Situs Buniwangi Lembang, Jejak Kentring Manik dan Kabuyutan Sunda yang Masih Terjaga

Keterangan foto: Situs Buniwangi Lembang yang masih terjaga di tengah serbuan modernitas.(Istimewa)

BANDUNG (KM) – Di balik pesona pariwisata modern kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, tersimpan Situs Buniwangi yang dijaga ketat oleh waktu dan masyarakat setempat. Berlokasi di Kampung Buniwangi, Desa Mekarwangi, situs ini bukan sekadar area pemakaman, melainkan simpul yang menghubungkan masa kini dengan narasi legendaris Prabu Siliwangi dan tokoh mistis Kentring Manik.

Berbeda dengan situs arkeologi berbasis temuan fisik, sejarah Buniwangi lebih banyak mengalir melalui tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun.

Asal Usul dan Penamaan Buniwangi

Nama Buniwangi diyakini memiliki pertalian erat dengan periode akhir Kerajaan Sunda. Tradisi tutur menceritakan bahwa Prabu Siliwangi pernah singgah di wilayah ini dalam pengembaraannya meninggalkan pusat kerajaan pasca-peristiwa Bubat.

Setelah kepergian Prabu Siliwangi, kawasan ini disebut dihuni Dalem Wangi, kemudian ditempati oleh tokoh bernama Buniwangi atau Kentring Manik.

Perlu digarisbawahi, hingga kini belum ditemukan bukti primer seperti naskah kuno atau prasasti yang mengonfirmasi kronologi tersebut sebagai fakta sejarah absolut — narasi ini murni bersandar pada tradisi lisan.

Sosok Kentring Manik dan Kompleksitas Situs

Dalam catatan Komunitas Aleut yang mengutip penulis Belanda W.H. Hoogland, Kentring Manik digambarkan sebagai penguasa gaib Kota Bandung sekaligus penjaga mata air Sungai Citarum. Ia kerap dikaitkan sebagai permaisuri Prabu Siliwangi.

Situs Buniwangi terbagi menjadi dua bagian utama:
1. Paseban, ruang untuk berdoa dan ritual penghormatan kepada leluhur
2. Pendopo, lokasi makam yang dianggap paling sakral

Pohon Purba dan Lanskap Budaya

Keunikan situs juga terpancar dari keberadaan lima jenis pohon purba yang dijaga ketat: Jajaway, Nunuk, Kawung, Lame, dan Pancawarna. Pohon Jajaway dipercaya sebagai yang paling tua di antara kelimanya.

Dalam kosmologi Sunda, pepohonan di kawasan kabuyutan bukan sekadar vegetasi, melainkan elemen lanskap budaya yang menyatu dengan narasi sejarah setempat.

Kabuyutan di Tengah Modernitas

Penelitian Dafidl Akmal Al-Rasyid dari Universitas Katolik Parahyangan menegaskan, pola ruang Kampung Buniwangi masih mempertahankan karakteristik kabuyutan Sunda, dengan kaitan harmonis antara situs keramat, permukiman, dan aktivitas ekonomi warga.

Situs Buniwangi menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu berbentuk prasasti atau monumen megah. Menghargai tradisi lisan secara kritis, sembari tetap berpijak pada kajian ilmiah, menjadi cara terbaik merawat warisan budaya ini untuk generasi mendatang.

Reporter: Gin
Editor: Drajat

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.