Proyek Tol Bocimi, MNC Lido Dituding Serobot Tanah Milik Warga

Proyek Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi atau Bocimi, yang tengah digarap (dok. KM)
Proyek Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi atau Bocimi, yang tengah digarap (dok. KM)

CIGOMBONG, BOGOR (KM) – Sengketa lahan di jalur proyek jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi atau Bocimi di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, kembali terjadi. Menyusul sengketa lahan antara kubu keluarga Moses dengan ahli waris dari sebidang tanah di blok Ciketug, Desa Wates Jaya, yang proses hukumnya masih bergulir, kini dua orang warga pemilik lahan di lokasi yang sama dibuat berang. Pasalnya, lahan milik keduanya diduga diserobot oleh pihak MNC Lido. Bahkan, lahan tersebut sudah dibayar oleh Tim Pembebasan lahan proyek Tol Bocimi kepada pihak MNC Lido.

Konflik ini terkuak dalam sebuah pertemuan sejumlah pihak di aula kantor Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Rabu (27/4/16) lalu. Dalam pertemuan ini, Haji Ahmad Armun warga Kampung Ciletuh, Desa Wates Jaya dan Haji Parman warga Desa Tenjo Ayu, Kecamatan Cicurug, Sukabumi, selaku pemilik lahan, difasilitasi oleh Kapolsek, Dan Ramil Cijeruk – Cigombong dan Pemerintah Desa, untuk bermediasi dengan pihak MNC Lido. Hadir juga dalam pertemuan, pihak Tim Pengadaan Tanah (TPT) sebagai perwakilan pemerintah.

Digelarnya pertemuan mediasi ini dipicu oleh kemarahan kedua warga pemilik lahan yang mengetahui lahannya yang berbentuk sawah dengan luas sekitar 7000 meter itu tiba – tiba diurug oleh pelaksana proyek jalan Tol. Usut punya usut, ternyata lahan itu telah diperjual belikan tanpa sepengetahuan mereka sebagai pemilik.

Juanda, ahli waris dari H. Ahmad Armun mengatakan, bahwa tanah tersebut benar milik orang tuanya. Kekuatannya dibuktikan dalam buku leter C desa, yang kini masih atasnama  Haji Ahmad Armun. “Sudah jelas tertulis dalam buku leter C desa masih atasnama orang tua saya. Gimana ceritanya tiba – tiba tanah kami dibayar tol kepada mnc lido tanpa sepengetahuan kami sebagai pemilik. Bahkan, saat kami mau bikin surat keterangan tidak sengketa ke desa, kepala desa tidak mau menandatangani. Kan sudah jelas kalo lahan itu bermasalah, kenapa bisa dijual belikan”, kata Juanda dengan nada kesal.

Advertisement

Kekesalan Juanda diperparah lagi dengan kondisi lahan sawahnya yang kini rusak tertutup urugan tanah yang dilakukan pelaksana proyek jalan Tol. “Gimana gak kesel dan marah, belum dibayar tau tau sawah kami dirusak begitu saja sampai kami tidak bisa  bertani”, imbuh Juanda.

Masih di tempat yang sama, Haji Parman, pemilik lahan lainnya, mengaku membeli lahan tersebut pada 28 Juni 1994. Sementara HGB MNC Lido muncul pada 2 Oktober 1995. “Silahkan anda pelajari data tersebut agar bisa menilai siapa yang lebih berhak atas bidang tanah itu. Apalagi saya belum pernah menjualnya kepada siapapun. Ini penyerobotan namanya!”, ungkap Haji Parman.

Sementara itu, pihak TPT yang diwakili Agus mengakui bahwa bidang yang dipermasalahkan sudah terbayar. Namun pembayaran dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. Menurutnya, pembayaran berdasarkan alas Hak Guna Bangunan (HGB) milik MNC Lido yang sudah disahkan oleh BPN.

“Kami melakukan pembayaran sesuai prosedur. Kalau memang ternyata ada pihak lain yang merada dirugikan,  silahkan diselesaikan dengan cara yang disepakati.  Kalo pihak kami siap mengikuti, mau dengan cara kekeluargaan ataupun menempuh jalur hukum”, tandas Agus, perwakilan TPT dalam forum pertemuan.

Saat dikonfirmasi, Camat Cigombong Basrowi mengaku tidak mengetahui adanya permasalahan tersebut. “Silahkan tanya ke kepala desa, soalnya saya tidak tau masalah itu dan tidak hadir dalam pertemuan mediasi”, kata Basrowi, dalam pesan singkatnya.

Hingga berita ini diturunkan, Pihak MNC Lido dan Pemerintah Desa Wates Jaya belum bisa dimintai keterangan. Berdasarkan informasi yang dihimpun Tim Kupasmerdeka.com, para pemilik lahan diarahkan untuk membuat surat kepada Pemerintah Desa Wates Jaya yang akan ditindaklanjuti ke PPK dan BPN, untuk dilakukan pengecekan ulang. (Raden/Wahyu)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*