“Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Layak Dijadikan Dasar Semua Negara”

Romo Magnis di seminar khatam
Prof. Franz Magnis Suseno menyampaikan paparannya di Seminar "Syiar Cinta" yang diadakan oleh Khatam Institute pada Sabtu (5/12). (dok. KM)

Jakarta Barat, 5/12/2015 (KM) – Insiden-insiden yang mencoreng toleransi dan kerukunan antarumat beragama di beberapa tempat di Indonesia telah mendorong beberapa elemen masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya persatuan sesuai amanat Pancasila. Salah satu bentuk inisiatif untuk menanamkan pentingnya toleransi antarumat beragama adalah dialog antar pemuka agama, seperti yang diselenggarakan oleh Khatam Institute, salah satu institut pengkajian Islam di Jakarta, pada Sabtu (5/12) siang.

Seminar yang bertajuk “Syiar Cinta: Studi Komparatif Altruisme Lintas Agama” mendatangkan pemuka agama dari 5 agama di Indonesia, yaitu Dr. Oneng Nurul Bariyah dan Muhammad Rusli Malik sebagai pembicara dari agama Islam, Romo Prof. Dr. Franz Magnis Suseno sebagai pembicara dari agama Kristen, Pinandita Astono Chandra sebagai pembicara dari agama Hindu, PMD Susyanto pemuka agama Buddha dan Kris Tan MA pemuka agama Konghucu.

Para tokoh agama mengemukakan pentingnya kasih sayang terhadap sesama makhluk Tuhan dan memuji para tokoh pendiri Republik Indonesia yang menanamkan ideologi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sehingga dapat mempersatukan semua golongan dalam bangsa Indonesia.

Diungkapkan oleh Dr. Oneng, seorang tokoh Islam yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah, bahwa dalam Islam, agama dicerminkan melalui akhlak. “Agama adalah akhlak yang baik, maka sesiapa yang tidak berakhlak baik, maka berarti ia tidak beragama,” paparnya.

Pentingnya kepedulian terhadap sesama manusia juga dijelaskan oleh Romo Magnis Suseno yang mengisahkan tentang Yesus Kristus. “Yesus mengkritik mereka yang lebih mengutamakan ritus daripada kepedulian terhadap sesama manusia,” jelasnya. Ia menyayangkan sikap sebagian elemen dari komunitas, baik itu dari agama Kristen atau dari agama lainnya, yang meninggalkan ajaran-ajaran kemanusiaan dan saling menebar kebencian karena berbeda faham. Contohnya, dalam peristiwa di Tolikara, Papua, pada saat perayaan Idul Fitri, sekelompok orang Kristen yang bergaris keras mengusir dan membakar masjid umat Muslim. “Seandainya mereka menjiwai ajaran Yesus Kristus, hal itu tidak akan terjadi,” ujarnya.

Begitu pula yang disampaikan oleh Pinandita Astono Chandra, pemuka agama Hindu dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), yang menekankan bahwa cinta kasih sesama umat manusia adalah konsep yang sentral dalam agama Hindu, yang disebut dengan istilah “Yadnya”. Ia kemudian memuji para pendiri negara Indonesia yang memformulasikan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, yang sesuai dengan konsep Yadnya tersebut. Ia mengatakan bahwa hubungan yang harmonis antar umat beragama di Indonesia dikagumi oleh tokoh-tokoh dunia, salah satunya Presiden Italia Sergio Mittarella yang berkunjung ke Indonesia pada bulan November lalu. “Presiden Italia mengatakan bahwa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika layak untuk dijadikan dasar untuk semua negara di seluruh dunia,” ceritanya, yang disambut dengan tepuk tangan.

Advertisement

Konsep kepedulian terhadap sesama juga dijelaskan melalui perspektif ajaran Buddha oleh Pendeta Muda Susyanto. Ia menjelaskan bahwa tujuan ajaran Buddha adalah kebahagiaan sejati bagi semua makhluk. “Buddha meninggalkan kehidupan mewahnya atas dasar cinta kepada sesama manusia,” ungkapnya, dalam pengisahan riwayat hidup singkat Gautama Buddha.

Agama Konghucu juga didasari cinta kasih sesama manusia, menurut Ketua Generasi Muda Khonghucu Indonesia (GEMAKU), Kris Tan MA. Ia mengatakan bahwa konflik agama muncul karena adanya prasangka, dan juga adanya orang-orang yang merasa paling dekat dengan Tuhan. Terkait pentingnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, ia memberikan perumpamaan lambang Garuda Pancasila. “Dalam lambang Garuda Pancasila, pita yang tertulis Bhinneka Tunggal Ika di dalam cengkeraman Garuda. Tidak seperti dalam lambang negara Amerika Serikat, dimana semboyan negara terpisah dari lambang burung elang nya. Ini karena Bhinneka Tunggal Ika menjaga tegaknya Pancasila. Tanpa Bhinneka Tunggal Ika, Garuda Pancasila akan miring dan jatuh,” ujarnya.

Perspektif dari kelima Agama resmi di Indonesia itu disimpulkan oleh penulis Tafsir Al-Barru, Muhammad Rusli Malik. Ia mengatakan bahwa dalam beragama, ada unsur esoteris, yaitu batin, dan eksoteris, yaitu unsur lahiriah. Semua agama memiliki sisi esoteris yang sama, yaitu penyempurnaan jiwa dengan bersatu dengan Tuhan, melalui cinta kasih terhadap sesama manusia. Ia mengingatkan dalam ajaran Islam, tidak boleh mencaci maki agama orang lain. “Mencaci maki apa yang dihormati oleh orang lain atau agama lain, secara tidak langsung memberi mereka hak untuk mencaci maki agama kita dengan kebencian,” jelasnya. Ia lalu mengisahkan riwayat cucu Nabi Muhammad yaitu Al Husain, yang meninggalkan ritual tertinggi dalam agama Islam yaitu haji, sehari sebelum puncak ritualnya, untuk tujuan menegakkan keadilan, yang didasari oleh kasih sayang terhadap umat manusia. “Ini menunjukkan bahwa kemanusiaan itu lebih utama daripada ritual keagamaan. Apa guna nya ritual keagamaan apabila tidak dicerminkan melalui cinta kasih terhadap sesama manusia,” lanjutnya.

Dalam pemaparan kelima narasumber tokoh agama, terungkap kesamaan tujuan yaitu menebar kasih sayang sesama manusia, dengan beragam prakteknya. Hal ini tidak berarti semua harus sama, tetapi bahwa semua harus menghormati perbedaan. “Tidak ada ajaran sesat, yang ada adalah ajaran yang berbeda. Yang bisa menilai sesat hanya Tuhan,” ujar Romo Magnis Suseno. Ia kemudian mencontohkan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam yang berhasil menjiwai semangat akhlak Islam. “Sekarang kalau kami ada masalah, kami lebih suka ke NU daripada ke Polisi. Ini adalah perkembangan yang positif,” katanya. (HJA)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*