“Ilahi Anta Maqsudi Wa Ridhoka Matlubi”: Mengingat Tujuan Hidup untuk Meraih Ridha Allah SWT
Oleh: Hero Akbar/Moses *)
(KM) – Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dengan urusan dunia, umat Islam diingatkan untuk senantiasa kembali kepada tujuan utama penciptaannya, yakni beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Salah satu doa yang sarat makna dan sering diamalkan para ulama serta kaum salihin adalah:
“Ilahi anta maqsudi wa ridhoka matlubi, a’thini mahabbataka wa ma’rifataka.”
Artinya: “Ya Allah, Engkaulah tujuanku dan ridha-Mulah yang aku cari. Anugerahkanlah kepadaku cinta kepada-Mu dan ma’rifat (pengenalan yang mendalam) kepada-Mu.”
Doa tersebut mengandung pesan spiritual yang sangat mendalam. Bahwa tujuan hidup seorang hamba bukanlah semata-mata mengejar kekayaan, jabatan, ataupun pujian manusia, melainkan mencari keridhaan Allah SWT. Ketika ridha Allah menjadi tujuan utama, maka segala aktivitas kehidupan akan bernilai ibadah dan membawa keberkahan.
Para ulama menjelaskan bahwa ketakwaan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah ritual semata, tetapi juga melalui kejujuran, amanah, kepedulian terhadap sesama, serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan kezaliman. Takwa merupakan benteng yang menjaga manusia agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102).
Dalam kehidupan yang penuh ujian, manusia sering kali terlena oleh gemerlap dunia sehingga melupakan hakikat bahwa seluruh kenikmatan hanyalah titipan yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, memperbanyak dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan langkah nyata untuk meningkatkan ketakwaan.
Selain itu, rasa cinta kepada Allah SWT (mahabbah) menjadi kunci utama dalam menjalankan ketaatan. Ketika hati telah dipenuhi cinta kepada Allah, maka ibadah tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan menjadi kebutuhan dan sumber ketenangan jiwa.
Momentum ini hendaknya menjadi pengingat bagi setiap insan agar senantiasa memperbaiki diri, memperkuat iman, serta menjadikan ridha Allah SWT sebagai orientasi utama dalam setiap langkah kehidupan.
Semoga doa “Ilahi anta maqsudi wa ridhoka matlubi, a’thini mahabbataka wa ma’rifataka” tidak hanya menjadi lantunan di lisan, tetapi juga terwujud dalam sikap, perilaku, dan ketakwaan sehari-hari, sehingga kita termasuk golongan hamba yang mendapatkan rahmat dan ridha-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
*) Penulis adalah Aktivis Bogor, Pendiri Media Kupas Merdeka
Leave a comment