Antrean Panjang di Jalur Pertalite, Sejumlah SPBU di Bandung Alami Keterlambatan Pasokan BBM Subsidi
BANDUNG (KM) — Fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) dalam sepekan terakhir berimbas langsung pada kondisi di lapangan. Hasil sampling KupasMerdeka.com di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Bandung menemukan antrean terpanjang justru terjadi di jalur Pertalite, BBM bersubsidi yang menjadi andalan mayoritas konsumen kendaraan roda dua maupun roda empat.
Di salah satu SPBU yang bersedia dikonfirmasi, yakni SPBU nomor 34-401.16, Kepala Shift Yayan mengakui jalur Pertalite menjadi titik dengan volume antrean tertinggi sejak harga BBM bergejolak.
“Pertalite yang subsidi BBM,” ujar Yayan saat ditemui KupasMerdeka.com (6/7/2026), menjawab pertanyaan soal jalur mana yang paling ramai diserbu konsumen.
Yayan yang baru menjabat sebagai kepala shift sejak November lalu — genap tujuh bulan bertugas di SPBU tersebut — menjelaskan operasional dibagi dalam tiga shift: pagi, siang, dan malam, dengan masing-masing shift dipimpin satu kepala shift.
Keterlambatan Pasokan Pertalite
Poin krusial dari hasil konfirmasi ini adalah soal keterlambatan pengiriman BBM bersubsidi. Yayan mengungkapkan, pasokan Pertalite yang semestinya tiba lewat pengiriman ronde kedua pada siang hari, hingga sore saat wawancara berlangsung, belum juga sampai ke SPBU tersebut.
“Di rit dua, cuma belum ada kabar bahwa hari ini udah jalan atau belum, dikirimnya,” kata Yayan. Ia menyebut jadwal kedatangan pasokan mestinya sekitar pukul setengah tiga sore, namun hingga jam tiga lebih belum ada kepastian pengiriman. Yayan mengklaim ini merupakan kali pertama keterlambatan semacam itu terjadi di SPBU-nya.
Soal kuota harian, Yayan menyebut SPBU tersebut menerima pasokan Pertalite sekitar 16 hingga 24 kiloliter (KL) per hari, sementara Pertamax sekitar 8 hingga 18 KL per hari. Adapun untuk BBM jenis Solar bersubsidi, ia memastikan SPBU tersebut tidak melayani penjualannya.
Sebagian SPBU Lain Tolak Dikonfirmasi, Pertalite Kosong
Upaya konfirmasi KupasMerdeka.com ke sejumlah SPBU lain di Kota Bandung pada hari yang sama tidak seluruhnya membuahkan hasil. Beberapa SPBU enggan memberikan keterangan resmi karena manajer, pengawas, maupun kepala shift yang berwenang tidak berada di lokasi saat tim menyambangi.
Di beberapa titik lain, tim menemukan kondisi berbeda: stok Pertalite kosong sama sekali, sehingga konsumen yang datang terpaksa dialihkan atau beralih sendiri ke jalur Pertamax dengan harga non-subsidi. Kondisi ini menambah gambaran bahwa ketersediaan BBM bersubsidi di lapangan tidak merata antar-SPBU, meski KupasMerdeka.com belum memperoleh keterangan resmi dari pengelola SPBU yang mengalami kekosongan tersebut ihwal penyebab pastinya.
Soal SOP Pengisian dan Kalibrasi Nozzle
Dari sisi standar operasional, Yayan memastikan SPBU-nya menerapkan aturan mesin kendaraan wajib dimatikan saat pengisian BBM.
“Kalau di kita sih SOP-nya dimatikan mesin,” jelasnya, menambahkan bahwa operator akan menegur dan berhak menolak melayani pengisian jika pengendara menolak mematikan mesin, khususnya kendaraan roda empat.
Terkait keakuratan takaran, Yayan menyebut kalibrasi nozzle atau meter dispenser dilakukan setahun sekali, dengan bukti stiker tera yang ditempel di setiap unit mesin pompa (dispenser) sebagai penanda telah melalui proses tera ulang dari Metrologi. “Semua, semua,” ucapnya saat ditanya apakah seluruh unit dispenser di SPBU tersebut telah melalui proses kalibrasi yang sama.
Soal pemberian struk transaksi, Yayan menyebut pemberian struk mengikuti SOP: wajib diberikan kepada konsumen kendaraan roda empat maupun kendaraan umum tanpa harus diminta, sementara untuk kendaraan roda dua struk relatif jarang diminta maupun diberikan karena volume transaksi yang tinggi dan berlangsung terus-menerus.
Ia juga menyebut pengisian oleh kendaraan dinas tidak terjadi merata sepanjang hari, melainkan lebih banyak terjadi pada pagi hari dibanding siang.
Hingga berita ini diturunkan, KupasMerdeka.com masih berupaya memperoleh konfirmasi lebih lanjut dari pihak Pertamina Patra Niaga selaku penyalur BBM bersubsidi terkait penyebab keterlambatan distribusi Pertalite di lapangan serta pemerataan kuota antar-SPBU di wilayah Kota Bandung.
Reporter: Drajat, Gin
Leave a comment