Dinda Permatasari dari Mizan Amanah Bogor Sabet Juara Utama Olimpiade 1.0 Prodject Kilat 2026
BOGOR (KM) — Prestasi kembali ditorehkan anak-anak binaan panti asuhan di Kota Bogor. Dinda Permatasari, siswi Panti Asuhan Mizan Amanah Tanah Baru, berhasil meraih Juara Utama Olimpiade 1.0 Prodject Kilat 2026, setelah bersaing dengan lebih dari 50 peserta dari lima panti asuhan muslim dan non-muslim di wilayah Bogor.
Olimpiade 1.0 merupakan puncak dari Program Prodject Bagi Ilmu Gratis di Panti Asuhan, yang sebelumnya telah berkolaborasi dengan sembilan panti asuhan. Ajang tersebut dirancang bukan sekedar sebagai kompetisi akademik, namun sebagai proses pembentukan karakter dan kepercayaan diri anak.

Sistem penilaian yang diterapkan juga berbeda dari olimpiade pada umumnya. Peserta menjalani evaluasi perkembangan akademik secara mingguan selama berbulan-bulan sebelum akhirnya mengikuti babak final.
Dalam tahap penentuan, peserta tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuan intelektual, tetapi juga melalui tiga pilar karakter, yakni keberanian, kepercayaan diri, serta kemampuan mengenali dan melabeli emosi (labelling emosi).
Perwakilan Prodject Kilat mengatakan, konsep tersebut merupakan bagian dari misi sosial untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.
“Kami percaya Indonesia tidak kekurangan anak pintar, melainkan membutuhkan anak-anak yang cerdas dan berkarakter. Melalui program ini, kami ingin membangun kepercayaan diri, keberanian mengambil risiko terukur, serta kemampuan mengendalikan emosi di atas fondasi akademik,” ujar perwakilan tim Prodject Kilat.
Sementara itu, Dinda Permatasari, gadis kelahiran Pandeglang, 18 Oktober 2014, mampu mencuri perhatian dewan juri berkat konsistensi dan keberaniannya.
Dalam sejumlah tahapan final, mulai dari simulasi public speaking, pemecahan masalah emosional hingga tes akademik, Dinda menunjukkan ketenangan, kejujuran dalam mengekspresikan emosi, serta kepercayaan diri yang kuat.
Dinda yang memiliki cita-cita menjadi profesor tersebut mengaku menyukai pelajaran Matematika dan gemar membaca buku.
“Saya ingin menyenangkan orang tua dan menjadi berbeda dari kebanyakan orang,” tutur Dinda.
Atas keberhasilannya, Dinda tidak hanya membawa pulang piala dan sertifikat, tetapi juga mendapatkan perlengkapan sekolah. Lebih dari itu, namanya menjadi nama pertama yang tercatat dalam Hall of Fame Prodject Kilat.
Prestasi Dinda menjadi gambaran bahwa ruang belajar bagi anak-anak panti asuhan dapat menjadi pintu lahirnya potensi dan prestasi besar. Olimpiade 1.0 Prodject Kilat sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan seorang anak tidak semata-mata diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari keberanian, kepercayaan diri, kemampuan mengelola emosi, serta konsistensi dalam menjalani proses.
Di tengah tantangan pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda, program semacam ini menjadi penting untuk memastikan anak-anak dari berbagai latar belakang tetap memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berprestasi, dan mencapai cita-cita.
Reporter: Ki Medi
Editor: yoe
Leave a comment