Yang Kaya Semakin Kaya: 1% Manusia Menguasai Hampir Separuh dari Kekayaan di Dunia

Perkampungan kumuh di Nairobi, Kenya, Afrika (dok. Reuters)
Perkampungan kumuh di Nairobi, Kenya, Afrika (dok. Reuters)

(KM) – Sebuah laporan yang dirilis oleh lembaga konsultan perekonomian Boston Consulting Group kembali mengungkap bahwa orang kaya menjadi semakin kaya, dan orang miskin semakin miskin. Hanya satu persen dari populasi manusia di muka bumi merupakan jutawan (dalam mata uang dolar AS) atau lebih, dan kekayaan mereka terus bertambah.

Sebelumnya, pada Januari 2016, lembaga amal internasional Oxfam juga merilis laporan yang serupa, yang menyatakan bahwa 62 individu terkaya di dunia memiliki kekayaan sebanyak setengah dari populasi dunia, sedangkan 1% dari populasi dunia memiliki kekayaan yang sama dengan 99% populasi dunia digabungkan.

Laporan Boston Consulting Group itu menyatakan bahwa sekitar 18,5 juta rumah tangga di dunia memiliki aset netto minimal sebesar 1 juta dolar AS, bertotal 78,8 triliun dolar AS, hampir sebesar seluruh penghasilan ekonomi global per tahunnya.

Angka tersebut sama dengan 47% dari aset keuangan seluruh dunia (obligasi, saham, uang tunai dan deposito). Secara keseluruhan, total kekayaan dunia bertambah sebesar 5,2% menjadi $168 triliun.

Advertisement

Pada tahun 2013, diperkirakan kekayaan 1% orang-orang terkaya di dunia sebesar 45 persen dari aset keuangan seluruh dunia. Bertambahnya proporsi kekayaan mereka semakin menimbulkan kekhawatiran semakin membesarnya kesenjangan global.

Negara dengan jutawan terbanyak di dunia adalah Amerika Serikat, dari mana 8 juta jutawan berasal, diikuti oleh Tiongkok sebanyak 2 juta jutawan, dan Jepang sebanyak 1 juta. Negara-negara terkaya per kapita adalah Swiss dan Lichtenstein, keduanya surga pajak dunia.

 

Seiring bertambahnya kekayaan para jutawan, surga pajak lepas pantai pun semakin diminati pada tahun 2015, dengan bertambahnya jumlah setoran lepas pantai sebesar 3 persen menjadi 10 triliun dolar AS.

Isu surga pajak lepas pantai menjadi sorotan dunia ketika bocornya Panama Papers pada April 2016 lalu. Orang-orang terkaya di dunia menempatkan uang mereka di surga pajak lepas pantai seperti di Swiss dan Lichtenstein untuk menghindari dari terkena pajak, dalam praktek yang disebut pengemplangan pajak. (HJA)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*