Tuduh Pemalsuan Akta Jual Beli, Notaris Dilaporkan ke Polda Maluku

Jefri Luanmase, pengacara, menggugat Notaris Rostiati Nahumarury SH atas tuduhan pemalsuan AJB di Ambon (dok. KM)
Jefri Luanmase, pengacara, menggugat Notaris Rostiati Nahumarury SH atas tuduhan pemalsuan AJB di Ambon (dok. KM)

AMBON (KM) – Awal kejadian pada tanggal 23 Februari 2011 korban Hemanus Titahena meminjam uang kepada Koperasi Serba Usaha Sumber Berkat sebesar Rp. 15.000.000 (lima belas juta rupiah) dengan kesepakatan bunga Rp. 3 juta, sehingga harus di bayar total 18 juta dalam jangka 1 bulan. Dengan jaminan SHM No. 170/1994 atas nama Leonora Paliama yang di sahkan di notaris Lidia Gosal, SH. M.Kn sesuai perjanjian pengakuan hutang, yang dibuat pada tanggal 23 Februari 2011. Hermanus Titahena tidak sanggup untuk melunasi pinjam tersebut sesuai isi perjanjian kedua belah pihak.

Pada tanggal 8 Agustus 2011 dibuatlah Akta Jual Beli oleh notaris PPAT Rostiati Nahumarury SH, No 293/2011, yang mana akta tersebut tidak diketahui oleh korban, Hermanus.

“Saya tidak pernah dipanggil menghadap di hadapan Notaris dan tidak pernah diberitahukan kepada saya sehingga  terjadi pimindahan hak kepemilikan SHM No. 170/1994 atas nama Leonora Paliama, menjadi atas nama Sulra Suyan The, sebagai pemilik Koperasi Sumber Berkat, dan jual-belikan lagi sertifikat dari Sulra Suyan The kepada Erik Patirane sesuai akta No.373/2013 tangal 29 Juli 2013. Erik Pattirane meminjam uang di PT. Permodalan Nasional Madani (Persero) sebesar 200 jt, dengan jaminan sertifikat No.170/2013 terjadi kredit macet sehingga PT Permodalan Nasional Madani melakukan pelelangan terhadap rumah dan tanah milik klien kami Hermanus Titahena di Ambon Galaksi RT 006/02 Kecamatan Sirimau kota Ambon,” jelas pengacara Hermanus, Jefri Luanmase SH.

Advertisement

Menurut Jefri, akta Jual beli oleh notaris PPAT Rostiati, No 293/2011, merupakan akta palsu, karena pada saat pembuatan akta tersebut, pihak kliennya tidak pernah dipanggil dan diberitahukan oleh notaris mengenai pemindahan hak dan jual beli terhdap sertifikat No.170/1994.

“Tanggal 09/05/2016, saya mendatangi kantor notaris yang beralamat di Jl Ayapati Ambon untuk menanyakan terkait dengan Akta Jual Beli yang dilakukan notaris, tetapi notaris Rostiati tidak menanggapi dan menjawab ke saya, ‘silakan anda laporkan saya,’ dengan nada agak keras mengusir saya dari ruangan kerjanya. Patut diduga dengan kedatangan saya selaku pengacara notaris merasa bersalah dengan akta yang dikeluarkan saya juga menyatakan Notaris Rostiati diduga telah melanggar pasal 378 KUHP pasal 263, 264 KUHP, pasal 64 jo 55 ayat 1 ke 1 KUHP, yang mengakibatkan kerugian yang di tanggung klien saya,” kata Jefri.

“Saya akan melaporkan tindakan yang dilakukan Notaris kepada klien saya ke Polda Maluku dan akan menyurati  BPN Kota Ambon, Kanwil kota  Ambon, KPKNL Kota Ambon, Majelis Pengawas Daerah, Majelis Pengawas Pusat, Ikatan Notaris Indonesia, Kementrian Hukum dan HAM karena  notaris telah melanggar pasal  69 ayat (1) UU No.30 Thn 2004 UUJN, tentang  kode Etik dan pasal 6 mengenai teguran dan Pemberhentian Notaris,” tutupnya. (putra tobing)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*