Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor Sayangkan Penolakan Uang Kerohiman Oleh Petani Ikan

Ketua Komisi I DPRD Kab. Bogor, Kukuh Sri Widodo (dok. BogorOnline)
Ketua Komisi I DPRD Kab. Bogor, Kukuh Sri Widodo (dok. BogorOnline)

BOGOR (KM) – Perihal penolakan para petani ikan yang tergabung dalam PPIKADP terhadap pencairan uang kerohiman sebesar Rp. 750 juta yang di berikan PT. JDG, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bogor Kukuh sangat menyayangkan tindakan yang diambil para petani ikan

“Sungguh disayangkan kenapa ditolak, ini kan bentuknya kerohiman dan tidak ada kaitan atau tidak mengikat terhadap tuntutan ganti rugi, adapun tuntutan ganti rugi terus berlanjut sampai ada ketetapan hukum yang mewajibkan PT.JDG ganti rugi terhadap para petani yang terkena dampak longsor,” kata Kukuh melalui telepon kepada Kupas Merdeka.

“Ketika tim anggota dewan termasuk saya datang kelokasi, para petani meminta kepada kita untuk menekan pihak perusahaan agar secepatnya uang kerohiman di cairkan tapi kini setelah di cairkan kenapa di tolak. Saya ini yang paling cerewet terhadap perusahaan, saya akan selalu bersama masyarakat terutama para petani ikan, mendapat hak mereka, makanya saya rekomendasikan agar meminta bantuan ke Walhi Jabar, BLH Jabar dan Kabupaten Bogor untuk investigasi ke lokasi,” tutupnya

Sikap para petani menolak pencairan bantuan uang kerohiman didasari ketidak pastian ganti rugi dari pihak PT. JDG dan mereka menilai jika menerima bantuan kerohiman, berarti mereka mengakui jika longsor di Desa Cibunian merupakan bencana alam murni. Mereka menduga kalau longsor tersebut adalah akibat dari keteledoran dalam proyek PLTM JDG.

Advertisement

“Seluruh petani ikan membuat pernyataan tertanda tangan menolak kerohiman sebelum ada kejelasan tentang ganti rugi, akan menerima bila di jadikan uang muka ganti rugi,” kata Aria Humas PPIKADP melalui BBM kepada Kupas Merdeka.

Para petani ikan menolak uang kerohiman di dasari juga belum di tanda tangani berita acara tiga point kesepakatan hasil mediasi 10 Febuari lalu oleh pihak JDG (Jhon Pantauw), karena tiga point kesepakatan ini yang diinginkan petani ikan.

“Sampai jalur mana pun, kita para petani ikan siap akan di tempuh, dan ada bahasa dari salah satu pihak perusahaan, menyakiti hati para petani yang mengatakan perusahaan dan petani ikan itu bagaikan langit dan bumi, susah lawan perusahaan. Kata-kata itu menjadi penyemangat bagi kami mendapatkan hak-hak kami, kami bersyukur dan berterimakasih kepada pak Kukuh yang terus mengawal mendampingi kami,” tegas Aria.(Dian Pribadi)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*