Tuntutan Diabaikan, Warga Kemirimuka Unjukrasa Proyek Tol Cijago

Warga Kelurahan Kemirimuka mendemo proyek jalan tol Cijago karena dianggap merusak lingkungan dan rumah warga (dok. KM)
Warga Kelurahan Kemirimuka mendemo proyek jalan tol Cijago karena dianggap merusak lingkungan dan rumah warga (dok. KM)

DEPOK (KM) – Warga RW 12 Kelurahan Kemirimuka Kecamatan Beji Kota Depok 3 hari yang lalu menggelar aksi damai menuntut penghentian pengerjaan proyek tol Cijago karena beberapa tuntutan warga tidak dipenuhi.

Ratusan warga terdiri dari kaum bapak, pemuda, ibu-ibu dan anak-anak menggelar aksi doa bersama dan membentangkan spanduk menuntut penghentian pengerjaan proyek Jalan Tol.

“Kami sudah berupaya melakukan langkah persuasif kepada pihak manajer proyek pembangunan jalan tol Cijago baik melalui dialog maupun secara tertulis untuk memenuhi kompensasi warga terdampak. Tapi proyek malah jalan terus dan baik dari pihak manajer proyek maupun Pemkot tidak ada yang berinisiatif ingin segera menyelesaikan masalah ini,” kata Wahyu, Ketua RW 12.

Sebelumnya warga melalui perwakilan RW telah menyurati PT Hutama Karya Infrastruktur (PT HKI) tertanggal 20 April 2016, yang isinya menyampaikan sejumlah kompensasi yang diminta warga terdampak untuk segera dibicarakan oleh pihak terkait.

Di antara tuntutan warga adalah pihak pengelola bersedia mengganti atau memperbaiki bangunan milik warga yang terbukti rusak akibat proses  pengerjaan jalan tol, membatasi jam operasional kerja (khususnya malam hari), bertanggungjawab berkurangnya ketersediaan air bersih bagi warga karena permukaan air tanah makan dalam, menyediakan jalan alternatif bagi warga dan operasional pembuangan sampah warga ke TPA dan berkomunikasi intens dengan perwakilan warga.

Surat dari warga lalu dijawab keesokan harinya oleh pihak PT HKI yang ditandangani oleh manajer proyek M Yusuf ST. MT. yang isinya pemberitahuan bahwa pengelola proyek tetap melanjutkan pekerjaan karena terkait dengan ijin kerja dari DAOPS 1 PT KAI. PT HKI juga berjanji akan memperbaiki rumah warga yang terdampak dan ikut mencari solusi pengalihan jalan alternatif bagi warga dan operasional pengangkutan sampah.

Advertisement

Warga yang berharap janji itu terealisir ternyata menemui harapan kosong. Surat dari warga menurut pihak pengelola telah diteruskan ke walikota Depok dan didisposisikan ke asisten tata praja Kota Depok namun tak ada respon setelah sepekan.

Warga RW 12 lalu sepakat menggelar aksi damai menuntut penghentian proyek. “Masalah ketersediaan air dan gangguan getaran, suara dan debu sudah kami rasakan saat ini, tapi tak ada yang peduli. Kami terpaksa melakukan aksi demo agar aspirasi kami didengar,” tambah Wahyu.

Warga juga mengancam akan menggelar aksi lebih besar dan tegas jika tuntutan mereka tidak direspon dan dipenuhi. Sementara aksi demo dikawal aparat kepolisian sektor Beji.

Proyek ruas jalan tol Cijago berjalan lebih lambat dari target yang ditetapkan. Sebelumnya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono optimistis Seksi II Jalan Tol Cinere-Jagorawi (Cijago) beroperasi pertengahan tahun 2016.

Jalan Tol Cijago Seksi I, ruas Cimanggis-Bogor Raya sudah beroperasi sejak dua tahun lalu. Seksi II, ruas Bogor Raya-Kukusan direncanakan beroperasi pertengahan 2016. Sedangkan Seksi III, ruas Kukusan-Cinere masih dalam tahap pengerjaan awal.

Untuk lokasi pengerjaan di wilayah Kelurahan Kemirimuka pengelola proyek memang mendapat dua tantangan besar yakni pembangunan underpass jalan raya Margonda dan underpass rel kereta api jalur Jakarta-Bogor. (Gie)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*