Proyek Jalan Lamban, Warga Jagabaya Bakar Ban dan Putar Balik Truk Tambang
BOGOR (KM) – Kesal dengan lambannya pekerjaan proyek jalan, masyarakat Jagabaya, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, menggelar aksi protes di Jalan Raya Sudamanik, Rabu (12/8/2026).
Warga membakar ban di tengah jalan sebagai bentuk kekecewaan terhadap kondisi jalan yang dinilai semakin mengganggu aktivitas masyarakat. Dalam aksi tersebut, warga juga sempat memutarbalikkan truk tambang yang hendak melintas.
Salah seorang warga Jagabaya, Ishak, mengatakan aksi tersebut dipicu kondisi jalan yang berdebu atau “ngebul”. Menurut dia, masyarakat sudah cukup terganggu dengan debu yang muncul selama pekerjaan berlangsung.
“Untuk aksi sekarang itu karena ngebul, mereka bergerak karena ngebul. Harapannya segera ada penyiraman, baik siang maupun malam,” ujar Ishak.
Warga juga meminta pekerjaan proyek segera dipercepat. Isak menilai pembangunan yang berjalan lambat justru membuat dampak terhadap masyarakat semakin besar.

(Dok: Istimewa)
“Harapan masyarakat agar pembangunan ini lebih disegerakan lagi. Pembangunan terkesan abai jadi lambat. Seharusnya pembangunan itu dampaknya tidak terlalu parah, jadi enggak terbengkalai seperti sekarang,” katanya.
Selain persoalan debu, kondisi jalan juga berimbas terhadap lalu lintas kendaraan. Berdasarkan keterangan warga, truk berukuran besar tidak dapat melintas di lokasi, sementara kendaraan kecil roda empat masih bisa melewati jalan tersebut.
Aksi pembakaran ban tersebut semestinya menjadi alarm keras bagi pemerintah dan pihak pelaksana proyek. Pembangunan infrastruktur memang membutuhkan proses, tetapi lambannya pekerjaan tidak seharusnya membuat masyarakat menjadi pihak yang menanggung dampak paling besar.
Debu yang terus beterbangan, akses kendaraan yang terganggu, hingga aktivitas warga yang terdampak menunjukkan bahwa persoalan proyek bukan hanya soal kapan jalan selesai dibangun. Pengelolaan dampak selama pekerjaan berlangsung juga merupakan tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.
Jika pekerjaan belum dapat diselesaikan dalam waktu singkat, minimal pemerintah dan kontraktor harus memastikan penyiraman dilakukan secara konsisten, terutama pada siang dan malam ketika aktivitas kendaraan berpotensi memperparah kondisi debu.
Jangan sampai masyarakat harus membakar ban terlebih dahulu untuk mendapatkan perhatian. Pemerintah seharusnya hadir sebelum keresahan berubah menjadi konflik di lapangan.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Drs. Herman Suryatman, M.Si., telah dikonfirmasi melalui WhatsApp terkait persoalan tersebut.
Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan jawaban.
Kini masyarakat Jagabaya menunggu langkah konkret, bukan sekadar penjelasan. Jalan harus segera diselesaikan, debu harus dikendalikan, dan masyarakat tidak boleh terus menjadi korban dari pembangunan yang berjalan lambat.
Reporter: Luky
Editor: Drajat
Leave a comment