Bulan Muharram, Warisan Semangat Perjuangan

Muharram
Muharram.

Tahun baru kalender Hijriah, yang disebut juga kalender Islam, ditandai dengan terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Dzulhijjah, hingga memasuki tanggal 1 bulan Muharram. Penanggalan hijriyah sendiri, dengan penentuan bulan awal dan tahun penanggalannya, menurut sejarah dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab sekitar 17 tahun setelah peristiwa Hijrah. Di dunia Islam, kalender Hijriah dipakai untuk kegunaan seremonial keagamaan seperti menentukan bulan puasa, hari-hari lebaran dan bulan haji. Karena sifatnya yang tidak mengikuti siklus musim, maka di negara-negara Islam pun kalender Hijriah selalu disandingkan dengan kalender Masehi untuk tujuan praktis.

Di Indonesia, tahun baru Hijriah pertama kali ditentukan sebagai hari libur nasional pada tahun 1968 pada masa kepresidenan Soeharto. Dengan ini, penanggalan Hijriah dan kepentingannya mendapat pengakuan oleh Negara Republik Indonesia. Walaupun sebenarnya peringatan bulan Muharram ini memiliki sejarah yang panjang dalam kebudayaan Islam di Indonesia, sebagian kalangan umat Muslim di masa kini tampak kebingungan bagaimana cara memperingatinya!

Karena tidak seperti perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, atau peringatan Isra’ Mi’raj, tanggal 1 Muharram sendiri tidak menandai peristiwa apa-apa. Betapapun itu, sebagian ingin mengaitkannya pada peristiwa Hijrah, maka dengan itu mengisi malam 1 Muharram dengan peringatan Hijrah dan ceramah-ceramah bertema tentang hijrah. Hal ini walaupun menurut catatan sejarah, hijrahnya Nabi Muhammad SAW bukan terjadi pada tanggal 1 Muharram, tetapi pada tanggal 1 bulan Rabiul Awal, yaitu bulan ketiga dalam kalender Hijriah.

Sebagian kalangan malah bertekad ingin menjadikannya tandingan atas perayaan tahun baru Masehi yang disambut dengan meriah, pastinya dalam koridor syariat Islam.

Namun apa sebenarnya pelajaran yang paling penting yang terkandung dalam bulan Muharram ini?

Penamaan bulan Muharram dalam kalendar Jawa memberikan sebuah intipan: “Suro”. Suro berasal dari kata “Asyuro” yang dalam bahasa Arab berarti “kesepuluh”, merujuk pada hari Asyuro pada tanggal 10 Muharram. Sebuah penelitian singkat terhadap sejarahnya akan mengungkapkan bahwa pada hari Asyuro, terjadi sebuah tragedi yang sangat menyayat hati. Kepedihan yang digugah oleh peristiwa pada hari ini melampaui semua cerita-cerita lain tentang bulan Muharram. Pada hari kesepuluh bulan Muharram, cucu Nabi Muhammad SAW yang bernama Al-Husain, dibantai beserta 72 sahabat dan kerabat keluarganya di Karbala, Irak, atas perintah Khalifah Yazid, seorang penguasa yang zalim. Kepalanya dipenggal dan ditancapkan di atas tombak, dan diarak keliling kota. Sungguh peristiwa yang sangat menyedihkan, mengingat bahwa hal ini semua terjadi kurang dari 50 tahun sepeninggal Nabi Muhammad SAW, terhadap cucunya sendiri yang sangat beliau cintai.

Sebagian dari Umat Muslim sendiri merasa alergi mendengar kisah ini, mungkin karena pengaruh kaum radikal yang mengangkat isu-isu sektarian. Namun alasan yang sebenarnya adalah rezim-rezim penindas di dunia ini tidak ingin umat manusia mempelajari perjuangan Al-Husain melawan rezim penindas di zamannya. Ini karena seandainya semangat pengorbanan Husain tertanam dalam jiwa manusia, pasti kekuasaan mereka akan runtuh! Salah satu rezim penindas di dunia pada masa ini adalah rezim Al-Saud di kerajaan Arab Saudi. Kebengisan rezim ini tidak perlu dipertanyakan lagi, dengan sekian banyaknya kepala TKI yang dipenggal disana, ratusan jamaah haji kita yang wafat di Mina yang hingga kini penyebabnya masih disembunyikan, serta ribuan rakyat yang tidak berdosa di negara Yaman dibom untuk tujuan kekuasaan mereka. Adalah uang minyak Saudi yang mensponsori perpecahan dan radikalisme Islam bahkan di bumi Indonesia, dan mereka ingin menutup-nutupi peristiwa ini agar dilupakan, agar semangat perjuangan umat Islam tidak tumbuh, sehingga sekutu mereka para Zionis dan Kapitalis dengan bebas mengeruk sumber daya alam negara-negara Islam tanpa perlawanan.

Advertisement

Ratusan tahun yang lalu, para kapitalis ingin mengeruk sumber daya alam Indonesia, tetapi perjuangan Al-Husain menginspirasi perlawanan, perjuangan terus-menerus hingga akhirnya Negara kita mencapai kemerdekaan. Peringatan atas pengorbanan Al-Husain tampak hingga masa kini pada peringatan Suro di Jawa, Tabuik di Sumatera Barat dan Tabot di Bengkulu. Para pendakwah di zaman dahulu menyadari bahwa untuk mencapai kemerdekaan, umat manusia harus belajar dari perjuangan Al-Husain. Begitu pula pahlawan India Mahatma Gandhi, yang berkata “aku belajar dari Husain bagaimana cara mencapai kemenangan dari ketertindasan”.

Di masa kini, dengan korupsi yang merajalela dan kapitalis yang terus mengeruk dan merusak alam Indonesia, membakar hutan dan membunuh anak-anak kita dengan penyakit ISPA, semakin pentingnya untuk kita semua belajar lagi dari perjuangan al-Husain cucu Nabi. Al-Husain bangkit melawan penindas dan rela mengorbankan segalanya untuk menegakkan kebenaran, walaupun sangat sedikit yang mendukungnya. Darahnya mengalir untuk membuka mata umat manusia atas pentingnya melawan penindas yang tidak akan berhenti mengacaukan negara untuk kepentingan pribadi.

Gugurnya Al-Husain yang membakar semangat perlawanan ini adalah kemenangannya! Luar biasa! Beliau mencapai kemenangan melalui kematian! Koruptor adalah penindas! Kapitalis yang merampas hak rakyat adalah penindas! Pejabat yang menggunakan taktik premanisme adalah penindas! Jangan pernah mau ditindas! Mari kita belajar dari perjuangan Al-Husain yang pantang mundur dan tidak pernah gentar melawan penindasan. Bagi Al-Husain, hapusnya penindasan adalah harga mati. Di Indonesia pun, kemerdekaan adalah harga mati. Maka kita tidak akan membolehkan penindas merajalela. Ini adalah semangat Muharram yang sejati!

[sexy_author_bio]

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*