Jelang Seabad Sumpah Pemuda, Aktivis Sumatera Utara Soroti Polarisasi di Era Algoritma

MEDAN (KM) – Menjelang satu abad Sumpah Pemuda pada 2028, akademisi dan aktivis mahasiswa menyoroti ancaman polarisasi di media sosial yang berpotensi memperlebar perpecahan di kalangan generasi muda. Pemuda didorong memperkuat literasi digital, menjaga persatuan, serta melahirkan gagasan dan tindakan nyata menuju Indonesia Emas 2045.

 

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Menyongsong Seabad Sumpah Pemuda dan Tantangan Ruang Gema: Polarisasi Pemuda dan Merawat Persatuan di Era Algoritma” yang digelar di Medan. Diskusi dipandu Rafael Sinaga, S.H., dengan menghadirkan akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) A. Fattah Lubis, S.Sos., M.IP., Komda PMKRI Sumut-NAD Sirdo Sagala, S.H., Ketua Agitasi dan Diplomasi Politik Viva Voce Kristoporus, S.Sos., serta Ketua Presidium PMKRI Cabang Medan Nicola Simarmata, S.Sos.

 

A. Fattah Lubis menjelaskan, Sumpah Pemuda 1928 lahir dari kesadaran generasi muda untuk mengesampingkan perbedaan demi memperjuangkan cita-cita kebangsaan. Semangat tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan kembali melalui sikap kritis dan tindakan konkret.

 

“Jangan sampai kita hanya menyalahkan instansi dan pemerintah tanpa merefleksikan diri sendiri. Pemuda harus mampu menindaklanjuti gagasan yang dimiliki,” ujarnya.

 

Ia juga mengingatkan pentingnya menyeimbangkan penggunaan gawai dan media sosial dengan kebiasaan membaca, kepekaan sosial, serta kemampuan memilah informasi.

 

Senada, Sirdo Sagala menegaskan bahwa persatuan merupakan fondasi utama Sumpah Pemuda yang harus terus dijaga dalam menghadapi bonus demografi dan tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

 

Menurutnya, pemuda perlu memperkuat kesadaran diri, keberanian, dan kemampuan menghasilkan karya nyata.

 

“Persatuan harus dibangun dari perasaan, keresahan, dan penderitaan yang sama. Sebagai generasi muda, kita juga harus menghadirkan tindakan konkret untuk memperjuangkan keadilan,” katanya.

 

Sirdo turut mengajak pemuda berperan aktif di tengah masyarakat dan mendukung berbagai agenda kepemudaan, termasuk Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PMKRI Sanctus Thomas Aquinas yang dijadwalkan berlangsung di Medan.

 

Sementara itu, Kristoporus menyoroti pengaruh algoritma terhadap distribusi informasi, dinamika politik, dan pembentukan opini publik. Ia menjelaskan, fenomena algokrasi menunjukkan semakin besarnya peran sistem algoritma dalam menentukan informasi yang muncul dan menarik perhatian masyarakat.

 

Dalam situasi tersebut, konten dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk membangun citra dan memengaruhi persepsi publik. Karena itu, ia mendorong pemuda memperluas ruang diskusi dan tidak menerima informasi secara mentah.

 

“Jadikan media sosial sebagai teman yang baik agar kita tetap kritis,” ujarnya.

 

Ketua Presidium PMKRI Cabang Medan, Nicola Simarmata, menambahkan bahwa derasnya arus informasi di media sosial berpotensi memperlebar perpecahan apabila tidak diimbangi sikap kritis dan semangat kebangsaan.

 

Ia menegaskan, peringatan Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi harus menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan mewujudkan nilai Bonum Commune, yakni kebaikan bersama.

 

Nicola juga mendorong organisasi kepemudaan melakukan evaluasi internal serta memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh anggota untuk berpartisipasi. Menurutnya, perbedaan tidak semestinya menjadi penghalang bagi lahirnya gagasan dan kerja bersama.

 

Diskusi berlangsung interaktif. Dua peserta, Luis dan Ardiansyah, mengajukan pertanyaan mengenai cara mewujudkan persatuan di kalangan mahasiswa serta langkah konkret dalam memperjuangkan keadilan.

 

Para narasumber menekankan bahwa persatuan membutuhkan lebih dari sekadar seruan. Generasi muda perlu memperkuat literasi digital, menjaga solidaritas, berani menyampaikan gagasan, dan menghadirkan karya nyata bagi masyarakat.

 

Menjelang seabad Sumpah Pemuda pada 2028, tantangan generasi muda bukan hanya merawat semangat persatuan, tetapi juga memastikan ruang digital menjadi sarana memperluas wawasan, bukan memperdalam perpecahan.

Reporter: Gast

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.