Muat Berita Negatif Tentang Kinerja Kades, Wartawan Brebes Dijebak

Artikel Wartawan Brebes, Fajar, di koran MCB yang membuat Kades geram dan menjebaknya dengan tuduhan pemerasan (dok. PWI Brebes/KM)
Artikel Wartawan Brebes, Fajar, di koran MCB yang membuat Kades geram dan menjebaknya dengan tuduhan pemerasan (dok. PWI Brebes/KM)

BREBES (KM) -Menyusul semangat Hari Pers Nasional yang mendengungkan kembali semangat kebebasan dan independensi pers Indonesia, muncul kabar miring mengenai instansi pemerintahan yang terkesan bertindak otoriter dan premanisme dalam menghadapi kritikan wartawan terhadap kinerja buruk mereka.

Hal itu diungkapkan oleh Badan Koordinasi Nasional Pewarta Warga Independen (Bakornas PWI) Brebes dalam pernyataannya yang disebarluaskan melalui surat elektronik kepada KM.

Bakornas PWI Brebes menyatakan bahwa seorang wartawan anggota PWI, Fajar, telah dijebak dan difitnah telah melakukan pemerasan terhadap Kepala Desa Pulosari, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. Skenario penangkapan dilakukan oleh Kepala Desa Pulosari dibantu Pengguyuban Kepala Desa Kabupaten Brebes. Selain itu, sejumlah polisi dan sejumlah wartawan elektronik dipersiapkan dalam rangka menjebak Wartawan media cetak Media Cakra Bangsa (MCB) itu.

Pernyataan tersebut mengungkapkan bahwa penangkapan terhadap Fajar dilakukan hari Juma’t (12/02) sekitar jam 16.00 – 17.00. Kemudian Fajar dibawa ke Mapolres Brebes untuk dilakukan pemeriksaan. Namun sekitar pukul 23.00 Fajar dipersilakan pulang ke rumah setelah tiga orang wartawan dari Kabupaten Tegal melakukan negosiasi dengan pihak Polres.

“Sungguh ironis beberapa wartawan elektronik bergembira ria saat akan melakukan penangkapan teman sejawatnya dari media cetak MCB. Padahal itu baru hasil laporan sepihak dari Kepala Desa Pulosari. Hal ini menumbuhkan rasa solidaritas dan simpati yang tinggi dari sejumlah wartawan cetak dan online dari Kabupaten Brebes dan Kabupaten Tegal untuk menyikapi berita penangkapan Fajar tersebut. Kalau mau jadi BUSER sebaiknya terhadap KORUPTOR yang tertangkap tangan, atau penangkapan Gembong Narkoba, bukan wartawan teman sendiri,” sambung pernyataan PWI tersebut.

Menanggapi permasalahan yang dihadapi oleh Fajar, sejumlah wartawan Tegal dan Brebes mengadakan rapat solidaritas untuk menentukan tindakan. Rapat tersebut menyimpulkan bahwa semua wartawan di Indonesia harus menyikapi kasus Fajar ini dengan rasa solidaritas sesama wartawan. “Kebetulan Fajar yang mengalami nasib yang apes, bagaimana jika diri Anda sendiri yang dijebak Kepala Desa bersama Paguyuban Kepala Desa, seperti PRAJA di Brebes, atau APDESI di Bogor,” lanjut pernyataan tersebut.

Dalam ceritanya Fajar menjelaskan bahwa dirinya sudah melakukan tugas jurnalistiknya dengan konfirmasi ke semua pihak baik ke BPD maupun Carik dan Kepala Desa, kemudian ia memuat beritanya di Media Cakra Bangsa edisi 09-14 Februari 2016, dengan judul “Proyek Infrastruktur Desa Pulosari Diduga Tidak Sesuai Spek”. Kemudian ia menyerahkan korannya ke Kepala Desa Pulosari, yang lalu meminta hak jawab atas pemberitaan tersebut. Di samping itu juga minta distribusi koran MCB edisi tersebut dibatasi dengan cara tidak diedarkan dan bersedia mengganti ongkos cetak.

Ketika hendak bertemu kembali dengan sang Kades di waktu dan tempat yang ditentukan, ternyata Fajar tidak mengetahui rencana yang telah disusun oleh sang Kades yang kecewa itu. Kepala Desa Pulosari menyerahkan kepadanya uang sebesar Rp 1.000.000, lalu ketika Fajar keluar dari Kantor Desa, sejumlah aparat kepolisian sudah disiapkan untuk menangkapnya, berikut dengan sejumlah wartawan media elektronik yang siap meliput penangkapan tersebut.

“Bagaimana jika anda sendiri wartawan yang meliput ke desa wilayah kerja anda, kemudian dijebak seperti itu? Ayo solidarisme wartawan indonesia kita jangan tinggal diam,” tutup pernyataan PWI tersebut. (HJA)

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*