Aparat Pemerintah Kabupaten Bogor Saling Tuding Terkait Sampah

Tumpukan sampah menutup saluran air (dok. KM)
Tumpukan sampah menutup saluran air (dok. KM)

BOGOR (KM) – Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 2 Tahun 2014 Pasal 65 menentukan bahwa pelaku pembuang sampah liar dapat dikenakan sanksi pidana maksimal kurungan enam bulan atau denda uang setinggi-tingginya sebesar Rp 50 juta. Kendati demikian, beberapa titik lokasi tumpukan sampah nampak menggunung. Seperti di sepanjang saluran Kali Cidepit, Desa Pasir Gaok Kecamatan Rancabungur Kabupaten Bogor.

Kepala Desa Pasir Gaok, Saifudin mengaku angkat tangan terkait tumpukan sampah di beberapa titik di wilayah kerjanya. Pasalnya, sampah tersebut disinyalir kiriman sampah rumahan.

“Kita bingung membersihkannya bagaimana. Meski kerja bakti tapi tidak bisa mengatasi semua,” tuturnya kemarin 3/7.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Bogor, Asep Suhendi meminta ketegasan aparat penegak Perda Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bogor, maupun Satpol PP kecamatan. “Tugas dan fungsinya penegak perda,” ucapnya.

Asep enggan berkormentar terkait permasalahan di Kabupaten Bogor. Ia meminta agar menanyakan kepada Kepala DKP. “Sekretaris tidak boleh mengeluarkan apa-apa, kecuali dinas,” elaknya.

Advertisement

Sementara itu, Kabid Riksa Satpol PP Kabupaten Bogor, Agus Ridho mengklaim intitusinya telah melakukan upaya penindakan terhadap pembuang sampah liar.

“Jadi kita sudah tindak berdasarkan Perda Nomor 4 tahun 2015 tentang ketertiban umum,” imbuhnya.

Di tempat berbeda, akibat sampah liar, warga di wilayah Kecamatan Kemang dan Parung Kabupaten Bogor geram. Menanggapi hal tersebut, beberapa papan peraturan daerah dipasang oleh pemerintah desa. Salah satunya Desa Kemang, Kabupaten Bogor.

“Tujuannya agar masyarakat paham dan tidak lagi buang sampah sembarangan,” tutur Kepala Desa Kemang Entang Suana.

Hal senada diungkapkan Kepala Desa Pondok Udik Entis Sutisna. Pihaknya juga melakukan hal serupa dalam upaya pembenahan lokasi sampah liar tersebut.

Pemerintahan desa menyulap lokasi sampah menjadi lahan bersih. Seperti, ditanami pohon dan lokasi rutin kerja bakti. “Upaya ini bisa jadi salah satu contoh untuk masyarakat,”cetusnya. (irfan/ale)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*