Bidik Penyalahguna Wewenang dan Peraturan Merugikan, Warga Bogor Dirikan Ormas “Gemapeli”

Pendiri ormas Gemapeli saat deklarasi di Bogor, 29/8 (dok. KM)
Pendiri ormas Gemapeli saat deklarasi di Bogor, 29/8 (dok. KM)

BOGOR (KM) – Sejumlah tokoh masyarakat Bogor mendirikan organisasi kemasyarakatan (ormas) “Gerakan Masyarakat Peduli Indonesia” alias Gemapeli dengan tujuan “melawan krisis kepercayaan, krisis narkoba, krisis korupsi dan berbagai krisis lainnya”. Ormas yang bergerak di bidang kontrol sosial itu didirikan oleh 9 warga Bogor dari berbagai latar belakang dengan Asdar sebagai Ketua Umumnya, Frans Samosir sebagai Sekretaris jenderal dan Nelson sebagai Bendahara.

“Berbagai elemen masyarakat ini beritikad untuk melakukan sebuah gerakan perbaikan yang diharapkan dapat mengurangi dampak krisis tersebut,” kata Frans Samosir.

“Pembaktian diri ini diharapkan dapat memberikan solusi bagi masyarakat secara luas yang selama ini mengalami masalah dari dampak krisis itu dan juga dapat memberikan masukan pada para pemangku jabatan, pemangku amanah, pemangku kepentingan,” lanjutnya.

Adapun masukan yang dimaksudkan oleh sekjen Gemapeli itu untuk perbaikan perilaku dari para oknum yang selama ini dinilai atau diduga telah menyalahgunakan jabatan dan wewenang.

Menurutnya, terbitnya beberapa Undang-undang dan peraturan di tingkat nasional maupun daerah yang “terindikasi berpihak pada kaum kapitalis” sangat merugikan masyarakat secara umum.

“Sebagai contoh, undang-undang yang mengatur penghidupan lampu kenderaan roda dua pada siang hari. Ini sangat jelas tidak ada fungsinya bagi pengendara atau pengguna jalan lainnya, dan memang hanya menguntungkan produsen bola lampu tersebut,” ketus Frans.

Ia juga menuding bahwa pada pelaksanaannya sering menjadi lahan pungli bagi oknum petugas di lapangan.

Advertisement

“Misalnya saja, bola lampu sepeda motor tiba-tiba putus dan kemudian dihentikan oleh petugas di lapangan. Secara otomatis si pengguna kendaraan tidak akan tau jika bola lampunya sudah putus karena keadaan saat itu adalah siang hari, namun oleh petugas razia tetap dianggap kesalahan dan melakukan tilang. Padahal, mati atau hidupnya lampu itu tidak berguna sama sekali bagi pengendara di siang hari karena keadaan masih terang.”

Selaim masalah peraturan, pendiri Gemapeli juga menuding bahwa penyalahgunaan wewenang dan jabatan sering terjadi oleh oknum-oknum tertentu. “Dalam hal melaksanakan tugas ada banyak oknum yang melangkahi undang-undang. Tentu hal ini akan merugikan masyarakat secara luas. Selain itu, penerbitan undang-undang maupun peraturan sering menjadi lahan oknum tertentu. Ini yang menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat pada pemerintah dan oleh sebab itulah, Gemapeli berdiri,” jelasnya.

“Krisis Narkoba, krisis Korupsi itu terjadi akibat kebohongan dari para oknum. Dan untuk memberantas itu semua, anak bangsa harus malu berbohong. Dengan malu berbohong, secara otomatis budaya kejujuran akan terbangun dan hasilnya krisis tersebut akan teratasi,” ujar Frans menambahkan.

Adapun untuk membantu masyarakat, pihaknya berharap agar masyarakat memberikan informasi, baik itu berupa data, gambar dan lain-lain, agar dapat ditindaklanjuti oleh Gemapeli. (Li/Hero)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*