Sebut Ayat Quran bisa Direvisi, Generasi Muda Khonghucu Kecam Soe Tjen Marching

Al Quran dan terjemahnya versi Kementerian Agama Indonesia (stock)

BOGOR (KM) – Generasi Muda Khonghucu Indonesia (GEMAKU) mengutuk keras pernyataan Soe Tjen Marching perihal revisi Qur’an dan memintanya untuk segera mengklarifikasi jika itu merupakan kesalahan persepsi.

Sebelumnya, feminis dan aktivis Soe Tjen Marching mengunggah tautan pada halaman Facebook nya kepada sebuah artikel berita online yang memuat rencana pemerintah merevisi terjemahan Depag terhadap kitab Al Quran. Dalam posting tersebut, ia mengatakan bahwa kitab suci bisa salah dan direvisi dan menyebutkan bahwa ayat yang ia anggap membahayakan nyawa harus direvisi.

Tautan beserta komentar Soe Tjen Marching yang mengundang kontroversi.

Tautan beserta komentar Soe Tjen Marching yang mengundang kontroversi.

Tindakan tersebut mengundang kecaman dari netizen dan juga dari GEMAKU, yang merilis pernyataan berikut:

Sebagai intelektual seharusnya Soe sadar bahwa apa yang dikatakan menjadi perhatian publik, apalagi di zaman teknologi seperti ini.

Tentunya Soe harus bisa lebih arif menilai sesuatu, apalagi menyinggung soal keyakinan orang lain. Yang jelas pernyataan tersebut dapat menjadi provokasi yang lebih luas.

Menilai keyakinan tentu saja tidak dapat dinilai secara general. Bukankah tentara Amerika membaca Bible dalam setiap pertempuran dan fakta atas kekejian terhadap sipil di Afghanistan dan lainnya.

Bukankan setiap negara punya orang korup yang di rumahnya menaruh dan membaca kitab-kitab suci yang mereka percayai. Yang merupakan problematika ialah soal oknum bukan soal agama, soal kesalahan persepsi bukan soal kesalahan substansi.

Perihal kepercayaan anda yang tidak mempercayai gajah di langit, cukuplah saja dibalikkan kepada anda sendiri, tentu saja anda juga harusnya sadar bahwa anda tidak punya hak menjudge dan memaksa orang untuk tidak percaya gajah diatas langit. Yang terpenting substansi utama sang gajah tak pernah mengajarkan kejahatan, hanya oknum lah yang salah persepsi akan itu.

Jika anda hidup di zaman prasejarah, tentunya anda tidak percaya bahwa anda bisa terbang, tp sekarang nyatanya anda bisa terbang dengan mudah kemana saja untuk mengitari dunia.

Cukuplah saja keyakinan anda disimpan sendiri untuk ada pribadi menjalankan kehidupan, bukan diumbar apalagi memprovokasi kehidupan beragama di bumi pertiwi. Sejatinya Soe dapat meneliti hakekat tiap perkara dalam setiap hal.

Rencana Revisi Terjemahan Al Quran

Berkaitan dengan rencana revisi yang disinggung Soe, sebelumnya pada Mukernas Al Quran 18-22 Agustus 2015, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan perlunya revisi terhadap terjemahan Al Quran versi Departemen Agama agar sesuai dengan “perkembangan bahasa dan dinamika masyarakat”.

Dijelaskan pula oleh ketua Lembaga Pentashihan Mushaf Al Quran Kemenag, Muchlis Hanafi, bahwa bahasa yang digunakan dalam terjemahan resmi Kemenag harus mengikuti perkembangan dan dinamika masyarakat.

“Terjemahan Alquran yang ada saat ini terakhir kali direvisi pada 2002. Berarti sudah mencapai 13 tahun usianya. Bahasa kan berkembang dan dinamika masyarakat juga selalu ada,” ungkap doktor tafsir lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, itu.

Ia juga mengungkapkan perlunya perbaikan terhadap buku-buku tafsir Al Quran dan perlunya pemerintah untuk mengembangkan aplikasi Al Quran digital.

(Kris Tan/HJA)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*