Program Desa Mengajar Diharapkan Bisa Mengurangi Buta Huruf

Pemaparan tentang program Desa Mengajar di Desa Sadeng Kolot, Kab. Bogor Kamis (6/1). (dok. KM)
Pemaparan tentang program Desa Mengajar di Desa Sadeng Kolot, Kab. Bogor Kamis (6/1). (dok. KM)

LEUWISADENG (KM) – Masyarakat yang putus sekolah dan ingin mempunyai ijazah kini bisa mengikuti program Desa Mengajar, salah satu program menuju Kabupaten Bogor Termaju di Indonesia. Sosialisasi yang dilakukan di Desa Sadeng Kolot, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor dihadiri oleh masyarakat yang antusias, Kamis (07/01) kemarin.

Salah satu misi dalam program menuju Kabupaten Termaju di Indonesia adalah Kabupaten Bogor harus bebas dari buta huruf dan putus sekolah. Menanggapi program tersebut, Kepala Desa Sadeng Kolot langsung “tancap gas” mensosialisasikan Desa Mengajar kepada masyarakat agar di wilayahnya tidak ada yang tidak bisa membaca dan menulis.

Kades Sadeng Kolot, Sahri, menghimbau kepada masyarakat dan staf yang belum mempunyai ijazah agar bisa mengikuti program Desa Mengajar ini. “Saya tidak mau kalau di desa Sadeng Kolot ada yang putus sekolah, apa lagi tidak mempunyai ijazah. Bagaimana mau maju kalau niat belajar nya tidak kita bantu. Dengan adanya program dari Dinas Pendidikan ini tentang Desa Mengajar, saya berharap ini bisa menjadi bahan agar tidak ada lagi masyarakat yang tidak bisa menulis dan membaca,” papar Sahri.

Masih di tempat yang sama, Rohmah (50) warga Leuwibengkok RT 03/10 Desa Sadeng Kolot, menambahkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar. “Saya berharap kedepannya bisa membuat saya lebih baik menulis karena saya hanya lulusan Sekolah Dasar, tulisan saya masih acak-acakan. Pengen mengikuti belajar agar bisa mempunyai Ijazah Paket C, meskipun usia sudah cukup tua, tapi tidak ada kata terlambat untuk belajar,” pungkas nya.

Sementara Camat Leuwisadeng Mad Hasan mengatakan, tujuan dari program ini adalah untuk mempercepat tercapainya target tahun 2018 di Kabupaten Bogor pendidikan rata-rata minimal 9 tahun. “Perlu tuntas masalah pendidikan, termasuk rata-rata lama sekolah, di sini masih 8 tahun. Kita minimal harus 9 tahun,” tutupnya. (Farid)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*