Menelisik Sejarah dan Keanekaragaman Suku Dayak di Kapuas Hulu

Seni tari suku Dayak di Kalimantan (dok. KM)
Seni tari suku Dayak di Kalimantan (dok. KM)

KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT (KM) – Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, banyak dihuni beragam etnis Dayak yang hidup dalam kelompok masing-masing dengan budaya dan tradisi yang telah berjalan lama sejak ratusan tahun bahkan mungkin ribuan tahun yang lalu.

Tim Kupas Merdeka menemui Marnu Akiban, salah seorang kepala suku Dayak Iban di Kapuas Hulu, untuk menelusuri lebih mendalam tentang ragam dan sejarah suku-suku Dayak di Kalimantan Barat.

Diduga kehadiran suku-suku Dayak di wilayah ini datang dalam 3 gelombang. Migrasi dalam gelombang pertama diperkirakan datang dari arah barat, kemungkinan berasal dari hilir Sungai Kapuas dan anak-anak sungai, seperti sungai Sekayam, Ketungau dan Sekadau.

Adapun suku-suku Dayak tersebut adalah Seberuang, Ensilat, Iban, Kantu’, Tamanik, Desa, Sekapat, Suaid, Mayan, Sebaru, Rembay, dan Ulu ai’.

Migrasi dalam gelombang kedua diperkirakan berasal dari arah timur daerah Data Purah, Apo Kayaan yang menghasilkan 3 suku Dayak yaitu Punan, Buket dan Kayaan Mendalam.

Migrasi ketiga diduga juga berasal dari timur, yaitu sungai Kayaan. Kelompok ini tidak langsung ke Kalimantan Barat, melainkan menuju sungai Mahakam kemudian menyebar ke hulu sungai Melawi. Dari hulu sungai Melawi inilah kemudian menyebar lagi ke hulu sungai Manday, sungai Suru’, dan sungai Mentebah hingga ke Kapuas.
Pada gelombang ketiga ini terdiri dari Orung Da’an, Suru’ dan Mentebah.

“Gambaran migrasi kelompok suku Dayak di Kapuas Hulu pada hakikatnya tidak bersamaan waktu penyebarannya. Misalnya Dayak Iban yang dikelompokkan pada kelompok pertama, tidak langsung ke Kapuas Hulu tetapi kelompok ini memilih Sungai Batang Rejang di Malaysia. Setelah suku ini ditaklukkan oleh raja “white” Brooke, baru kemudian melakukan migrasi besar-besaran ke wilayah Kapuas Hulu. Sedangkan kelompok Dayak Sekapat, Sebaru’ dan Desa diyakini paling terakhir menyebar di kabupaten ini” ujar Marnu.

Gambaran penyebaran ini hakikatnya masih perlu di uji dan memerlukan kajian lebih lanjut. Suku Dayak di kabupaten Kapuas Hulu atau seringkali disebut Dayak Ulu Kapuas keberadaanya sama dengan beberapa suku Dayak di kabupaten lain di Kalimantan Barat, yaitu sebagai penduduk asli pulau Kalimantan.

“Sebagai kelompok mayoritas, suku Dayak di kabupaten ini diperkirakan sudah mendiami wilayah hulu sungai Kapuas ini sejak tahun 300-an, sebelum peristiwa perang antara manusia dengan roh halus di Tanah Tampun Juah yang menyebabkan migrasi besar-besaran,” lanjutnya.

Advertisement

Beberapa subsuku yang mengisahkan tentang asal-usul mereka dari Tampun Juah adalah Dayak Kantu’, Seberuang, dan juga Rembay. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai peristiwa sejarah dan perkembangannya, misalnya perluasan wilayah Kerajaan Sintang di Selimbau dan Semitau serta masa penjajahan Belanda.

Kelompok masyarakat Dayak sebelum berdirinya panembahan-panembahan Kerajaan Sintang dan datangnya para penjajah, umumnya masih menganut agama leluhur mereka. Namun agama ini acapkali dianggap sebagai animisme, berhala, dan sebagainya. Kerajaan Sintang yang memperluas wilayah kekuasaannya dengan mendirikan panembahan-panembahan di wilayah hulu Kapuas juga menyebarkan agama Islam. Hal ini membuat kelompok suku Dayak dihadapkan pada pilihan sulit untuk menganut agama yang baru.

Agama Islam pada saat itu cukup berpengaruh seiring berdirinya kerajaan-kerajaan kecil yang berlandaskan Islam. Kelompok suku-suku Dayak dihadapkan pada pilihan, jika menganut agama Islam, kelompok suku Dayak terbebas dari perbudakan dan kewajiban membayar upeti kepada kerajaan.

Namun tanpa disadari menganut agama Islam di Kalimantan Barat selalu diidentikkan dengan Melayu. Oleh karena itu, sadar atau tidak sadar terjadi penolakan jati dirinya. Dilihat dari aspek kultural, kelompok Dayak yang telah menjadi Muslim meninggalkan kultur budayanya dan meninggalkan identitas Dayaknya, lama kelamaan sikap itu mengkristal sehingga melahirkan identitas baru yang disebut Senganan. Sedangkan yang tidak menerima Islam disebut sebagai “Dayak” yang dimaknai sebagai kelompok masyarakat pribumi Kalimantan Barat non Muslim. Saat ini masyarakat Dayak sebagian besar telah memeluk agama Kristen tetap dengan status “Dayak” nya.

“Mengenai keragaman suku Dayak di Kapuas Hulu dari hasil penelitian lapangan yang telah dilakukan di seluruh wilayah kabupaten Kapuas Hulu adalah sebagai berikut: Suaid, Kantu’, Seberuang, Kalis, Lau’, Suru’, Mentebah, Tamambalo, Ensilat, Mayan, Sekapat, Desa, Punan, Buket, Taman, Kayaan, Rembay, Sebaru’, Iban, Oruung Da’an dan Senganan atau Dayak Muslim,” ungkapnya. (budi)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*