KPAI: “Bogor Darurat Kekerasan Terhadap Anak”

Anak balita korban pemerkosaan dan pembunuhan di Cibungbulang, kabupaten Bogor (dok. KM)
Anak balita korban pemerkosaan dan pembunuhan di Cibungbulang, kabupaten Bogor (dok. KM)

CIBUNGBULANG, BOGOR (KM) – Tewasnya balita berumur 2,2 tahun setelah diperkosa di kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, menuai reaksi keras dan perhatian dari berbagai elemen. Mulai dari masyarakat, Bupati, bahkan Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mengecam keras tindak pemerkosaan dan pembunhuan anak dibawah umur itu.

Seperti yang dikemukanan ketua KPAI, Arist Merdeka Sirait, dalam sambungan telepon dengan Kupas Merdeka, mengatakan bahwa kejadian di Bogor itu menambah data panjang kekerasan di bawah umur, dan menyatakan bahwa di Bogor sudah darurat kekerasan seksual terhadap anak.

“Komnas Perlindungan Anak Indonesia, melihat kasus anak yang dibawah umur yang di perkosa di Bogor itu, bahwa Bogor darurat kejahatan seksual terhadap anak. Dari itu menunjukan Bogor berada dalam situasi waspada kejahatan terhadap anak. Karena sebelumnya di Bogor sudah banyak peristiwa kekerasan sampai meninggalnya anak. Sekali lagi Bogor dalam situasi darurat kekerasan terhadap anak,” ujar Arist Merdeka Sirait kepada Kupas Merdeka.

Aktivis asal Sumatra Utara itu juga menambahkan peran serta masyarakat juga sangat dibutuhkan sebagai pelindung. “Dengan demikian, sesuai peryataan Presiden, Pemerintah Bogor dalam hal ini Bupati Bogor segera membentuk tim reaksi cepat atas meninggalnya kasus bocah tersebut. Dan juga membuat program pemberdayaan desa yang melibatkan Desa, RT, RW, kepolisian untuk mengantisipasi jangan sampai terulang lagi kejahatan seperti yang dialami bocah di Bogor itu,” ujarnya.

Komnas Perlindungan Anak Indonesia mengharapkan pelaku dihukum maksimal, bahkan seumur hidup, “karena jelas sudah melakukan perencanaan pembunuhan dan bisa dikenakan pasal berlapis, apalagi memperkosa.”

Advertisement

“Kami akan segera  berkunjung ke rumah korban dengan mengirimkan team reaksi cepat Komnas Perlindungan Anak dalam waktu dekat ini, dan akan menghubungi keluarga korban, pihak kepolisian juga,” ujarnya.

Terpisah, Bupati Bogor dan DPRD Kabupaten Bogor menyambangi rumah duka untuk bertemu dengan orang tua korban dan keluarga korban, Kamis (12/5). Bupati Bogor turut prihatin atas kejadian yang terjadi di Kabupaten Bogor ini.

“Saya menyampaikan kepada orang tua korban dan keluarga, saya ikut prihatin,” ujarnya kepada awak media.

Yanti juga menyampaikan kewaspadaan dan antisipasi agar peristiwa hal ini tidak terjadi lagi, apalagi terhadap balita.

“Di Bogor ini waspada terhadap kejahatan seksual, dari itu kita perlu mendorong kepada semua unsur untuk berkerja sama melindungi anak-anak, hal utama kepada orang tua, agar memperhatikan anak-anaknya dan memberikan pemahaman,” katanya.

“Kita juga sudah membuat satgas yang berada di desa-desa, dan gugus di kecamatan untuk perlindungan terhadap anak dan perempuan,” ujarnya.

Yanti juga mengungkapkan dukungannya terhadap wacana Perppu hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual.

Terpisah, Ketua Dewan, Ade Ruhandi mengatakan DPRD akan mendorong semua pihak ikut berperan serta, dan bekerja sama dengan para alim ulama untuk memberikan bekal pengetahuan tentang keagamaan.

“Dan berharap agar pelaku dihukum semaksimal mungkin,” ujarnya. (Dian Pribadi)

Advertisement
Komentar Facebook

1 Comment

  1. Sangat disesalkan berita seperti ini terjadi.
    Saya juga mempunyai link berita terkini yang mungkin bermanfaat.
    Silahkan kunjungi Berita Terkini Universitas Gunadarma

1 Trackback / Pingback

  1. Polres Bogor Gelar Rekonstruksi Kasus Pemerkosaan Balita 2,5 Tahun – KUPAS MERDEKA

Leave a comment

Your email address will not be published.


*