Kerajaan Arab Saudi di Ambang Keruntuhan

Seorang anak lelaki menangis di depan reruntuhan bangunan yang dijatuhi bom dari serangan udara pimpinan Arab Saudi di San'a, Yaman. (dok. Xinhua)
Seorang anak lelaki menangis di depan reruntuhan bangunan yang dijatuhi bom dari serangan udara pimpinan Arab Saudi di San'a, Yaman. (dok. Xinhua)

(KM) Ketika Kerajaan Arab Saudi dan mitra-mitra mereka mengambil keputusan untuk terjun dalam perang bumi hangus melawan Yaman, Irak dan Suriah, tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa mereka akan mengalami kebangkrutan.

Setelah sekian lama menabuh genderang perang tanpa hasil yang memuaskan, itulah yang tengah dialami oleh keluarga kerajaan di Riyadh dan sekutu mereka yang dulunya begitu kaya raya dan percaya diri. Di tengah lesunya harga minyak bumi di dunia, dompet Dinasti Al-Saud semakin menipis dan pilihan mereka semakin berkurang, sehingga mereka tidak mampu lagi membeli persenjataan mahal dari Amerika Serikat untuk perang bumi hangus mereka di Timur Tengah yang sarat kebohongan.

Gambaran seperti ini sebenarnya sudah kita lihat 15 tahun yang lalu, ketika Amerika Serikat dan Imperium Kekacauan mereka dengan gegabah mengangkat senjata untuk berperang di Afghanistan (2001) dan kemudian di Irak (2003). Hingga kini, kedua konflik tersebut masih berlarut dan telah memakan jutaan korban jiwa dan biaya triliunan dolar (Information Clearing House). Sekarang, nasib yang sama menunggu klien-klien AS di Timur Tengah, dan tidak ada tanda-tanda bahwa kali ini “misi” mereka untuk menghancurkan negara-negara Islam akan tercapai.

Bahkan, seperti tuan mereka di Amerika, pihak Saudi sudah kehabisan uang dan legitimasi dalam upaya melanjutkan perang-perang mahal mereka. Kini Riyadh menghadapi defisit anggaran yang besar yang terus menggerus cadangan devisa mereka. IMF melaporkan bahwa defisit anggaran mereka mencapai -21.6% di 2015, dan diperkirakan mencapai -19.4% di 2016, sebuah kemerosotan besar dibanding defisit mereka pada tahun 2014 sebesar -3.4%. Pihak IMF memperkirakan bahwa Saudi “akan menghabiskan cadangan devisa mereka dalam kurun waktu lima tahun, lalu akan dihadapi dengan hutang yang besar.”

Gambarannya jelas: fantasi pengubahan rezim di Irak, Surah dan Yaman dalam bayangan Al-Saud telah runtuh. Mereka sudah tercebur begitu dalam dan tidak bisa keluar lagi. Mereka juga tidak mampu melanjutkan pengeluaran besar mereka untuk terus membeli bom-bom dan mendanai kelompok-kelompok ekstremis. Di Yaman, apabila tujuan mereka adalah untuk melumpuhkan kelompok Ansarullah, maka mereka telah melakukan kesalahan besar dalam perhitungan mereka, sebagaimana mereka salah perhitungan dalam menceburkan diri ke perang di Suriah dan Irak.

Keputusan-keputusan gegabah, seperti membabi buta, malah membuat Kerajaan Arab Saudi semakin dikucilkan di hadapan dunia. Rekam jejak pelanggaran HAM mereka kian terbongkar di hadapan komunitas internasional. Uni Eropa menyalahkan Riyadh atas krisis pengungsi yang tengah mereka hadapi dan pada 25 Februari lalu, parlemen Eropa menyerukan embargo persenjataan atas Arab Saudi. Organisasi HAM internasional seperti Human Rights Watch (HRW) dan Amnesty International keduanya mengecam kejahatan perang yang dilakukan oleh Arab Saudi dan menyerukan investigasi independen terhadap kejahatan-kejahatan mereka terhadap rakyat dan infrastruktur sipil di Yaman. Tim ahli PBB melaporkan bahwa koalisi pimpinan Arab Saudi telah melakukan setidaknya 119 pelanggaran HAM dalam agresi mereka terhadap Yaman.

Ini semua membuktikan bahwa kebijakan yang ditempuh oleh Arab Saudi telah gagal, sebagaimana kebijakan-kebijakan yang sama yang telah ditempuh oleh Amerika Serikat di Afghanistan, juga Israel di Lebanon dan Gaza, telah gagal dan akan selalu gagal.

Menghadapi kegagalan itu, pihak Arab Saudi masih terus mengucurkan jutaan dolar kepada kelompok teroris untuk terus bertahan walau sudah di ambang kehancuran, setelah kegagalan mereka di Suriah dan Irak. Putus asa, Kerajaan pimpinan Salman Al-Saud sekarang tengah melakukan modernisasi militernya secara besar-besaran, tentunya dengan 100% perlengkapan militer impor yang akan membuat mereka semakin bangkrut.

Dalam petualangan mereka mencetuskan perang di negara-negara di kawasan, mereka membakar uang dengan kecepatan yang mencengangkan – USD 12 Miliar setiap bulannya. Sedangkan mereka pasti tahu bahwa mereka terperangkap dan walaupun seandainya mereka menciptakan kondisi untuk mengakhiri perang-perang sektarian mereka, sekarang ini semua sudah terlambat.

Selain blunder-blunder mereka di luar negeri, Kerajaan Arab Saudi juga akan harus menghadapi gejolak politik di dalam negeri dengan gonjang-gonjang dalam internal tubuh keluarga kerajaan serta gerakan-gerakan sipil pro-demokrasi, yang pastinya akan semakin menguat ketika rezim tersebut kehabisan uang untuk membeli “diplomasi” dan “rapor HAM” di PBB.

Menimbang semua kekacauan yang mereka ciptakan di dalam dan luar negeri, maka tidak salah kalau kita katakan bahwa Rezim Al-Saud berada dalam hitungan mundur menuju keruntuhan.

Sebagai catatan sampingan, maka maklum pula, korban-korban jatuhnya crane di Masjidil Haram, Mekah, pada musim Haji September lalu, seperti ibu Tri Murti Ali dari Solok, Sumatera Barat, hingga kini masih menagih janji Raja Salman atas santunan yang ia janjikan tahun lalu.
(HJA)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*