15 Ribu Orang Ditahan, 60 Ribu Dipecat Pasca Kudeta Gagal Turki

Prajurit berjaga saat Perdana Menteri Turki Binali Yildirim (kiri) mengunjungi markas satuan operasi khusus kepolisian Turki di Ankara, Turki 22/7 (dok. AFP)
Prajurit berjaga saat Perdana Menteri Turki Binali Yildirim (kiri) mengunjungi markas satuan operasi khusus kepolisian Turki di Ankara, Turki 22/7 (dok. AFP)

(KM) –  Menteri Dalam Negeri Turki Efkana Ala mengatakan bahwa otoritas Turki telah menahan lebih dari 15 ribu orang, termasuk 10 ribu tentara, menyusul kudeta gagal pada 15 Juli lalu. Dirinya juga mengatakan bahwa sebanyak 8,113 orang telah ditahan secara formal, menunggu proses peradilan.

Selain itu, otoritas Turki juga telah mengeluarkan surat perintah penahanan terhadap hampir 50 jurnalis yang bekerja untuk surat kabar Zaman, yang dikaitkan dengan Fethullah Gulen, tokoh oposisi Turki yang kini dalam pengasingan di Pennsylvania, Amerika Serikat. Pemerintah Turki menuding Gulen merupakan sosok yang berada di balik upaya kudeta gagal itu yang memakan ratusan korban jiwa dan melukai ribuan lainnya.

Media lokal Turki melaporkan bahwa pemerintah Turki berencana memecat sebanyak 21,000 guru sekolah privat yang diyakini memiliki keterkaitan dengan gerakan Gulen. Hingga kini, sekitar 60,000 hakim, polisi, guru dan pegawai negeri sipil telah diberhentikan dari pekerjaan mereka.

Menteri Energi Turki, yang juga menantu Erdogan, Berat Albayrak, mengatakan juga bahwa Dewan Militer Tertinggi (YAS) sudah berencana untuk mencopot semua perwira militer yang memiliki kaitan dengan Gulen sejak sebelum upaya kudeta itu, sehingga tindakan otoritas Turki tidak semata-mata sebagai reaksi terhadap upaya kudeta.

“Mereka sudah berencana mengambil langkah-langkah penting untuk menyingkirkan para perwira dan jenderal Gulenis dari tubuh angkatan bersenjata. Kami memang sudah merencanakan ini,” katanya, seraya menambahkan bahwa “pembersihan” itu sudah direncanakan akan meliputi juga orang-orang di dalam tubuh sistem peradilan dan institusi lainnya.

Advertisement

Pihaknya menuding bahwa figur-figur “Gulenis” telah berhasil menyusupi susunan perwira tinggi dan menengah di dalam tubuh militer secara besar-besaran.

Di sisi lain, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan bahwa “pembersihan” yang dilakukan oleh pemerintah Turki masih belum usai dan pihaknya masih akan melakukan pengejaran dan penahanan terhadap para individu pendukung kudeta gagal itu.

“Investigasi masih berlanjut. Ada orang-orang yang sedang dicari. Mungkin akan ada penahanan dan penangkapan baru,” ucap Yildirim kepada kanal berita Sky News pada Rabu 27/7.

“Proses ini masih belum usai,” tambahnya.

Sang Perdana Menteri juga mengatakan bahwa pemerintah Turki bersikukuh akan memperjuangkan ekstradisi Gulen. “Kami telah membagikan semua rincian dengan mereka (pemerintah AS – red) dan kini, keputusannya berada di pihak pemerintah AS,” tambahnya.
Yildirim juga menegaskan kembali bahwa pemerintah Turki berencana menerapkan kembali hukuman mati bagi para perencana kudeta itu.
“Ini adalah suara yang kita dengar di semua alun-alun… Turki adalah negara yang berdemokrasi. Kami dipimpin oleh demokrasi dan ada permintaan dari bangsa kita. Kami tidk bisa mengabaikan itu,” ucapnya.

Sebelumnya, organisasi Uni Eropa telah memperingatkan kepada Turki bahwa mereka akan memblokir upaya Turki untuk bergabung di UE apabila hukuman mati diterapkan kembali. Kritikan juga terus berdatangan dari UE berkaitan dengan proses “pembersihan” yang dikhawatirkan rawan pelanggaran HAM.

Namun, Turki juga menyerukan agar UE tidak ikut campur dalam urusan dalam negerinya. (HJA/Presstv)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*