Viral Klaim Bahan Pangan Pokok Impor, Netizen Kritik Respons Presiden Soal Dampak Kenaikan Dolar ke Rp17.600
Kolom oleh Hero Akbar/ Moses*)
Unggahan di media sosial yang mengkritik respons Presiden terkait kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap Rupiah hingga menyentuh level Rp17.600 per USD memicu perdebatan publik.
Dalam unggahan tersebut, penulis menyoroti pernyataan Presiden yang dianggap meremehkan dampak ekonomi makro terhadap kehidupan sehari-hari rakyat, khususnya di desa.
Unggahan tersebut beredar luas melalui platform Facebook dan disertai tautan video ulasan di YouTube, yang hingga kini telah ditonton oleh ribuan warganet.
Dalam narasinya, penulis unggahan menegaskan bahwa kenaikan kurs dolar tidak hanya berdampak pada sektor keuangan atau pariwisata, tetapi juga langsung terasa pada harga bahan pangan pokok masyarakat.
“Tahu tempe dari kedelai, bakwan dan gorengan dari gandum, itu semua dari impor, Tuan Presiden!” tulis unggahan tersebut, sebagaimana dikutip dari salah satu media besar itu, Minggu (17/5/2026).
Penulis menekankan bahwa meskipun transaksi harian rakyat menggunakan mata uang Rupiah, struktur produksi makanan sehari-hari di Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Kedelai untuk tahu dan tempe, serta terigu untuk berbagai jenis gorengan seperti bakwan, sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri.
Kritik utama dalam unggahan tersebut ditujukan pada tanggapan Presiden yang seolah-olah menyiratkan bahwa rakyat di pedesaan tidak terdampak oleh melemahnya Rupiah karena tidak melakukan transaksi langsung menggunakan dolar.
“Benar rakyat desa transaksi tak pakai dolar, begitu juga rakyat di kota. Karena mata uang yang berlaku itu Rupiah. Akan tetapi, dampak kenaikan dolar akan membebani seluruh rakyat baik di kota maupun di desa,” jelas penulis unggahan.
Penulis menilai adanya kesenjangan pemahaman antara kebijakan pemerintah dengan realitas ekonomi mikro yang dihadapi masyarakat. Kenaikan kurs dolar dinilai akan meningkatkan biaya impor bahan baku, yang pada akhirnya akan diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual barang kebutuhan pokok (inflasi).
Melalui video ulasan yang disertakan dalam unggahan tersebut, narator mengajak publik untuk memahami mekanisme transmisi nilai tukar terhadap harga domestik. Video tersebut menyoroti bagaimana ketergantungan pada impor bahan pangan membuat daya beli masyarakat rentan terhadap gejolak mata uang global.
“Mengapa Presiden membodohi rakyatnya?” tanya penulis secara retoris, seraya mendesak agar pemerintah lebih transparan dan realistis dalam menyampaikan kondisi ekonomi nasional.
Hingga berita ini diturunkan, Istana Kepresidenan belum mengeluarkan tanggapan resmi terkait viralnya kritik tersebut. Namun, isu ketahanan pangan dan ketergantungan impor kedelai serta gandum memang kerap menjadi sorotan ekonom dan anggota DPR RI dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah sebelumnya telah berupaya mendorong diversifikasi sumber protein lokal dan peningkatan produksi gandum dalam negeri, namun tantangan produktivitas dan preferensi konsumen masih menjadi hambatan utama.
*)- Pendiri kupasmerdeka.com
Leave a comment