Ketika “Orang Gila” Menasihati Khalifah Harun ar-Rasyid: Saat Kebenaran Tidak Selalu Datang dari Mereka yang Berkuasa
Oleh: Hero Akbar/Moses *)
(KM) — Dalam sejarah peradaban Islam terdapat banyak kisah yang sarat hikmah. Salah satunya adalah dialog antara seorang majnun (orang yang dianggap gila) dengan Khalifah Harun al-Rashid. Meski kisah ini lebih dikenal sebagai cerita hikmah yang diwariskan dalam literatur Islam daripada catatan sejarah yang dapat diverifikasi sepenuhnya, pesan moralnya tetap relevan sepanjang zaman.
Dikisahkan, sang majnun berkata kepada Harun, “Akulah yang berakal.” Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa dirinya memilih tinggal dekat kuburan karena sadar itulah tempat kembali yang kekal, sedangkan manusia justru sibuk membangun istana dan melupakan liang kuburnya. Jawaban itu membuat sang khalifah terdiam.
Pelajaran terbesar dari kisah tersebut bukanlah tentang siapa yang waras dan siapa yang gila. Melainkan tentang betapa tipisnya batas antara kebijaksanaan dan kesombongan. Tidak sedikit orang yang dipandang rendah justru mampu mengingatkan para pemimpin tentang hakikat kehidupan.
Dalam Islam, kemuliaan tidak diukur oleh jabatan, kekuasaan, atau kekayaan. Kemuliaan diukur oleh ketakwaan. Karena itu, nasihat tidak boleh dinilai dari siapa yang mengucapkannya, tetapi dari kebenaran yang dikandungnya.
Di era modern, para pemimpin sering dikelilingi pujian. Kritik dianggap ancaman, sementara suara-suara sederhana dari rakyat kecil kerap diabaikan. Padahal bisa jadi, Allah menghadirkan peringatan melalui lisan orang yang tidak pernah diperhitungkan.
Kisah Harun ar-Rasyid mengajarkan bahwa pemimpin sejati bukanlah yang merasa paling benar, tetapi yang bersedia merendahkan hati untuk mendengar nasihat, meski datang dari sosok yang dianggap tidak memiliki kedudukan.
Bagi masyarakat, kisah ini juga menjadi pengingat agar tidak mudah menilai manusia dari penampilan, status sosial, ataupun gelar. Allah dapat menitipkan hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Pada akhirnya, semua manusia akan meninggalkan singgasana, harta, jabatan, dan popularitas. Yang tersisa hanyalah amal saleh serta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Maka, jangan sampai kita sibuk membangun dunia, tetapi lalai mempersiapkan rumah terakhir di alam kubur.
Sebab terkadang, nasihat paling jujur bukan datang dari mereka yang berkuasa, melainkan dari mereka yang dianggap tidak memiliki apa-apa selain kesadaran akan kefanaan hidup.
*) Pendiri Media Kupas Merdeka
Leave a comment