Petinju Legendaris Muhammad Ali Wafat, Mike Tyson: “Tuhan Menjemput JuaraNya”

Muhammad Ali (dok. Twitter)
Muhammad Ali (dok. Twitter)

(KM) – Ungkapan simpati membanjiri internet menyusul wafatnya sang petinju legendaris Muhammad Ali (w. 74), diantaranya dari atlit-atlit, selebritas dan fans mengungkapkan belasungkawa mereka atas kepergian mantan juara dunia tinju kelas berat itu.

Setelah Ali meninggal dunia dari komplikasi pernafasan pada Jumat malam (3/6) kemarin, sahabat dan lawan tinjunya dari pertandingan terkenal “Rumble in the Jungle”, George Foreman mencuit bahwa sebagian dari dirinya telah meninggalkannya, dan Ali adalah “bagian terhebat” dari dirinya.

Seorang legenda tinju lainnya, Mike Tyson juga mengungkapkan belasungkawa mendalam atas wafatnya Muhammad Ali, mengatakan bahwa “Tuhan telah menjemput juaranya… Sampai jumpa, orang hebat.”

Selain Tyson, ikon-ikon tinju dunia juga mengenang sang legenda Muhammad Ali, termasuk juara kelas berat masa kini, Tyson Fury dan juara kelas menengah Gennady Golovkin. Legenda tinju Oscar De La Hoya juga tidak lupa untuk mengenang saat-saatnya bersama Muhammad Ali.

Di luar dunia tinju, atlit lainnya juga mengambil momen untuk mengingat kebesaran Muhammad Ali, seperti legenda bola basket NBA, Scottie Pippen, yang mengatakan bahwa Ali adalah “Juara dari semua juara”.

Selain atlit, politisi juga ikut mengucapkan belasungkawa mereka, seperti Perdana Menteri Inggris David Cameron, yang mengatakan bahwa “Ali bukan saja seorang juara di ring tinju, tapi ia juga seorang juara (memperjuangkan) hak-hak rakyat sipil, dan seorang teladan bagi banyak orang.”

Netizen pun banyak yang mencuitkan kutipan-kutipan Muhammad Ali yang terkenal dengan kepintarannya menggoda lawannya. Salah satu kutipan yang terkenal adalah “apabila anda bermimpi mengalahkan saya, sebaiknya anda bangun dan meminta maaf!”

Advertisement

Selain mengenang aksinya sebagai legenda tinju, Muhammad Ali juga terkenal dengan perjuangannya yang gigih untuk hak-hak rakyat Amerika Serikat yang berkulit hitam. Pada masa perang Vietnam, Ali pernah dimasukkan dalam draf militer AS untuk ikut berperang, namun Ali menolaknya karena dirinya menganggap bahwa tidak masuk akal bagi pemerintah AS “menjatuhkan bom dan peluru-peluru kepada orang-orang di Vietnam, sedangkan orang berkulit hitam di Louisville diperlakukan seperti anjing.”

Ali mengungkapkan dalam sebuah wawancara dirinya enggan untuk “pergi 10,000 mil dari rumah untuk membantu membunuh dan membakar bangsa miskin lainnya hanya untuk melanjutkan dominasi orang-orang kulit putih atas orang-orang berkulit gelap di seluruh dunia.”

Penolakannya tersebut berakibat dicabutnya gelar juara dunia dari Muhammad Ali dan ia menghadapi tuntutan kriminal oleh kejaksaan AS, yang menjatuhkan hukuman penjara 5 tahun atasnya. Namun hal itu tidak menggoyang komitmennya terhadap memperjuangkan hak-hak rakyat kulit hitam.

“Hati nurani saya tidak akan membiarkan saya menembak saudara saya, atau orang-orang berkulit gelap lainnya, atau orang-orang miskin dan kelaparan di atas lumpur untuk Amerika. Lalu menembak mereka untuk apa? Mereka tidak pernah menghina saya, mereka tidak pernah membakar saya, mereka tidak pernah mengirimkan anjing untuk menyerang saya, mereka tidak pernah merampas kebangsaan saya, memperkosa dan membunuh ibu dan ayah saya. Menembak mereka untuk apa? Bagaimana saya dapat menembak orang-orang miskin itu? Penjarakan saja saya,” ujar Ali dalam sebuah wawancara terkenal.

Perlawanannya terhadap perang Vietnam menjadikannya salah satu ikon anti-perang di tahun 70an, yang pada akhirnya dihentikan karena desakan populer.

Karir Ali yang gemilang sepanjang 21 tahun membuat dirinya diberi julukan “The Greatest” (yang terhebat). Ali menghembuskan nafas terakhirnya setelah melawan penyakit Parkinson yang telah ia derita selama 30 tahun. (HJ/RT)

 

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*