016 Tekankan Pentingnya “Branding” bagi Usaha Keluarga

Indonesian Business Forum 2016 deklarasikan
Indonesian Business Forum 2016 fokuskan Branding bagi usaha keluarga Indonesia (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Sejak dimulai tahun 2013, Indonesia Brand Forum (IBF) dirancang bukan hanya sebagai sebuah ajang konferensi branding tahunan, namun sebagai sebuah gerakan untuk mengingatkan bangsa Indonesia dari berbagai latar belakang mengenai pentingnya membangun branding atau merek.

Hal itu dijelaskan oleh konsultan pemasaran dan Managing Director Inventure Indonesia, Yuswohady. “Itu sebabnya setiap penyelenggaraan IBF selalu pekat spirit nasionalisme dan Ke-Indonesiaannya. Brand disini bisa berupa produk (Product Brand), perusahaan (Corporate Brand), orang (Personal Brand) atau bahkan negara (Country Brand).”

Menurutnya, membangun branding dalam bisnis merupakan salah satu komponen penting dalam memajukan negara. “Kami di IBF meyakini brand adalah alat perjuangan yang ampuh dalam bangsa ini untuk menjadi negara besar dan disegani dalam dunia. Amerika besar karena punya Coca Cola, Starbucks atau GE, Jepang besar karena punya Sony, Toyota atau Canon. Korea Selatan besar karena Samsung, Hyundai atau KIA. Nah, untuk menjadi negara maju baru Indonesia juga harus melahirkan brand-brand yang diperhitungkan di tingkat dunia,” terang Yuswohady.

Setiap tahunnya, IBF memiliki tradisi mengeluarkan deklarasi untuk “mengingatkan bangsa ini mengenai sebuah urgensi nasional tertentu”. Sesuai dengan tema IBF 2016, “Branding Family Business For The Nation: Lestari dari Generasi ke Generasi”, IBF tahun ini mengeluarkan deklarasi bertema “Family Inc: Kolaborasi dan Sinergi Nasional Menuju Indonesia Besar.”

Advertisement

Sesuai dengan deklarasi tersebut, fokus pembahasan IBF kali ini berkenaan dengan perusahaan keluarga.

“Kita tidak bisa lepas dari peran dan kontribusinya yang sangat strategis bagi perekonomian Indonesia. Lebih dari 95% perusahaan yang ada di Indonesia dimiliki oleh keluarga, menurut riset PWC 2014. Total kekayaan mencapai USD 134 Milyar atau sekitar 25% dari PDB (Produk Domestik Bruto -red) Indonesia. Dan sekitar 40.000 orang terkaya di Indonesia adalah pemilik perusahaan keluarga,” lanjut Yuswohady.

Acara forum brand ini dihadiri oleh para pengusaha seperti Presiden Direktur PT. Martina Berto, Bryan Tilaar, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Organda Ivan Kamajaya serta Direktur Utama PT. Widjajatunggal Sejahtera (Sintesa Group), Shinta Widjaja Kamdani.

Diantara tantangan di masa depan yang akan dihadapi oleh pengusaha Indonesia adalah masuknya investor asing, khususnya menyusul program Masyarakat Ekonomi ASEAN yang membuka kran terhadap masuknya bisnis dan profesional asing.

Lalu bagaimana dampaknya hal tersebut terhadap perkembangan perekonomian di Indonesia, yang tentunya akan menjadi persaingan bisnis bagi para pengusaha?

“Kami akan fokus pada aturan-aturan yang sudah ditetapkan pemerintah, dari situ kami akan menentukan langkah apa yang harus diambil untuk ke depan dalam menghadapi ekonomi global,” jelas Shinta Widjaja. (Indra Falmigo)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d bloggers like this: