Panglima PETIR: Rasisme Harus Dilawan dengan Penegakan Hukum dan Persaudaraan
BEKASI (KM) –Isu rasisme terhadap masyarakat Indonesia Timur dinilai masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius dari seluruh elemen bangsa. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, praktik diskriminasi dan stereotip berdasarkan asal daerah dinilai masih kerap terjadi dalam kehidupan sosial.
Hal tersebut disampaikan Panglima Nasional Petir (Persaudaraan Indonesia Timur), Yoppy Beilohi, saat menerima wawancara di kediamannya di kawasan Jatibening, Kota Bekasi.
Menurut Yoppy, Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, agama, ras, dan budaya. Karena itu, setiap bentuk perlakuan yang merendahkan seseorang berdasarkan identitas asal daerah bertentangan dengan semangat persatuan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
“Kami tidak ingin ada lagi anak bangsa yang diperlakukan berbeda hanya karena berasal dari Indonesia Timur. Semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum dan berhak memperoleh perlakuan yang adil serta bermartabat,” ujar Yoppy.
Ia menegaskan bahwa kritik terhadap masih adanya dugaan praktik diskriminasi bukan dimaksudkan untuk memecah belah bangsa, melainkan sebagai bentuk kepedulian agar Indonesia semakin kuat dalam menjaga persatuan nasional.
Menurutnya, penyelesaian persoalan rasisme tidak cukup hanya melalui kecaman moral, tetapi juga memerlukan langkah nyata berupa pendidikan toleransi, penegakan hukum yang adil, dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menghormati keberagaman.
Yoppy juga mengajak seluruh tokoh masyarakat, aparat pemerintah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, organisasi kemasyarakatan, serta media massa untuk bersama-sama membangun budaya saling menghormati tanpa membedakan latar belakang suku maupun daerah asal.
“Persaudaraan adalah kekuatan bangsa. Jangan biarkan perbedaan dijadikan alasan untuk saling membenci. Justru keberagaman adalah modal utama Indonesia untuk menjadi negara yang semakin maju,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Yoppy berharap setiap dugaan tindakan diskriminatif dapat ditangani secara profesional sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Ia juga mendorong masyarakat agar menyelesaikan setiap persoalan melalui jalur hukum dan dialog, serta menghindari tindakan yang dapat memicu konflik horizontal.
Sebagai organisasi yang mengusung semangat persaudaraan, Persaudaraan Indonesia Timur, kata Yoppy, berkomitmen menjadi mitra seluruh elemen bangsa dalam memperkuat persatuan nasional, menjaga stabilitas sosial, dan mempererat hubungan antarsuku di Indonesia.
Ia menutup wawancara dengan mengajak seluruh masyarakat untuk terus mengamalkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
“NKRI adalah rumah bersama. Tidak boleh ada ruang bagi rasisme maupun diskriminasi. Yang harus kita bangun adalah saling menghormati, saling melindungi, dan saling menguatkan sebagai sesama anak bangsa,” pungkasnya.
Reporter: Gats
Editor: Yoe
Leave a comment