KALIAN YANG MERDEKA KARENA SEJAHTERA DAN BERKUASA, KAMI RAKYAT BELUM MERDEKA!

Keterangan foto: Aktivis Bogor & Pendiri Media Kupas Merdeka, Hero Akbar N/ Moses.(Dok:KM)

Oleh : Hero Akbar /Moses

(KM) – Kemerdekaan bukan sekadar upacara, pengibaran bendera, atau pidato penuh kata-kata heroik setiap tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan seharusnya menjadi keadaan ketika rakyat benar-benar mampu hidup bermartabat: memperoleh pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan yang manusiawi, pekerjaan yang pantas, pangan yang terjangkau, serta kepastian hukum dan keadilan.

Namun, setelah puluhan tahun Indonesia merdeka, masih ada suara rakyat yang terdengar sederhana tetapi menyakitkan:

“Kalian yang merdeka karena sejahtera dan berkuasa, kami rakyat belum merdeka.”

Kalimat itu bukan sekadar sindiran. Ia adalah cermin kegelisahan masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan harga kebutuhan pokok, sulitnya lapangan pekerjaan, biaya pendidikan, pelayanan publik yang belum merata, hingga ketimpangan antara mereka yang memiliki kekuasaan dan rakyat yang hanya memiliki suara.

Di satu sisi, sebagian elite dapat menikmati fasilitas negara, ruang kekuasaan, kendaraan dinas, perjalanan, dan berbagai kemudahan yang melekat pada jabatan.

Di sisi lain, masih banyak rakyat yang harus menghitung uang sebelum membeli beras, memikirkan biaya sekolah anak, mencari pekerjaan dari pagi hingga malam, bahkan harus berjuang mendapatkan pelayanan publik yang sejatinya merupakan hak mereka.

Lalu, untuk siapa sebenarnya kemerdekaan itu?

Kemerdekaan tidak boleh hanya menjadi milik mereka yang memiliki jabatan, akses kekuasaan, modal besar, dan koneksi politik.

Kemerdekaan harus dirasakan oleh petani di sawah, nelayan di laut, buruh di pabrik, pedagang kecil di pasar, guru di pelosok, tenaga kesehatan di daerah terpencil, anak-anak yang belajar dengan keterbatasan fasilitas, serta masyarakat kecil yang setiap hari berjuang mempertahankan kehidupannya.

Negara tidak boleh hanya hadir ketika rakyat dibutuhkan untuk memilih.

Rakyat tidak boleh hanya diingat ketika musim politik tiba.

Sebab kekuasaan pada hakikatnya bukanlah mahkota. Kekuasaan adalah amanah.

Jabatan bukan tiket untuk hidup lebih tinggi daripada rakyat. Justru jabatan adalah tanggung jawab untuk berdiri paling depan ketika rakyat menghadapi kesulitan.

Kita sering mendengar istilah “Indonesia maju”. Tetapi kemajuan tidak boleh hanya diukur dari gedung tinggi, jalan lebar, angka investasi, atau pertumbuhan ekonomi.

Ukuran kemajuan yang paling sederhana adalah: apakah rakyat merasa hidupnya semakin baik?

Apakah anak petani memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas?

Apakah masyarakat miskin mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa dipersulit?

Apakah pekerja memperoleh penghasilan yang cukup untuk hidup layak?

Apakah hukum berdiri tegak tanpa melihat siapa yang memiliki uang dan kekuasaan?

Dan yang paling penting, apakah rakyat merasa negara benar-benar hadir bersama mereka?

Jika jawabannya belum, maka pekerjaan rumah kemerdekaan masih sangat panjang.

Jangan sampai kemerdekaan hanya menjadi slogan yang diwariskan dari generasi ke generasi, sementara ketimpangan diwariskan kepada anak cucu.

Kita tidak sedang mengatakan bahwa negara gagal. Kita sedang mengingatkan bahwa kemerdekaan harus terus diperjuangkan agar tidak kehilangan makna.

Para pejuang dahulu berjuang melawan penjajahan fisik.

Generasi hari ini memiliki perjuangan yang berbeda: melawan kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, korupsi, ketidakadilan, pelayanan publik yang buruk, serta berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan.

Karena itu, memperingati kemerdekaan seharusnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu.

Kemerdekaan adalah pertanyaan tentang masa kini dan masa depan.

Sudahkah rakyat benar-benar merasakan hasil kemerdekaan?

Jika belum, jangan salahkan rakyat ketika mereka bersuara.

Sebab kritik bukan bentuk kebencian kepada negara. Kritik adalah salah satu cara rakyat mengingatkan para pemegang kekuasaan agar tidak lupa kepada siapa kekuasaan itu dititipkan.

Hari ini kita boleh mengibarkan Merah Putih setinggi-tingginya.

Tetapi jangan biarkan ada rakyat yang merasa hidupnya masih berada di bawah tekanan kemiskinan, ketidakadilan, dan ketidakberdayaan.

Sebab Indonesia tidak akan benar-benar merdeka jika kemerdekaan hanya terasa bagi mereka yang berkuasa dan sejahtera.

Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika rakyat kecil dapat hidup tanpa rasa takut, bekerja dengan bermartabat, memperoleh haknya secara adil, dan menatap masa depan dengan penuh harapan.

Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan.

Merdeka adalah ketika rakyat tidak lagi merasa menjadi penonton di negeri sendiri.

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Semoga Merah Putih tidak hanya berkibar di langit, tetapi juga berkibar di dalam hati setiap pemimpin untuk benar-benar memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.