Abaikan Keselamatan, Renovasi SMPN 1 Mauk Bahayakan Siswa

Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar dan proyek renovasi SMPN 1 Mauk, Kab. Tangerang yang dianggap mengancam keselamatan siswa (dok. KM)
Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar dan proyek renovasi SMPN 1 Mauk, Kab. Tangerang yang dianggap mengancam keselamatan siswa (dok. KM)

TANGERANG (KM) – Proyek penambahan ruang kelas (PRK) di SMP Negeri 1 Kabupaten Tangerang di Kecamatan Mauk dianggap tidak mengindahkan keselamatan siswa-siswinya. Pasalnya, pengerjaan proyek bernilai Rp. 1 miliar lebih itu tepat berada di atas kelas murid-murid yang sedang melakukan kegiatan mengajar belajar (KBM).

Kekhawatiran para orang tua siswa sudah sangat dirasakan, dengan ungkapan kekesalan mereka tentang keberadaan proyek tersebut yang tidak menggunakan pagar pengaman pembatas seperti seng dan dianggap   mengancam keselamatan anak-anak mereka.

Ditambah lagi dengan anggapan oleh orang tua siswa bahwa pihak sekolah enggan berupaya segera menegur CV Ela Gemilang sbagai pelaksana proyek penambahan lima ruang lokal sekolah tersebut.

Ketika dikonfirmasi oleh wartawan Kupas Merdeka tentang keselamatan murid-muridnya, kepala sekolah Rusmiati mengatakan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dulu dengan pihak dinas pendidikan dan pihak CV Ela Gemilang, “walaupun proyek tersebut sudah berjalan hampir dua minggu.”

Pihak pelaksana proyek pembangunan, Bayu, ketika dipertanyakan oleh KM tentang papan proyek yang belum terpasang sesuai aturan tentang keterbukan informasi publik (KIP) pasal 18 Tahun 2004, mengatakan bahwa pihaknya masih belum diberi papan proyeknya oleh dinas Cipta Karya, “dan kami akan memintanya.”

Advertisement

Namun keterangan tersebut dibantah oleh pihak Dinas Cipta Karya, melalui kepala bidang perencanaan pembangunan (Kabid RAB) Kosim, yang mengatakan bahwa pihaknya akan segera memanggil CV Ela Gemilang  dan mengintruksikannya “agar segera dipasang  papan proyek tersebut.”

Sementara  itu dari hasil investigasi Kupas Merdeka di lapangan, ketika mempertanyakan kembali pada pihak pelaksana proyek tersebut tentang aturan RAB yang diduga telah dilanggarnya dengan menggunakan sebagian bahan kayu-kayu bekas sebagai penopang penyanggah pengecoran, Bayu pun terdiam dan bahkan diduga hasil proses bahan untuk pengecoran tersebut menggunakan dengan sistem alat manual tanpa menggunakan alat molen modern, hingga dikuatirkan pondasi bangunan proyek tersebut akan rapuh. (Muklis/MN/BN)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*