“BREXIT” Resmi: Inggris Memilih Keluar dari Uni Eropa dalam Referendum Bersejarah

London (dok. Reuters)
London (dok. Reuters)

(KM) – Rakyat Inggris telah memilih untuk keluar dari Uni Eropa dalam referendum nasional yang diselenggarakan Kamis 23/6 kemarin. Hasil referendum tersebut telah diumumkan siang ini dengan hasil 52% rakyat memilih untuk keluar dari UE, dan 48% lainnya memilih untuk tetap berada di UE. Menyusul kabar tersebut, mata uang Pound Sterling mengalami kejatuhan dan ketidakpastian di pasar saham.

Kampanye “Leave” yang mendukung agar kerajaan tersebut keluar dari Uni Eropa telah berhasil menarik 1.269.501 pemilih lebih banyak daripada mereka yang ingin tetap berada di Uni Eropa.

Kabar tersebut mengguncang pasar saham dari London ke Tokyo pada Jumat 24/6 hari ini sejak beberapa waktu lalu ketika media massa Inggris memprediksi kemenangan bagi “Leave“.

Mata Uang Pond Sterling mengalami kejatuhan sebesar 10%, terjauh sejak 1985, dan mata uang Euro pun ikut jatuh ke titik terendah sejak perkenalannya pada tahun 1999, sedangkan Yen Jepang mengalami kenaikan tertinggi sejak tahun 1998.

Harga minyak dunia jatuh lagi ke $47 per barel, dan harga emas melonjak seiring investor mencari investasi aman di luar pasar saham.

“Para investor hanya ingin keluar… Banyak yang salah dalam perhitungan resiko, sekarang kita melihat akibat dari semua itu,” jelas Matthew Sherwood, kepala strategi investasi di Perpetual Ltd. di Sydney, Australia, kepada Bloomberg.

Hasil referendum tersebut menuai beragam reaksi di dunia. Politisi nasionalis dan mantan capres Perancis, Marine Le Pen menyebutnya sebagai sebuah kesuksesan dan menyerukan referendum serupa di Perancis. Dirinya bahkan mengubah foto profil Twitternya menjadi bendera Inggris.

Marine menyebutnya sebagai sebuah “kemenangan bagi kemerdekaan”, dan menyerukan referendum yang sama di Perancis dan di setiap negara Uni Eropa.

Di sisi lainnya, Perdana Menteri Inggris David Cameron, seorang pendukung wacana agar menetap di UE, menegaskan bahwa dirinya akan tetap menjabat sebagai Perdana Menteri. Menlu Inggris Phillip Hammond juga mengatakan bahwa “apa yang diperlukan negara ini sekarang adalah kontinuitas dan stabilitas.”

Advertisement

Pukulan Keras Terhadap “Proyek Persatuan Eropa”

Reuters melaporkan bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa merupakan pukulan keras terhadap aspirasi para elit politik di Inggris dan proyek persatuan Eropa yang diwacanakan sejak Perang Dunia Kedua.

Referendum tersebut merupakan tahap awal dalam proses “perceraian” antara Inggris dan Uni Eropa yang akan berlangsung selama dua tahun ke depan, dan menciptakan keraguan pada nasib kota London sebagai salah satu pusat keuangan dunia di masa depan.

Namun kalangan “Euroskeptic” yang mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa mengatakan bahwa kemenangan mereka merupakan bentuk protes terhadap politisi, perusahaan-perusahaan besar dan pengaruh asing, termasuk Presiden AS Barack Obama yang meminta agar Inggris tetap di UE.

 

“Sebuah fajar baru menyingsing bagi Inggris yang merdeka,” ujar Nigel Farage, politisi Euroskeptic Inggris ketua umum Partai UK Independence (Kemerdekaan Inggris). “Ini adalah kemerdekaan bagi rakyat, kemenangan bagi rakyat kecil, kemenangan bagi rakyat yang baik… Mari kita jadikan tanggal 23 Juni sebagai hari kemerdekaan kita,” lanjutnya.

 

Ia juga menyerukan agar PM David Cameron segera mengundurkan diri setelah “Brexit” karena dia telah mengkampanyekan agar Inggris tetap di UE sejak tahun 2013.

Di dalam tubuh Inggris sendiri muncul ketidakpastian tentang nasib negara tersebut sebagai negara federal. Di Skotlandia, salah satu negara di bawah pemerintahan Inggris, 62% rakyat setempat memilih agar tetap di UE. Hasil akhir referendum tersebut memunculkan kembali wacana untuk mengadakan referendum kemerdekaan Skotlandia dari Kerajaan Inggris, setelah sebelumnya pada tahun 2014 mereka memilih dalam referendum serupa untuk tetap di bawah Kerajaan Inggris. (HJA/RT/Reuters)

 

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*