Dinilai Membahayakan Masyarakat, LSM GMBI Siap Bongkar Tower BTS

Warga berjalan dekat galian proyek pembangunan BTS di desa Cogrek, Kemang, Bogor (dok. KM)
Warga berjalan dekat galian proyek pembangunan BTS di desa Cogrek, Kemang, Bogor (dok. KM)

BOGOR (KM) – Polemik keberadaan menara Base Transceiver Station (BTS) di jalan Gotong Royong Desa Cogrek, Kecamatan Parung, akhirnya berbuntut panjang. Penolakan demi penolakan dari masyarakat kembali bermunculan dan saat ini datang dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI).

Menurut GMBI, keberadaan Tower sangat dekat dengan pemukiman dan sangat membahayakan kesehatan masyakarakat yang tinggal di bawahnya.

Koordinator wilayah utara LSM GMBI, Pana mengungkapkan, keberadaan tower menara BTS tentu  akan menimbulkan medan gelombang radio elektromagnetik yang dipancarkan dari menara telekomunikasi tersebut.

“Seharusnya pembangunan tersebut berjarak 100-200 meter dari pemukiman warga apalagi ini sekolah. Jika terlalu dekat, itu sama saja membahayakan kesehatan bahkan nyawa manusia,” papar Pana.

Pana menerangkan tidak akan ragu melakukan pembongkaran BTS  bila masyarakat yang keberatan serta melakukan penolakan melapor ke pihaknya, karena lebih mengedepankan harkat asas orang banyak daripada kepentingan pengusaha dan pemilik lahan.

“Sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat saya tak setuju dan menolak keras kalau radiusnya hanya beberapa meter dan membahayakan keselamatan,” tukasnya.

Kadisdik Bogor: “BTS Nggak pengaruh”

Debat pembangunan menara BTS yang itu membawa pro dan kontra dan kali ini datang dari kepala Dinas Pendidikan kabupaten Bogor yang beranggapan bahwa keberadaan menara BTS tidak ada yang perlu diperdebatkan.

Advertisement

Kadisdik Luthfie Syam berpendapat meskipun keberadaan menara BTS yang hanya berjarak sepuluh meter dari Sekolah SDIT dan PAUD Yayasan Al Faataah, namun hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan.

Menurut Kadisdik, pembangunan BTS itu sudah pasti telah melakukan berbagai uji kelayakan dan kajian teknis sehingga tidak akan berbahaya. Apalagi, lanjutnya, jika BTS untuk gelombang radio yang hanya berkekuatan skala kecil.

“Itu kan DC, dan tak apa-apa kok. Terkecuali kalau pembangunan menara sutet,” ujarnya.

Pria berkumis lebat ini juga menilai bahwa segala persiapan serta langkah antisipasi sudah dilakukan oleh pengusaha maupun pemilik menara, namun bila ada peristiwa selain itu akan terkait dengan bencana alam.

“Adapun hal yang tidak diinginkan terkait musibah (petir, red) itu merupakan bencana alam,” kelakarnya.

“Proyek pembangunan itu kan memakan anggaran miliaran, investor pasti sudah menyiapkan keamanan terkait hal yang tidak diinginkan,” tutupnya. (ids)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*