Pengamat Inggris: Serangan Teroris di Jakarta Gagal Total

Ledakan bom di Pos Polisi perempatan Sarinah tewaskan 3 orang seketika. (dok. KM)
Ledakan bom di Pos Polisi perempatan Sarinah tewaskan 3 orang seketika. (dok. KM)

KM – Serangan Teroris di bilangan Perempatan Sarinah, Jl. MH Thamrin, DKI Jakarta pada Kamis (14/1) lalu, menjadi sorotan media internasional. Rangkaian ledakan bom dan baku tembak tersebut telah memakan korban tewas sebanyak 8 orang, termasuk 4 pelaku teror dan 4 rakyat sipil, dan 25 lainnya luka-luka. Menurut Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso, serangan tersebut diduga merupakan pamer kekuatan dalam agenda perebutan posisi kepemimpinan ISIS di Asia Tenggara.

Namun, menurut Finian Cunningham, jurnalis dan pengamat kebijakan internasional dari Inggris, serangan tersebut gagal total karena ketidakmatangan dalam perencanaan dan tidak lepas dari kesiagaan aparat kepolisian Indonesia dalam menghadapi tindakan terorisme. Ia menuturkan, bahwa di serangan teror di Paris November lalu, 8 teroris bersenjata membunuh 130 rakyat sipil sebelum mereka dilumpuhkan, sedangkan di Jakarta, sekelompok teroris berjumlah sekitar 15 orang dengan pola yang mirip yaitu dengan pengeboman dan penembakan hanya berhasil membunuh 2 rakyat sipil (pada hari itu -red).

“Dari sudut pandang para teroris, operasi Jakarta kemarin adalah sebuah kegagalan. Kegagalan tersebut diantara sebabnya adalah kesiagaan kepolisian Indonesia, yang telah meningkatkan keamanan di ibukota dalam beberapa minggu terakhir setelah mendapatkan informasi dari sadapan komunikasi teroris,” jelasnya dalam editorialnya di Russia Today.

Ia mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini, Indonesia menyaksikan kenaikan dalam tingkat aktivitas kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. Pihak kepolisian hingga kini juga telah melakukan sekian banyak penyergapan dan penahanan terhadap terduga simpatisan ISIS dalam beberapa minggu terakhir.

Melihat situasi Indonesia dalam 5 tahun terakhir yang relatif aman dari serangan teroris dibandingkan dengan masa tahun 2000-2009 yang diwarnai dengan beberapa serangan teroris besar seperti bom Bali (2002) dan Ritz-Carlton yang dilakukan oleh kelompok yang berafiliasi kepada Al Qaida, fenomena menggeliatnya kelompok pro-ISIS menimbulkan spekulasi.

Spekulasi Keterlibatan Arab Saudi

Diantara spekulasi yang diungkapkan oleh Cunningham adalah keterlibatan kerajaan Arab Saudi dalam aktivitas kelompok teror di Indonesia. Sudah bukan rahasia bahwa pemerintahan Arab Saudi telah mendanai beragam organisasi, lembaga pendidikan dan media yang beraliran radikal di seluruh Indonesia.

“Diyakini bahwa Arab Saudi telah lama berada di balik pendanaan kelompok Islam radikal di Indonesia,” tegas Cunningham, mengutip dari majalah Financial Times.

“Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa aksi teror kemarin merupakan buntut dari penolakan pihak pemerintah Indonesia untuk terlibat dalam ‘Koalisi Islam Anti-Teror’ buatan Saudi,” lanjutnya.

Seperti yang telah diberitakan di media nasional dan internasional, pemerintah Indonesia menolak terlibat dalam “Koalisi Islam Anti Teror” 34 negara yang diumumkan oleh pemerintah Arab Saudi pada Desember lalu. Banyak tokoh dan pengamat politik internasional juga melihat adanya kejanggalan dalam pembentukan sebuah “Koalisi Anti Teror” oleh Kerajaan Arab Saudi yang diketahui mendanai penyebaran faham radikal Wahabisme.

“Penolakan Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia adalah sebuah pukulan terhadap kredibilitas Saudi di hadapan dunia,” kata Cunningham.

“Kalau pihak Saudi dan intelijen Barat memang benar mendorong terorisme kelompok jihadis untuk agenda geopolitik mereka, maka tidak mustahil kelompok-kelompok teror ini dapat dimanipulasi oleh pelaku-pelaku ini di Indonesia – atau dimanapun mereka inginkan. Serangan teror di jantung kota Jakarta oleh kelompok ISIS bisa jadi sebuah peringatan untuk Indonesia atas ‘penghinaannya’ terhadap koalisi ‘anti teror’ Saudi yang dibekingi Barat itu,” lanjutnya.

Ia melihat suatu pola yang memungkinkan spekulasi tersebut ada kebenarannya. Menurutnya, kegagalan kelompok teroris di Jakarta untuk melakukan kekacauan yang lebih besar menunjukkan suatu tindakan yang cukup gegabah dan kurang matang dalam perencanaannya. Seolah-olah perintah yang mereka terima ditindak secara buru-buru.

“Ini klop dengan teori bahwa para sponsor terorisme di Arab Saudi mencari sebuah cara cepat untuk memukul Indonesia atas penghinaannya terhadap rekayasa ‘Koalisi Anti Teror’ mereka bulan lalu,” tutupnya.

Hingga kini, pihak Kepolisian dan Densus 88 sedang melakukan operasi intensif di seluruh Indonesia untuk menangkap anggota-anggota dari sel-sel kelompok teroris. Kemarin, unit dari Polda Jawa Barat menggerebek sebuah kontrakan di bilangan Tamansari, Kabupaten Bogor yang diduga menjadi persembunyian teroris. Selain itu, penyergapan dilakukan juga di Cirebon, Tegal, Bekasi dan Sampit Kalimantan Tengah. Polisi juga telah memastikan bahwa aksi teror Sarinah dilakukan atas perintah Bahrun Naim, gembong teroris ISIS yang kini berada di Suriah. (HJA)

1 Comment

  1. astagfirullah, ya Allah!!
    kita memang harus memerangi segala bentuk teror yang menghancurkan nama agama
    islam dan memperburuk citra islam sendiri. Insya Allah islam akan Jaya!!! Allahu AKbar!
    http://transparan.id

Leave a comment

Your email address will not be published.


*