MERDEKA ITU MILIK SIAPA? KETIKA KEMERDEKAAN BELUM SEPENUHNYA MERDEKA

Hero Akbar/ Moses - Pendiri kupasmerdeka.com

Kolom oleh: Hero Akbar /Moses

 

Kata merdeka terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki makna yang sangat luas. Merdeka bukan hanya soal terbebas dari penjajahan sebuah bangsa terhadap bangsa lain. Dalam pengertian yang lebih global, merdeka adalah keadaan ketika manusia memiliki kebebasan, martabat, kesempatan dan hak untuk menentukan kehidupannya tanpa berada di bawah penindasan, ketakutan atau kesewenang-wenangan.

 

Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Universal Declaration of Human Rights menegaskan bahwa setiap manusia dilahirkan bebas dan setara dalam martabat serta hak. Setiap orang juga memiliki hak atas kehidupan, kebebasan dan keamanan dirinya. Bahkan perbudakan dan segala bentuk perhambaan secara tegas dilarang.

 

Lalu muncul sebuah pertanyaan sederhana tetapi sangat dalam:

 

Siapa yang sesungguhnya sudah merdeka hari ini?

 

Apakah mereka yang bebas berbicara tetapi takut menyampaikan kebenaran?

 

Apakah mereka yang memiliki hak memilih pemimpin, tetapi setelah pemilu masih sulit memperoleh keadilan?

 

Apakah mereka yang secara hukum bebas bekerja, tetapi penghasilannya belum mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya?

 

Apakah anak-anak yang secara formal memiliki hak memperoleh pendidikan sudah benar-benar merdeka apabila mereka masih terhalang kemiskinan dan keterbatasan akses?

 

Ataukah seseorang bisa disebut merdeka ketika secara fisik tidak dijajah, tetapi pikirannya masih dikendalikan oleh ketakutan, kepentingan, propaganda, tekanan kekuasaan, dan ketergantungan?

 

Di sinilah makna kemerdekaan harus kita renungkan kembali.

 

MERDEKA BUKAN SEKADAR MENGIBARKAN BENDERA

 

Setiap bulan Agustus, bangsa Indonesia memenuhi ruang publik dengan merah putih. Lagu kebangsaan dikumandangkan. Upacara digelar. Perlombaan diselenggarakan.

 

Semua itu penting.

 

Tetapi kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremoni.

 

Kemerdekaan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.

 

Seorang rakyat disebut merdeka ketika ia tidak takut menyampaikan pendapat yang benar.

 

Seorang jurnalis disebut merdeka ketika ia dapat menjalankan tugas jurnalistik tanpa intimidasi.

 

Seorang petani disebut merdeka ketika hasil kerjanya memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya.

 

Seorang buruh disebut merdeka ketika tenaganya dihargai secara adil.

 

Seorang anak disebut merdeka ketika ia mempunyai kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.

 

Dan masyarakat disebut merdeka ketika hukum tidak hanya tajam kepada mereka yang lemah, tetapi juga mampu menyentuh mereka yang memiliki kekuasaan.

 

Deklarasi Universal HAM sendiri menempatkan kebebasan berpendapat dan berekspresi, kebebasan berkumpul secara damai, hak berpartisipasi dalam pemerintahan, hak atas pekerjaan, pendidikan, serta kehidupan yang layak sebagai bagian dari hak manusia.

 

SIAPA YANG BELUM MERDEKA?

 

Jika kemerdekaan kita ukur secara lebih luas, ternyata masih banyak manusia di dunia yang belum menikmati kemerdekaan secara utuh.

 

Ada manusia yang belum merdeka dari kemiskinan.

 

Ada yang belum merdeka dari kelaparan.

 

Ada yang belum merdeka dari perang.

 

Ada yang belum merdeka dari diskriminasi.

 

Ada yang belum merdeka dari kekerasan.

 

Ada yang belum merdeka dari perbudakan modern dan eksploitasi.

 

Ada yang belum merdeka untuk menyampaikan pendapat.

 

Ada pula yang secara fisik bebas, tetapi hidup dalam ketakutan karena tekanan politik, sosial maupun ekonomi.

 

Karena itu, kemerdekaan global bukanlah sebuah keadaan yang dapat diklaim selesai hanya karena sebuah negara telah memperoleh kedaulatan.

 

Kemerdekaan adalah perjuangan yang terus berjalan.

 

JANGAN SAMPAI MERDEKA HANYA UNTUK SEBAGIAN ORANG

 

Kemerdekaan menjadi kehilangan makna apabila hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

 

Jika pejabat merdeka menikmati fasilitas negara sementara rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, maka ada pertanyaan moral yang harus dijawab.

 

Jika orang kaya bebas mendapatkan akses terbaik sementara masyarakat miskin harus berjuang hanya untuk mendapatkan pelayanan dasar, maka kemerdekaan masih menjadi pekerjaan rumah.

 

Jika hukum bisa dibeli oleh kekuasaan, maka rakyat belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan.

 

Jika kritik dianggap sebagai ancaman, maka kebebasan masih berada di ruang yang sempit.

 

Jika jabatan digunakan untuk kepentingan pribadi, maka kemerdekaan rakyat sedang dikorbankan demi kepentingan segelintir orang.

 

Sebab kemerdekaan yang sesungguhnya bukanlah kebebasan untuk melakukan apa saja.

 

Kemerdekaan selalu berjalan bersama tanggung jawab.

 

Deklarasi Universal HAM juga menegaskan bahwa dalam menggunakan hak dan kebebasannya, seseorang tetap memiliki kewajiban terhadap masyarakat serta harus menghormati hak dan kebebasan orang lain.

 

MERDEKA DARI DIRI SENDIRI

 

Ada satu bentuk penjajahan yang sering kita lupakan: penjajahan terhadap pikiran dan nurani sendiri.

 

Manusia bisa dijajah oleh keserakahan.

 

Bisa dijajah oleh jabatan.

 

Bisa dijajah oleh uang.

 

Bisa dijajah oleh popularitas.

 

Bisa dijajah oleh kebencian.

 

Bahkan bisa dijajah oleh kepentingan sehingga kehilangan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang benar.

 

Maka kemerdekaan sejati bukan hanya membebaskan tubuh dari belenggu.

 

Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia mampu mengatakan tidak terhadap ketidakadilan, mampu berkata cukup terhadap keserakahan, dan mampu berdiri tegak ketika kebenaran sedang dipertaruhkan.

 

INDONESIA HARUS TERUS MEMERDEKAKAN RAKYATNYA

 

Peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk melakukan introspeksi.

 

Bukan sekadar bertanya, “Sudah berapa tahun Indonesia merdeka?”

 

Tetapi bertanya:

 

“Sudah sejauh mana rakyat Indonesia merasakan kemerdekaan itu?”

 

Sebab angka usia kemerdekaan tidak otomatis menunjukkan kualitas kemerdekaan.

 

Negara boleh semakin maju.

 

Teknologi boleh semakin canggih.

 

Gedung-gedung boleh semakin tinggi.

 

Tetapi jika masih ada rakyat yang merasa tidak berdaya menghadapi ketidakadilan, masih ada anak yang kehilangan kesempatan pendidikan, masih ada masyarakat yang takut menyampaikan kebenaran, dan masih ada warga yang merasa hukum tidak berpihak kepadanya, maka pekerjaan rumah kemerdekaan belum selesai.

 

Kemerdekaan bukan hadiah yang selesai diterima pada satu tanggal.

 

Kemerdekaan adalah amanah yang harus dijaga setiap hari.

 

Merdeka adalah ketika manusia tidak hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari ketakutan, ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, diskriminasi dan kesewenang-wenangan.

 

Dan pada akhirnya, pertanyaan terbesar di hari kemerdekaan bukanlah:

 

“Apakah Indonesia sudah merdeka?”

 

Melainkan:

 

“Siapa yang sudah benar-benar merasakan kemerdekaan itu?”

 

Karena sebuah bangsa belum sepenuhnya merdeka apabila kemerdekaannya hanya terasa di podium, tetapi belum sampai ke rumah-rumah rakyat.

 

Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka bukan hanya untuk mereka yang berkuasa, tetapi untuk seluruh manusia.

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.