Jeritan Derita Warga Kp. Sirna Galih, Korban Bencana yang Dilupakan Pemerintah

Kehidupan wardga di Kampung Sirna Galih, Cigudeg (dok. KM)
Kehidupan wardga di Kampung Sirna Galih, Cigudeg (dok. KM)

CIGUDEG (KM) – Warga Kampung Sirna Galih, Desa Sukaraksa, Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor menunggu dan berharap bantuan dari pemerintah Bogor yang tak kunjung datang sejak tahun 2011 sampai dengan saat ini. Sudah 5 tahun masyarakat menunggu bantuan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk mendapatkan hunian yang layak yang tak kunjung datang.

Korban Bencana Tanah Ambles yang berlokasi di Kampung Sirna Galih Rt. 005/003 Desa Sukaraksa Kecamatan Cigudeg sebanyak 50 KK dan kurang lebih 200 jiwa yang mayoritas anak-anak masih menempati Hunian Sementara (HUNTARA) yang kondisinya pada saat ini sangat memprihatinkan dan tidak layak dihuni. Dengan kondisi yang saat ini sudah semrawut dan rusak terlihat seperti kandang kambing, terkadang dikala datang hujan deras dan angin kencang masyarakat dihantui ketakutan, karena sebagian rumah sudah ada yang hancur dan tak berbentuk karena diterpa angin dan hujan. Bahkan yang saat ini masih berdiri pun sudah bocor dan kayu penopangnya sudah rapuh yang suatu saat dapat membuat huntara akan rubuh dan hancur.

Selain kondisi huntara yang sudah seperti kandang kambing masyarakat juga ada yang terkena penyakit gatal-gatal karna kebersihannya tak terkontrol, selain itu kondisi MCK yang sudah tak bisa terpakai membuat masyarakat harus berjalan kaki menuju mata air yang lumayan jauh dan menurun. Bukan cuma itu, mushola yang adapun sudah rata dengan tanah karna diterjang angin dan hujan.

Advertisement

Sungguh besar derita yang dialami warga Kampung Sirna Galih yang menunggu janji pemerintah yang tak kunjung datang. Warga berharap pemerintah dapat secepatnya memberikan bantuan.

“Masyarakat sudah bosan tinggal di sini dengan kondisi yang sangat memprihatinkan dan tak layak, saya meminta kepada Bupati agar mau mendengarkan kami,” tutur Udin warga Kp. Sirna Galih kepada Kupas Merdeka

Adapun warga yang menetap di Huntara sudah merasa bosan mendengar ucapan pemerintah. Memprihatinkan dan sangat memprihatinkan, derita wargapun bertambah di kala anak-anak mereka ada yang putus sekolah di karenakan ekonominya yang tak tentu, apalagi disaat musim hujan seperti ini usaha warga yang mayoritas pedagang batagor menggunakan motor terkadang tak dapat berjualan karna kondisi jalan yang licin. (Dian Pribadi)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*