Refleksi Kematian Dalam Persepektif Islam
Kolom oleh Shamsi Ali Al Newyorki*)
Pandangan terhadap buku when i die. Kematian sering dipandang sebagai akhir yang menakutkan.
Namun, Jalaluddin Rumi dalam karyanya “When I Die” justru menghadirkan perspektif yang menenangkan. Ia melihat kematian bukan sebagai perpisahan, melainkan sebagai perjalanan pulang.
Seperti seorang musafir yang lama menempuh jalan, lalu akhirnya melihat rumah asal di kejauhan, Rumi menyambut kematian dengan rasa syukur, bukan dengan ketakutan.
Peti jenazah, bagi Rumi, bukanlah kendaraan menuju ketiadaan. Liang kubur bukan jurang gelap yang menelan manusia selamanya.
Keduanya hanyalah pintu, tirai tipis yang memisahkan dunia sementara dengan kehidupan abadi. Ia mengibaratkan kematian seperti matahari terbenam. Dari sudut pandang kita, matahari tampak hilang ditelan cakrawala.
Padahal ia tidak musnah, hanya terbit di belahan lain yang tak terlihat. Begitu pula manusia: tubuhnya diturunkan ke tanah, tetapi ruhnya melanjutkan perjalanan.
Rumi juga menggambarkan manusia seperti benih yang ditanam. Dari permukaan, benih tampak terkubur dan ditinggalkan.
Namun di dalam tanah, ia justru sedang mempersiapkan kehidupan baru. Kulitnya pecah, akarnya tumbuh, lalu ia muncul kembali dalam bentuk yang lebih indah.
Kuburan yang tampak sempit, dalam pandangan Rumi, justru menjadi gerbang menuju keluasan. Kematian yang kita sebut perpisahan, olehnya disebut perjumpaan.
Pesan moral dari puisi ini jelas: hidup terlalu singkat untuk disia-siakan. Setiap napas berharga, karena pada akhirnya yang kita bawa hanyalah cinta, iman, amal, dan jejak kebaikan.
Rumi seakan berbisik, “Jangan hanya melihat tubuh yang dibaringkan, lihatlah ruh yang sedang melanjutkan perjalanan.”
Opini ini menegaskan bahwa kematian bukanlah padamnya kehidupan, melainkan perpindahan cahaya. Seperti lampu yang dipadamkan karena fajar telah merekah di ruangan lain.
Bagi orang yang sepanjang hidupnya belajar mencintai Allah, kematian adalah panggilan pulang, bukan perpisahan.
Puisi “When I Die” mengajarkan kita untuk tidak takut kehilangan. Kematian bukan titik akhir, melainkan koma dalam kalimat panjang perjalanan ruh menuju keabadian. Ia adalah gerbang pertemuan, bukan jurang perpisahan.
*)- Salah satu Imam Masjid di Gedung PBB New York
Leave a comment