Kondisi Madrasah di Babakan Madang Memprihatinkan, Bupati Diminta Sigap

MI raudatul fallah
Kelas di MI Raudatul Fallah, Babakan Madang Kab. Bogor. Karena hanya da 2 ruangan, setiap ruangan harus digunakan oleh 2 kelas.

BOGOR (KM) – Kondisi sekolah yang rusak parah serta lahan yang berada di bibir jurang menjadikan satu potret buruk pelayanan pendidikan di Indonesia dan seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Demikianlah kondisi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudatul Fallah yang berada di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, yang juga menjalani proses belajar mengajar dengan dua kelas di dalam satu ruangan. Hal tersebut dikarenakan minimnya ruangan, sehingga murid harus mengantri hanya untuk menuntut ilmu.

“Sekolah ini hanya memiliki dua ruangan, dan bagai mana caranya agar semua murid bisa dapat kelas. Untuk itu, kami lakukan penyekatan menjadi empat ruangan,” ujar Pardi, salah seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut pada kupasmerdeka.com, Kamis (26/11/15).

Dirinya memaparkan, dalam proses belajar mengajar, murid kelas lima dan enam memiliki ruangan sendiri.

“Untuk murid kelas satu, dua, tiga dan empat dijadikan satu dalam dua ruangan yang telah disekat,” jelasnya.

Bahkan, kata Pardi, guru di sini harus mengajar dua kelas sekaligus, karena ruangan yang menjadi satu dengan dua kelas murid-murid yang sekolah di MI Raudatul Falah.

“Siswa dari kelas lain harus bergantian menunggu pelajaran selesai, kemudian guru mengajar kelas lain di ruangan yang sama, tak ayal terkadang ketika siswa lain menunggu pelajaran di dalam kelas banyak yang bercanda,” katanya.

Pardi menuturkan, pihak sekolah telah lama mengajukan permohonan tambahan kelas kepada Departemen Agama. Namun, hingga kini belum mendapatkan keterangan yang diinginkan pihak sekolah.

“Kami sudah hampir putus asa mengajukan permohonan kepada pemerintah. Karena hasilnya selalu nihil,” keluh Pardi.

Ia menegaskan, selain kondisi sekolah rusak serta dekat dengan jurang, jarak dari rumah menuju sekolah juga menjadi kendala.

“Kami hanya guru honorer yang menerima gaji sebesar 500 ribu rupiah dari hasil mengajar, jadi kami tidak bisa memperbaiki sekolah ini tanpa campur tangan pemerintah, ditambah lagi mayoritas murid disini memiliki perekonomian menengah kebawah,” jelasnya.

Namun, lanjut Pardi, meskipun gaji yang diterima jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, profesi sebagai seorang guru menurutnya merupakan tugas yang mulia.

“Karena peran seorang guru sangat dibutuhkan untuk mengembangkan penerus bangsa ini, untuk memiliki moral serta rasa sosial yang nantinya tumbuh pada murid yang dididik secara benar,” lanjutnya.

Sementara itu, salah seorang siswi kelas enam, Mimi Sumiati bersekolah sambil berjualan gorengan serta buras untuk membantu perekonomian keluarganya.

“Saya jualan saat belum masuk kelas dan istirahat sekolah,” ujar Mimi.

Dirinya mengatakan, meskipun kondisi keluarga yang kurang mampu, namun tekadnya untuk menuntut ilmu tidak pernah mengendur.

“Saya berjualan untuk biaya sekolah saya juga, jadi saya harus semangat untuk membuat keluarga saya bangga nantinya, dan saya juga tidak merasa malu. Meski sekolah sambil berjualan,” jelas Mimi

Para guru dan murid berharap, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bogor secepatnya menambahkan serta memperbaiki kelas di sekolah tersebut. Hal tersebut bertujuan agar para murid lebih nyaman dan fokus dalam melakukan aktivitas belajar. (Heri/Sahrul/Aril)

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*