Ketika Algoritma Mengadu Domba, Pemuda Harus Menjaga Indonesia
Oleh: Dedy Firdaus *)
(KM) – Indonesia sedang menghadapi tantangan baru dalam menjaga persatuan generasi muda. Jika dahulu pemuda berjuang melawan penjajahan dengan menyatukan perbedaan, kini mereka dihadapkan pada polarisasi di ruang digital yang dapat memisahkan masyarakat berdasarkan pilihan politik, pandangan, dan keyakinan.
Menjelang satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, semangat persatuan yang diwariskan pada 28 Oktober 1928 perlu kembali direnungkan. Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan komitmen untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas ego kelompok.
Di era algoritma, media sosial kerap menyajikan konten berdasarkan minat dan kebiasaan pengguna. Kondisi ini dapat mempersempit ruang pandang ketika seseorang hanya menerima informasi yang membenarkan pendapatnya sendiri. Akibatnya, perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan, kritik menjadi caci maki, dan diskusi kehilangan akal sehat.
Persoalannya bukan semata-mata teknologi, melainkan bagaimana manusia menggunakannya. Ketika generasi muda lebih mudah terpancing provokasi daripada memeriksa kebenaran, ruang digital berisiko menjadi ladang penyebaran hoaks, kebencian, dan konflik sosial.
Karena itu, literasi digital harus diperkuat melalui pendidikan, keluarga, komunitas, media, dan pemerintah. Generasi muda perlu dibiasakan memverifikasi informasi, menghormati perbedaan pendapat, serta berani menolak provokasi. Platform digital juga perlu didorong untuk lebih bertanggung jawab terhadap penyebaran konten yang memicu kebencian.
Media massa memiliki peran penting dalam menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan. Sementara itu, para pemimpin dan elite politik harus memberikan teladan dengan menghentikan narasi yang mengeksploitasi perbedaan demi kepentingan sesaat.
Menjelang Seabad Sumpah Pemuda, tantangan terbesar bukan sekadar menyatukan suara, melainkan menjaga hati dan pikiran agar tidak terpecah oleh algoritma. Persatuan bukan berarti semua orang harus berpikir sama, tetapi setiap perbedaan harus dikelola dengan kedewasaan dan tanggung jawab.
Pemuda Indonesia harus menjadi generasi yang tidak hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga matang dalam berpikir, santun dalam berbicara, dan nyata dalam berkarya.
Sebab, masa depan Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun dengan kecanggihan teknologi. Ia membutuhkan karakter, persaudaraan, dan kesadaran bahwa sebesar apa pun perbedaan, Indonesia tetap rumah bersama.
Jangan biarkan algoritma menentukan siapa yang harus kita benci. Jadikan teknologi sebagai jembatan persaudaraan, bukan tembok pemisah bangsa.
*) Penulis adalah Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bogor
Leave a comment