KETIKA IBLIS MENANGIS, IA MALU MELIHAT MANUSIA YANG PANDAI BERKEDOK SUCI

Kolom oleh Hero Akbar / Moses *)

 

Suatu malam, Iblis memelukku sambil menangis tersedu-sedu.

 

Aku bertanya, “Kamu kenapa?”

 

Iblis menjawab dengan suara bergetar,

 

“Tolong ajari aku bagaimana caranya menjadi sejahat kalian, manusia, tetapi tetap terlihat SUCI.”

 

Aku terdiam.

 

Ternyata, bahkan dalam sebuah sindiran pun, ada tamparan keras bagi nurani manusia.

 

Iblis tidak pernah berpura-pura menjadi malaikat. Ia menggoda manusia melalui keburukan yang nyata. Namun, manusia terkadang melakukan sesuatu yang jauh lebih rumit: menyakiti sambil tersenyum, menindas sambil berbicara tentang keadilan, mengambil hak orang lain sambil mengutip ayat-ayat Tuhan, dan mengkhianati amanah sambil memamerkan kesalehan.

 

Mulutnya fasih berbicara tentang agama, tetapi tangannya tega merampas hak sesama. Lisannya lantang menyerukan kejujuran, tetapi tindakannya sibuk menyembunyikan kebenaran. Ia menasihati orang lain agar takut kepada Allah, sementara dirinya sendiri seolah tidak takut ketika mengkhianati kepercayaan manusia.

 

Inilah ironi yang menyakitkan: agama dijadikan pakaian untuk menutupi kebusukan, bukan cahaya untuk membersihkan hati.

 

Lebih menyedihkan lagi ketika kesalehan hanya menjadi panggung. Ibadah dipertontonkan, kebaikan diumumkan, sedekah dipamerkan, tetapi kezaliman terhadap sesama dianggap perkara biasa.

 

Padahal, apa artinya sujud panjang jika setelah bangkit kita justru menginjak martabat orang lain? Apa artinya bibir basah oleh zikir jika hati kering dari belas kasih? Apa artinya berbicara tentang surga jika jalan yang ditempuh justru menyakiti dan mengorbankan sesama?

 

Jangan salah memahami. Kita tidak berhak menghakimi isi hati seseorang, sebab hanya Allah yang mengetahui apa yang tersembunyi di dalamnya. Namun, setiap perbuatan tetap harus dipertanggungjawabkan. Kesalehan bukan alasan untuk kebal dari kritik, dan simbol agama bukan tameng untuk membenarkan kezaliman.

 

Terlebih bagi mereka yang memegang jabatan dan kekuasaan. Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai merangkai kata-kata suci di atas podium. Rakyat membutuhkan pemimpin yang jujur ketika mengelola uang publik, adil ketika mengambil keputusan, berani mengakui kesalahan, dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk memperkaya diri atau melindungi kelompoknya.

 

Sebab, amanah yang dikhianati tidak berubah menjadi suci hanya karena pelakunya rajin beribadah.

 

Dalam kehidupan ini, kita mungkin bisa menipu manusia dengan pencitraan. Kita bisa membangun reputasi, membeli pujian, bahkan membuat kebohongan tampak seperti kebenaran. Namun, tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.

 

Kelak, yang dipertanggungjawabkan bukanlah seberapa suci kita terlihat di mata manusia, melainkan bagaimana kita menjalani amanah, memperlakukan sesama, dan mempertanggungjawabkan setiap perbuatan.

 

Maka, sebelum sibuk mengoreksi dosa orang lain, marilah kita bercermin. Jangan-jangan kita terlalu sibuk memoles wajah agar tampak bercahaya, sementara hati membiarkan kegelapan tumbuh tanpa pernah kita lawan.

 

Sebab, musuh terbesar manusia bukan sekadar keburukan yang terlihat, melainkan keburukan yang disangkal, dibenarkan, lalu dibungkus dengan nama kebaikan.

 

Dan jika suatu hari Iblis benar-benar menangis melihat perilaku manusia, barangkali bukan karena manusia lebih jahat darinya, melainkan karena manusia terkadang melakukan keburukan sambil merasa dirinya paling benar.

 

Jangan takut terlihat buruk ketika sedang memperbaiki diri. Takutlah ketika kita begitu sibuk terlihat suci, sampai lupa membersihkan diri.

 

Sebab, di hadapan Allah, topeng kesalehan tidak akan pernah bisa menggantikan ketulusan, dan pencitraan tidak akan pernah bisa menggantikan pertanggungjawaban.

 

*) Pendiri media kupas merdeka

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.