Masyarakat diperas Melalui Perda dan Perbup BPHTB

BPHTB
Ilustrasi BPHTB

BOGOR (KM) – Pejabat terkait masih terus bungkam berkenaan dengan dugaan Undang-Undang (UU) BPHTB yang dikangkangi Peraturan bupati (Perbup) dan Peraturan daerah (Perda) di Kabupaten Bogor.

Beberapa kali KupasMerdeka mencoba mengklarifikasi baik dari pejabat sekelas Kepala Bidang, hingga Bupati Bogor sebagai orang nomor satu di Bumi Tegar Beriman. Mereka terus membungkam dan enggan menyikapi permasalahan tersebut.

Dugaan kecurangan tersebut semakin jelas dan menemui titik terang dimana letak permasalahannya. Kejanggalan UU BPHTB di Kabupaten Bogor terkuak saat meninjau UU BPHTB Pasal 87, ayat 1 huruf a berisikan, dasar pengenaan Bea Hak atas Tanah dan Bangunan adalah nilai objek pajak. Maksudnya disini, jual beli adalah harga transaksi.

Namun yang terjadi di Kabupaten Bogor, masyarakat diharuskan membayar pajak BPHTB sesuai harga pasaran yang sudah ditetapkan dan bukan dari nilai transaksi jual beli.

Dispenda Kabupaten Bogor tidak mengacu pada UU BPHTB untuk penetapan besaran pajak tersebut, melainkan dasar informasi hasil penelitian dan estimasi kurang bayar, sesuai yang ditetapkan oleh Perda dan Perbup.

“Kalau melihat UU BPHTB, jelas dugaan kecurangan itu, warga dipaksa membayar pajak oleh Dispenda sesuai Perda dan Perbup, padahal kalau mengacu UU BPHTB harga yang dibayarkan warga sesuai nilai transaksi,” ujar ketua Bogor Anti Corruption Organisation (BACO), Rahmatullah kepada kupasmerdeka.com, belum lama ini.

Lebih lanjut Rahmatullah menjelaskan bahwa ini berarti selama puluhan tahun telah terjadi kecurangan pembayaran BPHTB di Bumi Tegar Beriman.

“Pemerintah daerah harus bertanggung jawab, karena mereka yang membuat Perda dan Perbup yang tidak mengacu pada UU BPHTB,” tegasnya.

Dari data yang dihimpun Kupasmerdeka.com dalam beberapa contoh, pada bagian nilai objek jual beli ditandatangani oleh Atep sebagai peneliti di Dispenda Kabupaten Bogor, dimana Perda yang dirujuk adalah Perda Nmr 15 Tahun 2010 serta Perbup Nmr 78 Tahun 2010. (Sahrul/Aril/Faisal)

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*