Kakak Beradik Akhirnya Buka Suara: Mimpi Memiliki Ayah Berubah Menjadi Neraka Panjang
MAJALENGKA (KM) – Bagi dua orang kakak beradik ini, kehadiran sosok ayah tiri pada awalnya terasa seperti anugerah. Sejak kecil mereka hidup tanpa sosok ayah, setelah ayah kandungnya meninggal dunia pada tahun 2012. Ibu mereka pun harus merantau bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita ke luar negeri demi menghidupi ketiga anaknya.
Ketika ibunya menikah lagi pada tahun 2021, hati kedua anak yang saat itu berusia 10 dan 11 tahun berbunga-bunga. Mereka mengira akhirnya mendapatkan tempat bersandar dan kasih sayang yang selama ini hilang. Namun harapan itu patah hanya dua bulan kemudian, saat ibunya harus kembali berangkat bekerja ke luar negeri.
Baru dua bulan kepergian ibunya, sikap ayah tiri perlahan berubah. Awalnya ia sering memeluk dan menyentuh mereka — hal yang dianggap anak-anak sebagai bentuk perhatian. Namun seiring berjalannya waktu, sentuhan itu menjadi semakin aneh dan melanggar batas. Ia bahkan menggunakan cairan yang dikatakan sebagai minyak atau salep, padahal tujuannya tidak benar.
Tahun 2023 menjadi titik di mana penderitaan berubah menjadi lebih kejam. Kedua anak itu sering diberi makanan atau minuman yang membuat tubuh mereka lemas dan mengantuk. Dalam keadaan tidak berdaya, mereka diperlakukan secara tidak senonoh, bahkan diancam dengan benda tajam agar tidak berani bercerita kepada siapa pun.
Penganiayaan dan kekerasan terjadi berulang kali, di mana saja — di kamar mandi, ruang keluarga, maupun kamar tidur. Setiap kali mereka berusaha menolak, mereka dipukul dan diancam nyawa.
Penderitaan itu berlanjut hingga awal tahun 2025. Tidak tahan lagi, kedua anak itu memberanikan diri kabur dari rumah. Selama lebih dari dua bulan, mereka hidup terlantar di jalan: mengemis demi sesuap nasi dan tidur di bangku emperan toko.
Hingga akhirnya, ibunya yang sudah lama tidak mendapat kabar merasa ada yang tidak beres. Ia memutuskan pulang, dan dari jarak sekitar 150 meter, hatinya remuk redam melihat pemandangan yang tidak pernah dibayangkannya: kedua anaknya sedang meminta belas kasihan di jalan — padahal setiap bulan ia rutin mengirimkan seluruh gajinya untuk kebutuhan mereka.
Di hadapan ibunya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kedua anak itu memberanikan diri membuka suara. Dengan suara bergetar dan air mata yang tak terbendung, mereka menceritakan seluruh penderitaan yang telah mereka alami di tangan orang yang seharusnya melindungi mereka.
Kasus ini kini sedang diusut secara hukum. Pihak GASKAN Andi Muhammad Rifaldy dan tim hukum yang menangani perkara berjanji akan terus mengawal proses ini agar keadilan benar-benar terwujud, dan hak pemulihan kedua anak yang malang ini dapat terpenuhi sepenuhnya.
Reporter: Ari
Leave a comment