The Power of Word: Ketika Kata-Kata Menjadi Kekuatan Jurnalistik

(Dok:KM)

Oleh: Hero Akbar /Moses *)

(KM) – Di dunia jurnalistik, kata bukan sekadar rangkaian huruf yang disusun menjadi kalimat. Kata adalah kekuatan. Ia mampu membuka mata, membangun kesadaran, mengungkap fakta, bahkan mengubah cara publik melihat sebuah persoalan.

Sebuah berita mungkin hanya terdiri dari beberapa paragraf, tetapi setiap kata yang dipilih wartawan memiliki konsekuensi. Karena itu, the power of word dalam jurnalistik bukan tentang seberapa keras sebuah berita ditulis, melainkan seberapa kuat fakta disampaikan secara akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.

Jurnalis tidak memiliki senjata dalam arti fisik. Senjatanya adalah pena, kamera, mikrofon, dan hari ini juga perangkat digital. Namun, di balik semua itu terdapat satu kekuatan utama: kata-kata.

Kata dapat menjadi jembatan antara masyarakat dengan kekuasaan. Kata dapat menyuarakan mereka yang tidak memiliki ruang untuk berbicara. Kata juga dapat menjadi kontrol sosial ketika kebijakan publik menyimpang dari kepentingan masyarakat.

Namun, kekuatan tersebut harus disertai tanggung jawab.

Jangan sampai kekuatan kata berubah menjadi penghakiman. Jangan sampai kritik berubah menjadi fitnah. Jangan sampai dugaan ditulis seolah-olah fakta yang telah terbukti. Dan jangan sampai sebuah judul yang dibuat untuk mengejar klik justru menghancurkan nama baik seseorang tanpa dasar yang jelas.

Di sinilah profesionalisme jurnalistik diuji.

Berani menulis bukan berarti bebas menuduh. Tajam bukan berarti menghakimi. Kritis bukan berarti kehilangan objektivitas.

Media yang kuat bukanlah media yang paling keras suaranya, melainkan media yang mampu mempertanggungjawabkan setiap kata yang diterbitkannya.

Dalam menjalankan fungsi pers, keberanian mengungkap fakta harus berjalan bersama verifikasi. Tuduhan harus dibedakan dengan fakta. Dan pihak yang diberitakan harus diberikan ruang untuk menyampaikan hak jawab atau klarifikasi.

Sebab, satu kata yang salah dapat melahirkan persepsi yang salah. Satu judul yang tendensius dapat menggiring opini publik. Sebaliknya, satu tulisan yang jujur dan berimbang dapat menjadi cahaya bagi masyarakat dalam memahami persoalan.

Era digital membuat kekuatan kata semakin besar. Berita dapat menyebar dalam hitungan detik dan dibaca ribuan bahkan jutaan orang. Karena itu, wartawan dan media tidak hanya dituntut cepat, tetapi juga semakin dituntut teliti.

Cepat memberitakan itu penting, tetapi benar dalam memberitakan jauh lebih penting.

Jurnalistik pada akhirnya bukan sekadar aktivitas menulis berita. Jurnalistik adalah amanah untuk menjaga informasi agar tetap berada di jalur kebenaran dan kepentingan publik.

Karena itu, mari gunakan the power of word untuk mencerdaskan, bukan menyesatkan; untuk mengkritisi, bukan menghakimi; untuk membela kepentingan publik, bukan kepentingan kelompok tertentu.

Sebab ketika sebuah kata telah dipublikasikan, ia tidak lagi sepenuhnya menjadi milik penulisnya. Ia menjadi konsumsi publik dan memiliki dampak sosial.

Kata-kata adalah kekuatan. Dan kekuatan yang besar selalu menuntut tanggung jawab yang besar.

Itulah sejatinya wajah jurnalistik: tajam dalam mengungkap fakta, berani dalam menyuarakan kebenaran, tetapi tetap beretika dalam setiap kata.

*) Pendiri Media Kupas Merdeka

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.