HILIRISASI BATU BARA: DME vs. Syngas, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Gunawan Adji, Ir., Ph.D.- Wk. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia 2024 – 2027/-Konsultan Governance, Risk & Compliance (GRC)/-Alumni Teknik Kimia ITS

Kolom oleh Gunawan Adji, Ir., Ph.D.*)

 

Selama beberapa tahun terakhir, hilirisasi batu bara di Indonesia hampir identik dengan pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti LPG. Kebijakan tersebut lahir dari keinginan mengurangi ketergantungan impor LPG yang setiap tahun membebani neraca perdagangan dan anggaran negara. Namun berbagai hambatan yang muncul—mulai dari tingginya kebutuhan investasi, tantangan keekonomian proyek, hingga mundurnya investor strategis—menunjukkan bahwa hilirisasi batu bara memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif.

 

Pelajaran penting dari pengalaman tersebut adalah bahwa yang perlu dievaluasi bukanlah teknologi gasifikasi batu bara, melainkan arah hilirisasinya. Selama ini Indonesia terlalu berfokus pada satu produk akhir, yaitu DME, padahal gasifikasi batu bara sesungguhnya menghasilkan syngas (synthetic gas), yaitu campuran hidrogen (H₂) dan karbon monoksida (CO) yang menjadi bahan baku berbagai industri modern.

 

Syngas bukan sekadar gas hasil proses, melainkan platform industri. Dari syngas dapat diproduksi amonia untuk pupuk, metanol, hidrogen, bahan bakar sintetis, petrokimia, hingga DME. Dengan kata lain, setiap pabrik DME membutuhkan syngas, tetapi tidak setiap syngas harus diubah menjadi DME. Perbedaan inilah yang membedakan paradigma lama dan paradigma baru hilirisasi.

 

Secara ekonomi, pendekatan berbasis syngas juga menawarkan keunggulan. Jalur batu bara–syngas hanya memerlukan proses gasifikasi dan pemurnian sebelum digunakan langsung oleh industri. Sebaliknya, jalur batu bara–DME membutuhkan tahapan tambahan berupa sintesis, pemurnian, penyimpanan, dan distribusi. Konsekuensinya, investasi menjadi lebih besar dan kehilangan energi selama proses konversi juga meningkat. Berbagai kajian menunjukkan bahwa efisiensi energi pemanfaatan syngas secara langsung umumnya berada pada kisaran 70–85 persen, sedangkan jalur batu bara menjadi DME berada pada kisaran 50–65 persen, bergantung pada teknologi dan skala pabrik.

 

Perbedaan tersebut bukan berarti DME tidak penting. Sebaliknya, DME tetap memiliki nilai strategis sebagai substitusi LPG impor. Namun jika seluruh strategi hilirisasi hanya bertumpu pada satu produk, maka risiko bisnis menjadi lebih tinggi. Ketika harga LPG dunia turun atau biaya produksi meningkat, proyek DME akan menghadapi tekanan keekonomian yang besar.

 

Sebaliknya, syngas memberikan fleksibilitas yang jauh lebih tinggi. Gas hasil gasifikasi dapat dialirkan langsung ke industri pupuk, metanol, baja, petrokimia, maupun hidrogen. Jika pada masa depan kebutuhan DME meningkat, syngas yang sama tetap dapat dikonversi menjadi DME. Dengan demikian, investasi pada syngas menciptakan banyak pilihan, bukan hanya satu produk.

 

Pengalaman dari negara lain memperlihatkan arah tersebut.

 

China merupakan contoh paling berhasil dalam hilirisasi batu bara. Negara ini tidak menjadikan DME sebagai tujuan utama. Yang dibangun terlebih dahulu adalah industri gasifikasi batu bara dalam skala besar. Syngas kemudian dimanfaatkan untuk memproduksi metanol, amonia, olefin, hidrogen, bahan bakar sintetis, hingga DME sesuai kebutuhan pasar. Pendekatan ini membuat satu fasilitas gasifikasi mampu memasok berbagai industri sekaligus sehingga lebih tahan terhadap perubahan harga komoditas.

 

Di Afrika Selatan, perusahaan Sasol telah membuktikan selama puluhan tahun bahwa syngas mampu menjadi fondasi industrialisasi. Dari syngas dihasilkan bensin sintetis, diesel sintetis, LPG, pelumas, petrokimia, dan berbagai bahan kimia bernilai tinggi. Batu bara tidak lagi diperlakukan sebagai komoditas ekspor semata, tetapi sebagai bahan baku industri nasional.

 

Sementara itu India melalui program nasional gasifikasi batu bara juga mulai mengarahkan syngas untuk memproduksi metanol, amonia, hidrogen, dan bahan kimia. Tujuannya bukan hanya mengurangi impor energi, tetapi juga membangun industri berbasis sumber daya domestik yang memiliki nilai tambah tinggi.

 

Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang tidak kalah besar. Cadangan batu bara kalori rendah yang selama ini kurang diminati pasar justru sangat sesuai untuk gasifikasi. Apabila dibangun kawasan industri di sekitar wilayah tambang, syngas dapat langsung dimanfaatkan oleh industri pupuk, petrokimia, baja, maupun industri kimia lainnya tanpa melalui tahapan konversi tambahan yang mahal. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi energi, tetapi juga memperluas kesempatan investasi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat daya saing industri nasional.

 

Indonesia tampaknya terlalu cepat memilih satu produk hilir, yaitu DME, padahal pengalaman China, Afrika Selatan, dan India menunjukkan bahwa keberhasilan hilirisasi bukan terletak pada memilih satu produk, melainkan membangun Platform Industri Syngas yang mampu menghasilkan banyak produk sesuai kebutuhan pasar. DME tetap penting, tetapi seharusnya diposisikan sebagai salah satu produk dari platform tersebut, bukan satu-satunya tujuan hilirisasi.

 

Indonesia mungkin terlalu cepat menetapkan DME sebagai tujuan akhir, padahal syngas justru merupakan fondasi industrialisasi yang lebih fleksibel dan berdaya saing. Dari satu platform dapat lahir berbagai produk strategis sesuai dinamika pasar, sehingga risiko usaha menjadi lebih kecil dan nilai tambah ekonomi menjadi lebih besar.

 

Sudah saatnya Indonesia menggeser paradigma, dari membangun pabrik DME menuju membangun Platform Industri Syngas. Inilah lompatan strategis yang dapat mengubah batu bara dari sekadar komoditas tambang menjadi fondasi kebangkitan industri nasional.

 

Akhirnya, kalimat berikut patut dipertimbangkan:

 

Jangan membangun satu pabrik DME. Bangunlah Platform Industri Syngas. Dari satu platform, Indonesia dapat melahirkan banyak industri.

 

*)-Wk. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia 2024 – 2027/-Konsultan Governance, Risk & Compliance (GRC)/-Alumni Teknik Kimia ITS

 

Komentar Facebook

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


KUPAS MERDEKA
Privacy Overview

This website uses cookies so that we can provide you with the best user experience possible. Cookie information is stored in your browser and performs functions such as recognising you when you return to our website and helping our team to understand which sections of the website you find most interesting and useful.