Pelaku Teror Nice Seorang Warganegara Perancis Asal Tunisia, Penyendiri dan Tidak Religius

French police secure the area as the investigation continues at the scene near the heavy truck that ran into a crowd at high speed killing scores who were celebrating the Bastille Day July 14 national holiday on the Promenade des Anglais in Nice, France, July 15, 2016. © Eric Gaillard / Reuters
French police secure the area as the investigation continues at the scene near the heavy truck that ran into a crowd at high speed killing scores who were celebrating the Bastille Day July 14 national holiday on the Promenade des Anglais in Nice, France, July 15, 2016. © Eric Gaillard / Reuters

(KM) – Mohamed Lahouaiej Bouhlel, itulah nama sang pelaku teror Nice yang melindas kerumunan warga yang sedang merayakan Hari Bastille di kota Nice, Perancis, Jumat (15/7) dinihari waktu setempat, menewaskan setidaknya 84 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya, 54 diantaranya anak-anak. Fakta-fakta tentang identitasnya diungkap oleh Jaksa Paris Francois Molins kepada awak media, seperti yang dilansir oleh media setempat iTele.

Setelah pihak kepolisian akhirnya berhasil melumpuhkan penyerang itu, mereka melakukan pencarian pada truk yang digunakan oleh pelaku dan menemukan sejumlah dokumen identitas yang beratasnamakan Mohamed Lahouaiej Bouhlel, seorang warganegara Perancis kelahiran Tunisia.

Aparat bersenjata lengkap kemudian melakukan pencarian di sebuah apartemen di Nice dimana Lahouaiej beralamat, namun tidak menemukan senjata maupun bahan peledak. Tim ahli setempat menyita sebuah komputer untuk keperluan investigasi.

Jaksa Francois Molins juga menambahkan bahwa pihaknya telah memastikan kembali identitas pelaku melalui pemindaian sidik jarinya, meneaskan kembli bahwa pelaku memang seorang yang bernama Mohamed Lahouaiej.

Warga sekitar Lahouaiej menyatakan kepada surat kabar Nice Matin bahwa Lahouaiej merupakan seorang penyendiri yang tidak pernah menyapa atau menjawab sapaan tetangganya. Tetangga sebelahnya di apartemen yang bernama Sebastien mengatakan bahwa Lahouaiej tidak tampak seperti seorang yang religius dan terkadang keluar mengenakan celana pendek dan terkadang memakai sepatu bot.

“Dia seorang pria tampan yang suka menatap kedua putri saya,” ucap salah seorang tetangga lainnya.

Advertisement

Mohamed, seorang tetangga lainnya lagi, mengatakan bahwa Lahouaiej “sudah cerai atau dalam proses perceraian dengan tiga orang anak,” dan menambahkan bahwa pelaku serangan itu bersikap “sangat gugup akhir-akhir ini”.

Kantor berita Reuters juga menambahkan bahwa menurut salah satu tetangga lainnya, Hanan, Lahouaiej tampak seperti seseorang yang “menyenangkan bagi wanita… tapi dia menakutkan. Bukan mukanya yang menakutkan, tapi dia mempunyai sebuah tatapan (aneh). Dia sering menatapi anak-anak.”

Menurut surat kabar tersebut, Lahouaiej diperkirakan tiba di Perancis pada tahun 2000-an. Setahun setelah ia sampai, ia terlibat dalam sebuah kecelakaan lalu lintas yang berbuntut penahanannya oleh kepolisian Perancis.

Media setempat menambahkan bahwa mantan istri Lahouaiej sudah ditahan oleh pihak kepolisian untuk tujuan penyelidikan.

Otoritas negara asalnya, Tunisia, mengkonfirmasi bahwa pelaku serangan Nice berasal dari kota Msaken, di utara Tunisia, dan menambahkan bahwa sang pelaku tidak diketahui memiliki pandangan radikal atau ekstrim.

Kota Nice, Perancis kini berduka setelah sebuah serangan yang disebut sebagai “serangan pembunuhan terburuk dalam sejarah kota” itu. Setelah pelaku menabrak kerumunan orang dengan menggunakan truk, pelaku dilaporkan berkendara sejauh 2km sebelum akhirnya pihak kepolisian menembaknya mati. Sejumlah senjata dan granat ditemukan di dalam truk tersebut. (HJA/RT)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*