Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Kolom oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki
Salah satu nikmat Allah yang paling berharga dalam hidup adalah adanya komunitas, tempat kita merasakan kebersamaan dan saling menguatkan. Terlebih dalam konteks Amerika, komunitas bukan sekadar pelengkap, melainkan faktor penentu bagi keberlangsungan iman dan Islam generasi mendatang.
Dalam bahasa agama, komunitas ini disebut jama’ah. Sayangnya, umat Islam sering memaknai jama’ah secara sempit, sebatas ritual. Kita paham pentingnya berjamaah di masjid, namun sering gagal memahami urgensi berjamaah di pasar dan di parlemen.
Komunitas dapat dipahami dalam dua tingkatan: lokal dan global. Secara lokal, komunitas Muslim di Amerika sangat beragam, mewakili hampir semua segmen umat Islam dunia. Namun secara global, kita adalah satu kesatuan, merangkum berbagai ras, etnis, kebangsaan, budaya, dan corak pemahaman keagamaan.
Allah menegaskan:
“Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya: 92)
Urgensi komunitas ini tampak jelas dalam dua fase dakwah Rasulullah SAW. Pada periode Makkah, Rasulullah fokus pada pembinaan individu. Puncaknya adalah peristiwa Isra’ Mi’raj dan turunnya perintah shalat. Kekuatan mukmin diukur dari kemampuannya menegakkan shalat dengan benar dan khusyuk.
Kemudian pada periode Madinah, Rasulullah mengerahkan segenap upaya untuk membangun kekuatan kolektif. Allah memerintahkan hijrah bukan semata karena kesulitan di Makkah. Kita tahu, kesulitan tidak pernah menjadi alasan untuk meninggalkan medan dakwah. Tetapi karena Madinah memang telah dipersiapkan menjadi basis pembangunan komunitas Muslim pertama dalam sejarah.
Komunitas Adalah Penentu Keberlangsungan Generasi
Lalu, seberapa penting komunitas bagi Muslim di Amerika dan Barat secara umum? Berikut beberapa alasannya:
1. Komunitas adalah Penjamin Survival Iman Generasi
Di Amerika, seseorang bisa survive, bahkan thrive- tumbuh maju dan sukses. Namun tanpa komunitas yang solid, tidak ada jaminan iman dan Islamnya akan survive. Betapa banyak generasi pertama yang datang ke negeri ini tanpa terikat komunitas, lalu anak-cucunya kehilangan agama dan keimanannya.
Ambil contoh mantan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson. Ia adalah cicit seorang warga Turki dari era Ottoman. Kakek buyutnya, Ali Kemal Bey, adalah mantan Menteri di Kesultanan Ottoman. Dalam beberapa generasi, keislaman keturunannya hilang. Mereka menjadi warga Inggris yang sukses, bahkan mencapai puncak kekuasaan sebagai Perdana Menteri, namun tercerabut dari agama.
2. Komunitas adalah Benteng Generasi
Di Amerika dan Barat, mustahil bagi keluarga Muslim untuk membentengi anak-anak sendirian dari gempuran Hollywood atau Bollywood, dari keterbukaan media sosial; Instagram, TikTok, X, Facebook, dan lainnya. Keluarga tidak akan mampu.
Komunitas dengan program yang efektif dan relevan dapat menjadi benteng itu. Di sini komunitas bukan sekadar gedung masjid, bukan sekadar tempat ruku’ dan sujud. Ia harus menjadi lingkungan Islami yang aman, alternatif dari lingkungan yang penuh fitnah. Seperti gua bagi Ashabul Kahfi yang dikisahkan dalam Al-Qur’an.
3. Pusat Pembelajaran Amaliyah
Lebih dari 90% anak Muslim di Amerika bersekolah di public school. Dari jam 8 pagi hingga 3 sore, mereka tidak hanya belajar matematika, sains, dan bahasa. Lebih dari itu, mereka menyerap konsep hidup, perilaku, dan karakter.
Sementara di rumah, jika beruntung, orang tua mungkin hanya punya satu jam untuk mengajarkan agama dan akhlak. Bahkan mayoritas tidak sempat menunaikan tanggung jawab ini. Jika demikian, rumah telah gagal membekali anak dengan ilmu dan akhlak.
Di sinilah peran komunitas menjadi vital. Komunitas menanamkan bukan hanya teori, tetapi ilmu amaliyah dan karakter yang hidup, bagaimana kehidupan kolektif yang berlandaskan rahmah, saling tolong-menolong, jauh dari penyakit sosial seperti iri, dengki, ghibah, dan fitnah.
4. Jaringan Pengaman Sosial (Social Safety Net)
Bayangkan, di tengah mayoritas non-Muslim, Anda jatuh sakit keras. Siapa yang akan mendoakan, menjenguk, dan menguatkan Anda? Bahkan ketika Anda wafat, siapa yang akan mengurus jenazah; memandikan, menyalatkan, hingga menguburkan?
Begitu pula dalam persoalan jodoh. Di tengah fitnah zaman, betapa sulitnya anak-anak muda kita menemukan pasangan yang baik agama dan akhlaknya. Tanpa komunitas, ke mana mereka akan mencarinya?
Saya pernah menyaksikan kasus nyata di New York. Seorang Muslim pendatang menikah dengan wanita Katolik keturunan Hispanik. Istrinya tetap Katolik, ia tetap Muslim. Karena tidak terikat komunitas Islam, pergaulannya lebih banyak dengan komunitas istrinya. Ketika ia meninggal dunia, seorang teman Muslim mencoba mengurus jenazahnya secara Islam, namun ditolak keras oleh istri dan anak-anaknya. Mereka merasa berhak mengurusnya dengan cara mereka. Akhirnya ia dimakamkan dengan cara Katolik. Sungguh menyedihkan, buah dari keterputusan dengan komunitas.
5. Cara Paling Efektif Melawan Islamofobia
Islamofobia adalah fenomena sosial yang akan terus ada hingga akhir zaman, pasang surut mengikuti situasi. Tugas kita bukan menunggu ia hilang, tetapi mempersiapkan diri agar dampaknya dapat diminimalisir.
Berbagai cara bisa ditempuh: ceramah, seminar, dialog antaragama. Namun cara paling efektif adalah memperkuat diri sendiri dengan membangun komunitas yang kuat; kuat secara pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, hingga politik. Dengan komunitas yang kuat, mereka yang Islamofobik akan berpikir dua kali sebelum menyerang agama dan pemeluknya secara serampangan.
6. Jalan Terbaik untuk Berkontribusi kepada Masyarakat Luas
Muslim di Amerika adalah kelompok yang secara umum berhasil, bahkan dalam banyak indikator, melampaui rata-rata masyarakat Amerika. Artinya, kita telah banyak menerima manfaat dari negeri ini. Sudah saatnya kita memberi balik (give back).
Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan membangun komunitas yang solid. Jamaica Muslim Center (JMC) adalah contoh nyata. Kehadirannya telah menjadikan kawasan sekitarnya lebih aman, nyaman, dan tumbuh. Bisnis berkembang, praktik dokter dan apotek bermunculan, dan ekonomi lokal bergerak. Inilah kontribusi nyata umat Islam melalui JMC sebagai pusat komunitas.
Partisipasi Anggota: Kunci Kekuatan Komunitas
Hadirnya komunitas menuntut kesadaran dan partisipasi aktif dari seluruh warga dan anggotanya. Partisipasi itu bisa berupa keikutsertaan dalam shalat berjamaah, program pendidikan, halaqah keilmuan, hingga kegiatan sosial dan kekeluargaan.
Namun tidak kalah penting adalah dukungan untuk keberlangsungan dan pengembangan komunitas itu sendiri, terutama dukungan finansial. Jika merujuk pada ajaran agama, kekuatan umat bersandar pada dua sayap: sayap vertikal (ritual) dan sayap horizontal (sosial). Al-Qur’an menyebutnya dengan “aqiimus-shalah wa aatuz-zakah” -dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.
Saat ini, komunitas kita, Jamaica Muslim Center, sedang dalam proses memperluas dan meninggikan gedung masjidnya. Tujuannya bukan hanya karena jamaah yang terus bertambah, tetapi juga untuk memastikan tersedianya sarana dan fasilitas yang dibutuhkan umat.
Kita berharap dan bermimpi menjadikan Jamaica Muslim Center bukan sekadar tempat ibadah yang nyaman dan representatif, tetapi benar-benar menjadi pusat komunitas; fondasi pengembangan umat sekaligus benteng keislaman dan keimanan generasi mendatang. Semoga!
Note: Khutbah saya tentang hal ini bisa didengarkan di sini: https://youtu.be/AxUCS_G2Yk4?is=Dp-ns1TlRyTT2ZMM
Leave a comment