Ahli Kebijakan Publik Sorot Dugaan Skandal Korupsi Digitalisasi Pendidikan Era Nadiem, Sebut Kerugian Negara Capai Rp5,2 Triliun
JAKARTA (KM) – Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Dr. Jerry Massie, PhD, melontarkan kritik tajam terkait dugaan skandal korupsi terbesar di sektor pendidikan pada masa kepemimpinan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek).
Jerry menuding adanya abuse of power (penyalahgunaan wewenang) dan korupsi berjamaah dalam program digitalisasi pendidikan, khususnya pengadaan laptop Chromebook, yang diduga merugikan negara hingga mencapai Rp5,2 triliun.
“Korupsi terbesar di bidang pendidikan di era Presiden Jokowi, di mana kerugian negara mencapai Rp5,2 triliun, diduga berasal dari mark-up anggaran pengadaan laptop Chromebook,” ujar Jerry dalam keterangannya, Sabtu (16/5/2026).
Jerry menilai, tindakan tersebut tidak hanya sekadar kesalahan administratif, melainkan bentuk penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Ia juga menyoroti fenomena masifnya penggunaan “buzzer” atau akun-akun pendukung di media sosial seperti Instagram dan X (Twitter) yang gencar membela Nadiem.
“Parahnya lagi, ratusan bahkan ribuan buzzer, berdasarkan riset saya di media sosial, dikerahkan untuk membela Nadiem agar terlihat tak berdosa. Saya duga mereka sudah di-endorse. Mereka kaum yang ‘buta’ soal kerusakan sistem pendidikan,” tegas Jerry.
Menanggapi proses hukum yang beredar, Jerry menyebut bahwa hakim dan jaksa penuntut umum yang jujur telah menjatuhkan putusan berat. Menurutnya, Nadiem sempat divonis 18 tahun penjara, sebelum akhirnya dinaikkan menjadi 27 tahun penjara lantaran dinilai tidak kooperatif dan banyak berkelit selama persidangan.
“Hukumannya diperberat lantaran banyak berkelit di sidang, menghambat pemerataan pendidikan, memperkaya diri sendiri, dan menimbulkan kerugian yang sangat besar,” ungkapnya.
Jerry juga menyinggung pertambahan kekayaan Nadiem yang disebutnya tidak masuk akal, yakni mencapai Rp3,6 triliun selama masa jabatannya.
Selain isu korupsi, Jerry juga mengkritik habis-habisan kebijakan “Kurikulum Merdeka Belajar” yang digaungkan Nadiem. Ia berpendapat bahwa kebijakan tersebut justru merusak fondasi pendidikan dasar.
“Pendidikan rusak di tangannya. Kurikulum Merdeka Belajar bukan membuat pintar, tapi membodohi banyak murid SD sampai SMP yang bahkan tidak bisa membaca. Pramuka dihapus, pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dihapus, dan penyatuan jurusan IPS-IPA yang aneh,” kata Jerry.
Ia juga menyoroti legitimasi terhadap ijazah palsu dan konsep homeschooling yang dianggapnya sebagai bentuk pembisnisan pendidikan oleh mantan CEO Gojek tersebut.
Jerry mempertanyakan kapabilitas Nadiem yang belum pernah memiliki pengalaman langsung sebagai guru, kepala sekolah, dosen, atau rektor sebelum menjabat menteri.
“Parahnya, dia tak pernah mendengar masukan para rektor, tak pernah meminta saran, serta tak pernah berkunjung ke kampus-kampus. Staf ahlinya pun diisi oleh anak-anak ingusan,” ujarnya.
Dampak dari kepemimpinan tersebut, menurut Jerry, tercermin dari penurunan kualitas sumber daya manusia Indonesia, termasuk indeks IQ yang disebutnya terendah di dunia.
“Menteri Pendidikan dan Ristek paling buruk dalam sejarah,” pungkas Jerry.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Nadiem Makarim maupun Kementerian Koperasi dan UKM terkait tuduhan spesifik yang dilontarkan oleh Dr. Jerry Massie.
Leave a comment