Patroli Gabungan TNI, Polri, dan PT Antam Tindak Tegas Penambang Ilegal di Pongkor
BOGOR (KM) – Langkah tegas diambil untuk menjaga jantung tambang emas Pongkor. PT Antam bersama jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) menggelar patroli gabungan berskala besar guna menertibkan aktivitas Penambangan Tanpa Izin (PETI) yang kian meresahkan. Operasi yang digelar pada Rabu (15/7) ini menjadi sinyal keras bahwa negara tidak memberi ruang bagi penambangan ilegal di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Antam Pongkor.
Kapolsek Nanggung, AKP Ano Junaedi, menegaskan bahwa operasi kali ini bukan sekadar formalitas atau simbolis belaka.
“Hari ini kita bergerak dengan tindakan yang jelas, sasaran tegas, dan penegasan nyata di lapangan,” ujar AKP Ano Junaedi saat memberikan Arah.

Senator dengan pihak kepolisian, perwakilan dari PT Antam, Agustinus Toko Susentio yang akrab disapa Koko, menjelaskan bahwa operasi ini merupakan kolaborasi lintas instansi. Patroli ini melibatkan personel gabungan dari Polri, TNI, Denpom, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Satpol PP, Linmas, hingga aparat kecamatan setempat.
“Kami berkomitmen menjamin keselamatan dan keamanan wilayah dari ancaman PETI yang jelas-jelas melanggar aturan. Kami berharap operasi gabungan ini memberikan efek jera yang nyata bagi para pelaku,” tegas Koko.
Aktivitas penambangan ilegal ini memang menjadi perhatian serius. Selain merusak kelestarian lingkungan, PETI juga mengancam keselamatan jiwa para pelakunya dan warga sekitar, serta berpotensi mengganggu stabilitas keamanan di kawasan objek vital nasional tersebut.
Berdasarkan pantauan di lapangan, patroli gabungan ini menyisir beberapa titik rawan di antara wilayah Gunung Cibutak, Pasir Jawa, dan Cibendel (Muara Kapur). Petugas yang dilengkapi dengan peralatan seperti linggis, cangkul, palu, dan garpu langsung bergerak membongkar dan merusak lokasi-lokasi yang diduga menjadi sarang persembunyian para penambang pembohong.
Di lokasi tersebut, petugas menemukan tumpukan sampah plastik, botol bekas air minum, serta ribuan karung kosong yang diduga kuat digunakan penambang untuk mengangkut material emas. Tak hanya itu, petugas juga mengidentifikasi adanya aliran air dari hulu lokasi penambangan liar yang mengalir langsung dan diduga kuat mencemari Sungai Cikaniki.
Reporter: Septiawan
Leave a comment