Tuntut Transparasi Pembelian Aset, Aktivis Ancam Laporkan BUMD PPE ke KPK

kantor BUMD PPE (1)
Kantor PT. PPE Milik BUMD Pemkab Bogor, yang terletak di komplek Puri Wahid, Cibinong

BOGOR (KM) – Terkait temuan BPK dan kejanggalan yang terjadi di PT. Prayoga Pertambangan dan Energi (PPE) Kabupaten Bogor, terus mendapat sorotan dari berbagai pihak.

Bahkan sejumlah pihak meminta ada tim audit khusus untuk memeriksa aset-aset PPE yang diduga telah terjadi penyimpangan dan manipulasi. Mereka menilai investasi yang dilakukan perusahaan tersebut hingga mencapai ratusan miliar, hingga kini gelontoran dana yang dikucurkan pemerintah daerah menjadi pertanyaan besar.

Ketua Forum Mahasiswa Bogor Rahmatullah menilai, diduga telah terjadi penyimpangan dalam membelanjakan aset-aset milik PPE. “Jika memang mereka merasa bersih, coba tunjukan dan jelaskan pada kami apa saja aset yang dibeli BUMD itu,”ujar Along sapaan akrabnya kepada kupasmerdeka.com, Rabu (26/8/2015).

Tidak hanya itu kata Along, “mereka harus bisa menunjukan aset apa saja yang sudah dibeli, berapa harganya, bagaimana spesifikasinya apakah sudah sesuai serta pembelian tanah milik mereka apakah bisa dipertanggung jawabkan atau malah terjadi manipulasi, karena kami menduga itu semua banyak akal-akalan untuk meraup untung semata, dan kami akan turun ke lapangan untuk kroscek harga yang sebenarnya,” paparnya.

Lebih lanjut dia menambahkan, pihak PPE harus bisa menunjukan data dan berkas sebenarnya, bukan hanya keterangan dimulut saja.”Mereka harus berani ekspose kemedia secara transparan aset apa saja yang dimiliki, bagaimana tata cara pembeliannya, karena kami menduga telah terjadi kecurangan, dan kami berencana akan membawa masalah ini ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),” jelasnya.

Perlu diketahui, berdasarkan modal awal yang mencapai 50,625 miliar Rupiah digunakan untuk membeli berbagai aset untuk operasional perusahaan.

“Dari awal berdiri pada bulan Januari tahun 2012, hingga kini seluruh anggaran habis kami gunakan untuk operasional dan juga pembelian aset-aset. Salah satu aset yang kami beli adalah yakni Asphalt Mixing Plant (AMP) di Sentul dengan investasi Rp 9,5 Milyar, peralatan berat lebih dari Rp 15 Milyar, serta pengadaan lahan Rp 11,5 milyar rupiah serta 625 juta untuk pembentukan badan hukumnya. Serta pembelian lahan di wilayah Kecamatan Cigudeg seluas 17, 2 hektar,” papar Radjab, baru-baru ini.

Advertisement

Dia mengatakan, berdasarkan hasil audit yang dilakukan oleh akuntan publik, Inspektorat Kabupaten Bogor beserta BPK, saham berupa aset fisik yang dimiliki oleh PT. PPE sudah mencapai 76% atau sekitar 86 miliar Rupiah. “Aset fisik itu selain pembelian lahan-lahan yang ada di Kabupaten Bogor, ada juga mesin alat berat serta dumb truck yang digunakan untuk mendukung operasional di bidang aspal. Itu semua berdasarkan harga perolehan setelah diaudit oleh instansi-instansi tersebut,” katanya.

Menilik dari rincian operasional perusahaan selama hampir 4 tahun hingga sekarang, Radjab menjelaskan, total pengeluaran kas perusahaan mencapai kurang lebih 22 miliar Rupiah. “Anggaran operasional yang harus kami keluarkan selama kurang lebih 4 tahun ini mencapai 22 miliar. Itu termasuk pemberian gaji pegawai, alat tulis kantor (ATK) serta transportasi,” jelasnya.

Ketika ditanyakan soal pembelian lahan yang berada di wilayah Kecamatan Cigudeg, Radjab menjawab bahwa pihaknya membeli lahan tersebut dari PT. Faya Asha Prima yang menurutnya telah mengantongi izin. Dirinya menyangkal adanya penyerobotan lahan Perhutani dan juga tanah adat yang diklaim oleh PT. PPE. “Dari perusahaan tersebut kami beli seluas 13, 2 hektar, dan kami tambah lagi 4 hektar sisanya. Dan itu semua merupakan lahan sah milik kami, dan tidak ada lahan Perhutani yang kami klaim,” jawabnya.

Meskipun begitu, dirinya pun mengakui jika hingga saat ini perusahaaan yang dipimpinnya itu masih belum mendapatkan keuntungan sama sekali. Radjab pun memprediksi, PT.PPE baru akan mendapatkan profit pada tahun
2017 mendatang. “Memang perusahaan kami hingga kini terus merugi, karena lebih fokus pada investasi aset. Dan Break Even Point (BEP) yang mungkin akan kami dapatkan baru pada tahun 2017 nanti. Dan kami baru di tahun 2022, akan go public,” pungkasnya. (Herul)

Advertisement
Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*