81 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Jangan Jadikan Kemerdekaan Sekadar Perayaan Simbolis

Kolom Oleh: FIRMAN ADJIE ABDILAH

 

Memasuki 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, bangsa ini semestinya tidak berhenti pada seremoni, pengibaran bendera, perlombaan, atau slogan-slogan nasionalisme. Kemerdekaan harus dihayati sebagai tanggung jawab kebangsaan untuk memastikan keadilan, kesejahteraan, persatuan, dan martabat rakyat benar-benar terwujud.

 

Pandangan tersebut disampaikan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sekaligus mantan Bendahara Umum HMI MPO Cabang Bogor, Firman Adjie Abdilah. Menurutnya, momentum 81 tahun kemerdekaan harus menjadi ruang refleksi untuk kembali memperkuat semangat kebangsaan dan nilai keislaman, bukan sekadar perayaan simbolis.

 

Dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia, peran HMI tidak dapat dilepaskan dari dinamika perjuangan keumatan dan kebangsaan. Sejak lahir di Yogyakarta pada 5 Februari 1947, HMI membawa semangat keislaman dan kebangsaan sebagai bagian penting dalam perjalanan organisasinya.

 

Bagi Firman, keislaman dalam HMI tidak sebatas identitas atau simbol religius. Keislaman harus menjadi pondasi moral dan spiritual dalam menjalankan perjuangan. Nilai Islam mengajarkan keadilan, kesetaraan, perdamaian, kepedulian terhadap sesama, serta keberanian untuk mencegah keburukan dan membela kebenaran.

 

Karena itu, aktivisme keislaman tidak seharusnya berhenti pada ruang-ruang internal organisasi. Nilai tersebut harus hadir dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, maupun politik kebangsaan dengan orientasi utama pada kepentingan masyarakat.

 

Kebangsaan pun demikian.

 

Kecintaan kepada tanah air bukan hanya ditunjukkan melalui simbol dan slogan. Nasionalisme harus diwujudkan dalam komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, memperkuat persatuan, serta memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

 

Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki sumber daya dan pembangunan fisik, tetapi bangsa yang mampu memastikan rakyatnya memperoleh hak dan kesempatan yang adil.

 

Dalam perspektif ini, HMI harus mampu menempatkan diri sebagai mitra kritis sekaligus mitra kerja pemerintah yang berpihak kepada rakyat. Kritik terhadap kekuasaan bukan berarti anti-pemerintah. Justru kritik yang konstruktif merupakan bagian dari tanggung jawab moral untuk memastikan kekuasaan tetap berjalan dalam koridor kepentingan publik.

 

HMI harus hadir dalam persoalan pendidikan, sosial, ekonomi, dan berbagai persoalan masyarakat lainnya. Semangat intelektual mahasiswa harus diterjemahkan menjadi keberpihakan nyata kepada rakyat.

 

Sejarah perjuangan kemanusiaan juga memberikan pelajaran bahwa kemerdekaan selalu berhubungan dengan pembebasan manusia dari penindasan. Nilai-nilai Islam mengajarkan pembelaan terhadap kaum yang lemah dan penghormatan terhadap martabat manusia. Semangat tersebut memiliki titik temu dengan perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan diri dari kolonialisme.

 

Maka, pada usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, pertanyaan pentingnya bukan sekadar “seberapa meriah kita merayakan kemerdekaan?”, tetapi “seberapa jauh kemerdekaan telah menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat?”

 

Sebab kemerdekaan yang hanya dirayakan setiap bulan Agustus tanpa diikuti keberanian melawan ketidakadilan akan kehilangan makna substantifnya.

 

Kemerdekaan harus menjadi energi untuk membangun bangsa. Keislaman harus menjadi sumber moral, sementara kebangsaan menjadi ruang pengabdian. Keduanya harus berjalan beriringan untuk menghadirkan Indonesia yang berdaulat, adil, bermartabat, dan sejahtera.

 

Bagi HMI, perjuangan tersebut pada akhirnya harus kembali kepada tujuan organisasi: terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan ulil albab yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridai Allah SWT.

 

Karena itu, 81 tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum memperbarui komitmen: merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, diskriminasi, dan segala bentuk penindasan.

 

Inilah semangat kebangsaan yang harus terus dijaga.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.