Dituding Memeras Bright Kids Preschool, Orangtua Korban Penganiayaan Merasa Dijebak

Orangtua WT saat bertemu dengan pengacara Jefri Luanmase dan wartawan (dok. KM)
Orangtua WT saat bertemu dengan pengacara Jefri Luanmase dan wartawan (dok. KM)

JAKARTA (KM) – Melalui beberapa pemberitaand di media massa, terkait penganiayaan yang dilakukan oleh oknum guru Maria Peni Urap di sekolah PAUD Bright Kids Preschool, Jl. Pademangan 1 Gg IV no 1 Jakarta Utara, Maria diduga melakukan kekerasan terhadap anak muridnya WT (5) sehingga mengalami luka cakar dibagian kepala sebelah kiri.

Semakin memanas, kepala sekolah Bright Kids Preschool menyatakan akan menuntut balik Orang tua Korban WT terkait pemerasan pihak sekolah dengan uang yang cukup besar serta menyatakan bahwa dirinya mempunyai bukti rekaman,

Hal tersebut ditampik oleh orang tua WT yang dijumpai wartawan di kediamannya. Lina Then, ibu korban, menceritakan dari awal kejadian yang menimpa anaknya tersebut rumah nya kerap didatangi pihak sekolah dan keluarga pelaku, “sampai-sampai disaat kami tidak ada di rumah, tetangga memberikan kue bolu yang katanya titipan dari pihak sekolah, saya selalu dibujuk agar dapat menjembatani kepada suami yang saat itu tetap akan menindak lanjuti perkara tersebut ke jalur Hukum.”

“Awalnya, sebelum dilaporkan ke Polsek Pademangan, saya yang berjalan pulang ke rumah,  ketemu di gang rumah dengan kepala yayasan Narto lalu di ajak ke sekolah agar masalah ini dapat selesaikan. Sampainya disekolah, di sana sudah ada pelaku Maria, dan kepala sekolah, saya terus di bujuk untuk tidak melapor,” ungkapnya.

Advertisement

“Bahkan kepala sekolah sempat mengatakan akan menanggung biaya pemindahan sekolah dan pilih mau sekolah yang mana biar pihak sekolah yang mengurus, namun Hal tersebut tidak semudah begitu saja.”

Seminggu Kemudian  tiba-tiba Lina dihubungi via telpon meminta saya untuk Hadir ke sekolah Bright Kids Prescool. “Awalnya saya tidak curiga bang,” ungkapnya.

“Setelah saya datang ke sekolah dan disambut kepala sekolah saya memang melihat HP yang diletakkan diatas meja itu merekam,” tutupnya.

Sementara Jefrie Luanmase SH selaku pengacara korban mengatakan, “Bahwa unsur tindakan pemerasan yang disampaikan pihak kepala sekolah kepada pihak kelurga  korban, bukan merupakan suatu tindak pidana pemerasan, melainkan upaya perdamaian dan permintaan itu Pihak sekolah yang menginginkan adanya perdamaian, ini bukan merupakan usur pemerasan,” ungkap Jefri. (Putra tobing)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*